RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pasca banjir bandang yang menerjang pada Sabtu, 20 Desember 2025 lalu.
Selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Kawasan Guci Tegal kehilangan 12.149 pelancong.
Berdasarkan data Dinas Pemuda Olahraga, dan Pariwasata (Disporapar) Jawa Tengah (Jateng) terjadi penurunan tingkat kunjungan wisatawan ke Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal hingga 33,93 persen selama libur Nataru 2025/2026.
Pada periode 21 Desember 2024 - 2 Januari 2025 ada 35.798 pelancong yang berkunjung. Namun sejak 21 Desember 2025 - 2 Januari 2026 hanya ada 23.649 wisatawan yang berkunjung.
Sebab itu jika dibandingkan dengan periode yang sama, saat Nataru 2024/2025 dengan Nataru 2025/2026, wisata Pemandian Air Panas Guci kehilangan 12.149 pelancong.
Kepala Disporapar Jawa Tengah Muhamad Masrofi menjelaskan yang terdampak banjir bandang hanyalah kolam air panas Pancuran 13. Tempat wisata lainnya tetap dibuka.
"Lokasi wisata yang ada di Guci itu dibuka, hanya Pancuran 13 itu tidak bisa digunakan karena kena lokasi banjir. Tapi lokasi yang lainnya, pancuran kelima dan lain sebagainya masih bisa digunakan, masih bisa dikunjungi wisatawan," kata Masrofi.
Pihaknya menyebut kolam air panas Pancuran 13 belum bisa digunakan karena terdampak banjir bandang paling parah. Kemudian untuk Pancuran Lima sudah diperbaiki dan bisa dikunjungi.
"Lokasi lainnya aman, hotelnya, vila-vila, lokasi air panas lainnya aman," tegasnya.
Pihaknya mengaku hingga kini kolam air panas Pancuran 13 masih dalam proses perbaikan. Masrofi juga memastikan pengamanan bagi wisatawan.
"Karena ada kejadian banjir besar itu sehingga kita mitigasi, kita memberikan pengamanan yang ekstra untuk kenyamanan daripada kunjungan wisata di Guci," bebernya.
Diketahui, biasanya Pemandian Air Panas Guci masuk 10 besar daya tarik wisata (DTW) paling banyak dikunjungi selama liburan di Jateng.
Kendati demikian pada libur Nataru 2025/2026 ini jumlah wisatawan menurun, diduga karena adanya banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu. Sehingga merusak sejumlah lokasi wisata. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi