RADARSEMARANG.ID – Jumlah kelahiran di Korea Selatan diperkirakan akan melampaui 250.000 bayi pada tahun 2025, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.
Jika tercapai, angka ini akan kembali ke level tahun 2022 sekaligus menandai dua tahun berturut-turut peningkatan angka kelahiran—fenomena yang terakhir terjadi lebih dari satu dekade lalu.
Berdasarkan data Badan Statistik Nasional Korea Selatan, jumlah kelahiran kumulatif dari Januari hingga Oktober tahun ini mencapai 212.998 bayi, meningkat 6,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan catatan kelahiran pada November dan Desember masing-masing melebihi 18.500, total kelahiran tahunan dipastikan melampaui 250.000.
Sepanjang tahun ini, hanya bulan Juni yang mencatat angka kelahiran di bawah 20.000, yakni 19.953 kelahiran.
Sebagai perbandingan, Korea Selatan pernah mencatat puncak kelahiran pada 2015 dengan 438.420 bayi, sebelum mengalami penurunan tajam selama hampir satu dekade. Angka kelahiran terus merosot hingga mencapai titik terendah pada 2023 dengan 230.028 bayi.
Namun, tren tersebut mulai berbalik pada 2024 dengan 238.317 kelahiran, dan diperkirakan kembali meningkat pada 2025. Para analis menilai kenaikan ini berkaitan erat dengan meningkatnya jumlah pernikahan, khususnya pernikahan yang sebelumnya tertunda akibat pandemi COVID-19.
Seorang pejabat lembaga statistik menyebutkan bahwa peningkatan pernikahan telah berlangsung selama 19 bulan berturut-turut. Selain itu, bertambahnya populasi usia awal 30-an turut mendorong kenaikan angka kelahiran.
Meski demikian, Korea Selatan masih menghadapi tantangan serius akibat penurunan populasi, seperti menyusutnya angkatan kerja, melemahnya sistem pensiun, penurunan konsumsi domestik, hingga berkurangnya vitalitas wilayah pedesaan. Oleh karena itu, peningkatan angka kelahiran selama dua tahun berturut-turut ini dipandang sebagai sinyal positif yang dapat menunda risiko “jurang demografis” di masa depan.
Editor : Baskoro Septiadi