Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

1,6 Juta Lulusan SMK Menganggur, Lewat SMK Go Global Pemerintah Siapkan 500 Ribu Lulusan Kerja ke Luar Negeri, Ini Negaranya

Khafifah Arini Putri • Jumat, 5 Desember 2025 | 12:22 WIB

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison dalam acara Workshop Kepala Sekolah SMK untuk Program SMK Go Global di Hotel Tentrem.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison dalam acara Workshop Kepala Sekolah SMK untuk Program SMK Go Global di Hotel Tentrem.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia menjadi yang tertinggi. Jumlahnya mencapai 1,6 juta orang.

Melalui SMK Go Global, pemerintah berupaya menciptakan lapangan kerja. Program ini khusus menyasar lulusan SMK. Tujuannya, agar mereka bisa bekerja dan bersaing di luar negeri. Targetnya, 500 ribu pekerja akan disiapkan. Mereka akan dilatih skill, bahasa, hingga mentalitasnya.

"Sekitar 500 ribu pekerja yang akan kita siapkan skill-nya, siapkan skill bahasanya, siapkan juga kesiapan mental dan pengetahuan budaya negara (tujuan)," kata Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison dalam acara Workshop Kepala Sekolah SMK untuk Program SMK Go Global di Hotel Tentrem, Kamis (4/12).

Sejumlah negara telah disiapkan sebagai tujuan. Diantaranya Jepang , negara di Eropa seperti Jerman, lalu Turki Slovakia, Singapura, hingga Uni Emirat Arab. Profesi yang dibutuhkan pun beragam, mulai dari caregiver, hospitality, welder, dan lain sebagainya.

"Sebenarnya banyak talenta Indonesia yang skill-nya itu baik dan high skill di sana. Jadi kita target kita juga profesi yang memang mempunyai skill," tegasnya.

Menurutnya, banyak lulusan SMK yang sebenarnya punya talenta besar. Namun butuh dorongan. Butuh akses informasi kerja yang valid. Dan butuh jaminan agar tidak terjebak praktik penipuan atau TPPO.

“Kita harus rajin turun ke lapangan,” ujarnya.

Pemerintah, kata dia, tidak ingin informasi kerja diisi hoaks. Karena itu workshop ini mempertemukan sekolah dengan mitra resmi. Mulai dari Jepang, JIKA Expert, hingga Asosiasi Penyelenggara Pemagangan Indonesia.

Kegiatan juga memaparkan tentang kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan. Dari kurikulum, kompetensi bahasa, hingga etika kerja. Sehingga lulusan SMK ini bisa diterima di pasar global.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah, Sadimin, menambahkan SMK harus berani meningkatkan kualitas. Mulai sinkronisasi kurikulum, magang industri, hingga pembukaan kelas bahasa asing. Karena itu Jateng menargetkan semua SMK punya kelas bahasa Inggris, Jepang, Korea, atau Mandarin sesuai kebutuhan pasar.

"Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam membuka ruang bagi lulusan SMK untuk berkompetisi dan berkiprah di global. Melalui peningkatan keterampilan teknis, penguasaan bahasa asing dan kemampuan adaptasi lintas budaya," ungkap Sadimin.

Program SMK Go Global diharapkan menjadi gerakan nyata. Bukan sekadar seremoni. Pemerintah daerah, sekolah, hingga industri didorong mempercepat persiapan tenaga kerja global dari Jawa Tengah.

"Pemerintah Provinsi terus mendorong sinkronisasi kurikulum antara SMK dengan industri," pungkasnya. (kap)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#tingkat pengangguran terbuka (TPT) #SMK Go Global #lapangan kerja #sekolah menengah kejuruan