Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Lestarikan Air, Unnes Lakukan Tawu di Sendang Alit Kalisegoro

Adennyar Wicaksono • Kamis, 4 Desember 2025 | 12:38 WIB
LESTARI : Unnes ketika melakukan kegiatan Tawu Sendang di Kalisegoro
LESTARI : Unnes ketika melakukan kegiatan Tawu Sendang di Kalisegoro

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Upaya melestarikan air coba dilakukan Universitas Negeri Semarang (Unnes),dengan menggelar tradisi Tawu Sendang di Sendang Alit, di Jalan Sekar Gading Kalisegoro.

Aroma kemenyan, taburan bunga, serta langkah pelan para penari mengiringi arak-arakan sesaji dari Asrama Mahasiswa Unnes menuju sendang, serta melakukan ritual membersihkan dan merawat mata air sebagai bentuk penghormatan pada alam dan pelestarian sumber air yang menyokong kehidupan warga sekitar.

Sementara bagi masyarakat Jawa, istilah Tawu bermakna resik-resik, membersihkan sesuatu yang dianggap suci sekaligus vital bagi keberlangsungan hidup. 

"Air adalah sumber kehidupan, sekaligus kita mengingat manusia harus bersahabat dengan alam termasuk air. Jadi beri jalan yang baik dan bersih untuk air, maka air akan memberi kebaikan bagi kita," kata Rektor Unnes, Prof. S. Martono usai prosesi Tawu Sendang Alit, Rabu (3/12).

Dia menjelaskan, di wilayah Sekaran sampai Banaran Gunungpati ada lebih dari 10 sendang yang selama ini menjadi sumber kebutuhan warga.

Sayangnya banyak yang mulai rusak, karena pemanfaatan berlebihan, terutama pemasangan pipa-pipa sedot oleh warga secara mandiri.

"Kita kedepan berkoodinasi dengan Pemkot untuk menyatukan pipa-pipa menjadi saluran resmi yang adil. Selama ini siapa yang pompanya kuat, dia yang dapat banyak,"tegasnya.

Martono juga  menyinggung bahwa beberapa waktu terakhir kampus kerap mengalami banjir karena saluran air tidak dirawat.

Dari sini muncul gagasan Tawu Sendang, sebagai upaya memulihkan hubungan manusia dengan air.

"Sendang Sekar Gading, atau Sendang Alit, bukan sembarang mata air. Ia menyimpan jejak sejarah panjang yang merentang hingga abad ke-15," jelasnya.

Dari kisah turun temurun yang ada, sendang ini menjadi tempat pertemuan Ki Sekar, sesepuh Sekaran, dengan Sunan Kalijaga dalam misi mencari kayu jati yang hilang, yakni kayu yang kelak menjadi penyangga Masjid Agung Demak.

Selain bernilai spiritual, sendang ini dahulu merupakan urat nadi kehidupan warga. Pagi hari, para ibu mengambil air dengan klenthing, sementara sore harinya anak-anak mandi dan para peternak memberi minum hewan. Sendang bukan hanya sumber air, tetapi pusat interaksi sosial.

"Konservasi adalah salah satu butir visi Unnes. Tawu Sendang menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga lingkungan," tambah dia.

Dalam kesempatan itu, Martono juga melakukan penanaman pohon, termasuk pohon gayam, serta menebar 4.000 ekor ikan di area sendang untuk menjaga ekosistem.Martono mengungkapkan rencana besar pengelolaan air di lingkungan kampus.

"Targetnya Unnes punya tiga embung kecil untuk mengatur air. Saat kemarau dipakai menyiram tanaman, saat hujan bisa menampung air agar tidak liar," pungkasnya.

Perwakilan Pemprov Jawa Tengah, Sarwo Rini dari Biro Infrastruktur Sumber Daya Alam, turut hadir dan memberi apresiasi, dan berharap ini bisa diterapkan di seluruhnya Jawa Tengah.

Dia menilai, Unnes memiliki peran penting sebagai pusat edukasi dan pembentuk kesadaran konservasi.

"Unnes sudah menerapkan pengolahan sampah dan konservasi air secara serius. Ini luar biasa, dia berharap model pengelolaan sendang semacam ini dapat menjadi solusi atas persoalan air bersih di banyak daerah," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#UNNES