Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Robetmi Jumpakita Pinem, Pejuang Beasiswa yang Menjadikan Kutipan Film 5 CM sebagai Kompas Hidup

Khafifah Arini Putri • Senin, 1 Desember 2025 | 16:55 WIB
Penerima beasiswa NCS yang kini bernama Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB, MBA, Ph.D., saat ini berkiprah menjadi akademisi Undip Semarang.
Penerima beasiswa NCS yang kini bernama Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB, MBA, Ph.D., saat ini berkiprah menjadi akademisi Undip Semarang.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Bayangkan seorang anak petani dari ladang jagung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang harus berjuang dari nol. Kini, dia berdiri dengan tiga gelar dari tiga negara berbeda. Tentunya dengan segudang prestasi akademik yang gemilang. Dialah Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB, MBA, Ph.D. Robetmi, sapaan akrabnya, menjadi bukti nyata, keterbatasan ekonomi bukan halangan untuk meraih mimpi setinggi langit.

Robetmi ini bisa diibaratkan sebagai tipikal pejuang sejati. Setelah gagal menjadi dokter, ia punya second option. Robetmi pun memantapkan hati memilih jurusan Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU).

Prinsipnya tegas, "Apapun itu, kerjakan dengan sepenuh hati," ungkapnya.

Filosofi hidup yang paling melekat padanya ia petik dari kisah inspiratif.

"Kalau kamu punya mimpi, letakkan 5 cm di depan dahi kamu, biar kemana pun kamu pergi, kamu fokus dengan itu (tujuan)," kata Robetmi.

Kutipan yang masyhur dari film 5 cm ini dipegangnya dengan teguh. Setiap kali ingin lengah, Robetmi akan teringat cita-cita yang mengambang di depan keningnya.

Robetmi memulai perjalanannya di Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2009. Di semester ketiga, hidupnya berubah total ketika ia menerima beasiswa National Champion Scholarship (NCS), yang kini dikenal sebagai Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.

Bukan sekadar bantuan finansial yang ia dapat. Beasiswa ini menjadi jendela pertamanya melihat dunia. Tiga kali ia mengikuti gathering nasional, dua di antaranya sebagai Ketua Tanoto Scholarship Association (TSA) Medan.

"Pertama ke Puncak Bogor, lalu ke Pusat Pendidikan Infanteri Bandung yang super disiplin, dan terakhir kembali ke Puncak. Yang paling berkesan justru di Bandung. Kami hidup ala militer sungguhan, mandi di barak, tidur di barak, disiplin ketat. Tapi justru di situlah karakter kami ditempa," akunya.

Bagi Robetmi, beasiswa ini tidak hanya memberikan kebebasan finansial. Tetapi juga meningkatkan soft skill seperti kemampuan melobi dan komunikasi. Pengalaman sulit selama kuliah dan menjadi pejuang beasiswa membawanya pada pemahaman yang utuh tentang perjuangan hidup.

Selain motivasi pribadi, ada satu pesan mendalam dari pendiri Tanoto Foundation, Sukanto Tanoto, yang menancap kuat di hatinya. Bahkan menjadi pedoman utama dalam hidup Robet hingga kini.

"Prinsip Pak Sukanto yang selalu saya pegang erat-erat. Beliau berkata, apa yang sudah kita terima sebagai scholar, jangan dikembalikan ke kami. Tapi berikan lagi kepada orang lain yang membutuhkan," tegasnya.

Pesan ini bukan sekadar retorika, tapi menggerakkannya untuk beraksi, bahkan sebelum ia menyandang gelar sarjana. Sejak menjadi penerima beasiswa, Robetmi sudah aktif menerjemahkan nilai tersebut. Ia tak menunggu disuruh. Sebagai Ketua TSA Medan, ia menginisiasi program bakti sosial, mulai dari kunjungan panti asuhan bagi korban gempa Aceh dan Nias hingga mengorganisir donor darah, bekerja sama dengan PMI Medan.

"Orang baik itu sebenarnya banyak. Tapi yang bisa meng-organize kebaikan itu yang seringkali kurang. Saya coba buat event, dan hasilnya luar biasa. Donasi mengalir jauh melebihi ekspektasi, dari pakaian layak pakai, beras, mie instan, hingga buku-buku dan alat tulis," bebernya.

Setelah meraih gelar S1 dengan IPK nyaris sempurna 3.95, Robetmi melanjutkan perjalanan akademisnya ke National Taiwan University of Science and Technology untuk program MBA. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Beasiswa yang diterimanya parsial. Karena itulah Robetmi harus bekerja part time sambil kuliah.

"Jadi asisten profesor, kerja di restoran, sampai bagi-bagi selebaran, semua dilakukan. Yang dipikirkan jangan sampai minus, kalau bisa surplus," kenangnya.

Robetmi bahkan harus bekerja di restoran mulai pukul 06.30 hingga 21.00 diwaktu weekend untuk bertahan hidup tanpa menyusahkan orang tua.

"Kaki sampai berkerut putih karena terus-terusan basah. Tapi besoknya, harus bangun dan berangkat lagi. Butuh endurance dan persistensi," ujarnya.

Robetmi tak pernah melupakan akarnya. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, putra dari pasangan petani sederhana yang hanya tamat SD.

"Bapak bilang, saya (ayah Robetmi) tidak sekolah karena ekonomi keluarga. Tapi saya akan berjuang agar anak-anakku bisa sekolah," kata Robetmi.

Ia pun menceritakan Ayahnya rela menjual ladang agar ia bisa melanjutkan kuliah ke Taiwan. Bagi ayahnya, pendidikan menjadi salah satu cara mengubah kehidupan.

"Sampai-sampai, untuk biaya S2 saya ke Taiwan, ladang dijual. Itu keyakinannya, pendidikan adalah jalan satu-satunya," ungkapnya.

Keyakinan itulah yang kini ia buktikan. Dari anak petani sederhana, kini ia menjadi dosen, juga sebagai Sekretaris Program Studi Administrasi Bisnis di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Ia baru saja merampungkan pendidikan tinggi jenjang doktoral (Ph.D) di Kangwon National University, Korea Selatan (2022-2025).

Kini, sebagai akademisi di Undip, nilai-nilai yang ditanamkan Tanoto Foundation terus hidup dalam dirinya. Empati, kemampuan berkomunikasi, dan semangat berbagi ia tularkan kepada mahasiswanya.

"Bagi kalian penerima beasiswa, jadilah contoh. Jangan pelit berbagi. Ilmu, pengalaman, apapun. Karena kebaikan yang berantai akan menciptakan dampak yang besar bagi masyarakat," pesannya pada generasi muda. (kap)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Beasiswa Teladan #Film 5 cm #Universitas Sumatera Utara (USU) #Universitas Diponegoro #tanoto foundation