Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sempat Viral Lecehkan Teks Proklamasi, Kini Syakir Daulay Bikin Kontroversi dengan Video Berlatar Belakang Bendera GAM

Tasropi • Senin, 8 Desember 2025 | 20:20 WIB
Sempat Viral Lecehkan Teks Proklamasi, Kini Syakir Daulay Bikin Kontroversi dengan Video Berlatar Belakang Bendera GAM.
Sempat Viral Lecehkan Teks Proklamasi, Kini Syakir Daulay Bikin Kontroversi dengan Video Berlatar Belakang Bendera GAM.

RADARSEMARANG.ID, AKTOR dan sutradara muda Syakir Daulay kembali menjadi sorotan publik setelah aksi kemanusiaannya di tengah bencana banjir bandang di Sumatera.

Kali ini, bukan karena prestasi, melainkan kontroversi yang dipicu video viral berlatar belakang bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Insiden ini mengingatkan pada masa lalu Syakir yang sempat viral karena diduga melecehkan teks Proklamasi Kemerdekaan RI pada 2023.

Di tengah duka warga Aceh yang masih bergulat dengan lumpur dan kehilangan, aksi sosial Syakir justru berujung tudingan dukung separatisme.

Berawal Aksi Sosial di Tengah Banjir Dahsyat Sumatera

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 telah menewaskan lebih dari 900 jiwa, dengan ribuan lainnya luka-luka atau hilang.

BNPB mencatat 1,45 juta warga Aceh terdampak, di mana ratusan desa lenyap berubah menjadi aliran sungai akibat deforestasi dan curah hujan ekstrem.

Infrastruktur seperti jembatan dan jalan lintas Sumatera rusak parah, meninggalkan banyak wilayah terisolir.

Di tengah keterlambatan bantuan resmi, Syakir Daulay, 23 tahun, turun tangan.

Pada 7 Desember, ia tiba di Aceh Tamiang dengan perahu gantung dan karet untuk membagikan makanan, obat-obatan, serta dana galangan ke korban yang belum tersentuh pemerintah.

"Syakir kehabisan tenaga setelah rogoh kocek sendiri dan galang dana," ujar kakaknya, Zikri Daulay, di Jakarta.

Aksi ini awalnya dipuji netizen sebagai bentuk solidaritas selebriti, tapi segera berbalik menjadi badai kritik.

Kontroversi Bendera GAM: Kesalahpahaman atau Provokasi?

Puncak kontroversi meledak ketika video pendek beredar di media sosial.

Dalam rekaman itu, Syakir terlihat membagikan bantuan di tengah genangan banjir, tapi latar belakangnya menampilkan bendera GAM—simbol perjuangan kemerdekaan Aceh yang dilarang sejak MoU Helsinki 2005.

Bendera berwarna hitam dengan bulan sabit putih itu langsung memicu tudingan bahwa Syakir sengaja memprovokasi isu separatisme di Aceh yang masih sensitif pasca-konflik.

Netizen ramai menyerang: "Bantuan kemanusiaan kok malah angkat simbol terlarang? Ini provokasi!" tulis salah satu akun di X (sebelumnya Twitter).

Video tersebut, yang diunggah oleh pihak ketiga, ditonton jutaan kali dalam hitungan jam.

Beberapa pihak bahkan menyerukan boikot terhadap Syakir, mengaitkannya dengan trauma sejarah GAM yang pernah menewaskan ribuan nyawa.

Zikri Daulay buru-buru mengklarifikasi. "Itu video milik orang lain, bukan rekaman tim Syakir. Kami tidak ada niat politik sama sekali. Syakir fokus bantu warga, bukan dukung GAM," tegasnya.

Syakir sendiri, yang meninggalkan Aceh sejak kecil, menekankan: "Niat saya hanya kemanusiaan atas nama rakyat Indonesia. Aceh adalah tanah air saya juga."

 Hingga kini, tidak ada tindak lanjut hukum dari aparat, tapi insiden ini menyoroti betapa rapuhnya solidaritas di tengah bencana—di mana isu politik lama bisa meledak kapan saja.

Flashback 2023: Trauma Parodi Teks Proklamasi yang Belum Hilang

Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Syakir. Dua tahun lalu, pada Agustus 2023, ia viral karena video promosi film Imam Tanpa Makmum.

 Berpakaian ala Soekarno—peci hitam dan safari putih—Syakir membacakan teks Proklamasi, tapi dengan kalimat absurd seperti "Kami jomblo-jomblo bangsa Indonesia menyatakan keprihatinan kami terhadap perfilman Indonesia."

 Latar bendera merah putih dan gaya tiruan Bung Karno membuatnya dituduh melecehkan momen sakral kemerdekaan.Reaksi publik meledak.

Relawan Indonesia Bersatu (RIB) menyomasi Syakir, menuntut maaf dan "cium bendera Merah Putih selama 24 jam" sebagai hukuman simbolis.

Ikatan Alumni Universitas Bung Karno (UBK) dan Pengurus Advokat Perkumpulan Pengacara Islam (PPIPHI) bahkan mengadu ke polisi, menyebutnya "penodaan cita-cita perjuangan."

Filmnya pun diadukan ke Lembaga Sensor Film (LSF), meski akhirnya lolos sensor.

Syakir minta maaf lewat Instagram: "Gak ada niat melecehkan. Saya cinta Bung Karno dan ingin bangkitkan semangat kemerdekaan di anak muda. Mohon maaf sebesar-besarnya."

 Ia mengakui kontennya "tidak sempurna" dan berdoa, "Ya Allah, ada aja ujiannya." Meski demikian, tudingan itu melekat, membuat citra Syakir sebagai aktor muda inspiratif (penghargaan Anugerah Syiar Ramadhan 2020) tercoreng.

Dampak dan Pelajaran: Selebriti di Garis Tipis Kontroversi

Kedua insiden ini menunjukkan pola: niat baik Syakir—entah promosi film atau bantu banjir—sering berujung salah paham karena elemen simbolis yang sensitif.

Di era media sosial, video pendek bisa viral dalam sekejap, tapi juga mudah dimanipulasi.

Psikolog sosial menilai, "Syakir perlu lebih hati-hati dengan konteks budaya dan sejarah Indonesia yang berlapis.

"Bagi Syakir, ini mungkin "ujian" ketiga. Dari aktor Cinta Fitri hingga sutradara, ia telah rogoh Rp8 miliar untuk film pertamanya.

Kini, di tengah banjir Sumatera, aksi sosialnya seharusnya jadi inspirasi.

Tapi, seperti kata Zikri, "Fokuslah pada niat baik, biar haters bicara sendiri."Apakah Syakir akan belajar dari ini? Atau kontroversi berikutnya menanti?

Publik menunggu klarifikasi lebih lanjut dari sang aktor. Sementara itu, doa untuk korban banjir Sumatera tetap yang utama—semoga bencana ini jadi titik balik untuk mitigasi lingkungan, bukan arena politik. (tas)

Editor : Tasropi
#syakir daulay #gerakan aceh merdeka #Proklamasi Kemerdekaan RI #banjir sumatera #bendera gam #isu separatisme