RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di tengah derasnya arus digital, fungsi gawai pelan-pelan berubah, dari alat hiburan menjadi “pengasuh pengganti” di banyak rumah.
Tak sedikit balita, bahkan yang baru bisa berjalan, lebih akrab dengan layar ketimbang pelukan dan cerita dari orang tuanya.
Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2023, prevalensi speech delay atau keterlambatan bicara di Indonesia mencapai 5-8 persen. Artinya sekitar 5-8 dari 100 anak usia pra sekolah mengalami keterlambatan bicara. Mayoritas penyebabnya ialah kecandauan gawai.
Fenomena ini tentu meresahkan. Terutama bagi para orang tua. Apalagi di masa emas anak-anak, khususnya usia 0-3 tahun. Mereka seharusnya mengeksplorasi dunia nyata, bukan dunia layar. Anak-anak harusnya mendapatkan stimulasi motorik, bukan malah terpaku pada gawai yang membuat tubuhnya pasif.
Kekhawatiran itu pula yang menghantui orang tua muda dari Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Mereka adalah Hamdan Ikhwan Wicaksana dan Fina Idamatussilmi. Keduanya berusia 26 tahun.
Pasangan muda ini sama-sama belajar tentang parenting. Putri pertama mereka kini berusia dua tahun. Namanya, Syafiqa Aliyah Jazilah, atau biasa disapa Aliyah.
Hamdan dan Fina berjibaku dengan pola pengasuhan anak tanpa gawai. Masih awam, mereka terus meraba, mencari informasi tentang parenting yang baik. Saat itu, keduanya masih belajar menjadi orang tua baru. Minim pengalaman dan penuh ketidakpastian. Hingga akhirnya mereka pun menemukan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Kota Semarang. Seperti cahaya dalam gelap. Rumah Anak SIGAP, bak menjadi penyelamat di masa tumbuh kembang kehidupan anaknya.
Ditemui di rumahnya di Jalan Lodan, Fina dan Hamdan sedang asyik bermain bersama Aliyah. Beralaskan lantai, di ruang tamu rumahnya, mereka belajar tentang perkembangan kognitif dengan mengenal hewan dan memahami warna lewat buku cerita.
"Ini warna biru, ini kuning," kata Aliyah sembari menunjuk buku cerita.
Keluarga kecil ini juga bermain masak-masakan, kesukaan Aliyah. Melalui cara ini, Fina mengajarkan pembelajaran kontekstual sejak dini pada putrinya. Mereka bermain peran, Aliyah seakan menjadi penjual, dan Fina membeli dagangannya.
"Ibu ini harganya seribu, ibu mau yang mana?," ucap Aliyah, sembari memberikan ikan mainan pada ibunya.
Fina pun bercerita awal mula mengetahui Rumah Anak SIGAP dari teman suaminya. Kala itu Aliyah baru berusia enam bulan.
"Suami bilang, cobain dulu saja, dan pertama kali datang ternyata nyaman. Awalnya saya mendapatkan ilmu parenting karena anaknya masih kecil, diajari stimulasi dini, perkembangan motorik kasar pada anak, sensorik, komunikasi, dan masih banyak lagi," kata Fina.
Seiring berjalannya waktu, Aliyah pun tumbuh besar. Ruangan di Rumah Anak SIGAP yang penuh mainan edukatif, buku, dan kelompok bermain dengan teman sebaya membuatnya betah. Dari situlah perjalanan baru dimulai.
"Yang pertama, anak yang penting nyaman. Di Rumah Anak SIGAP, fasilitasnya memenuhi, banyak mainan edukatif, ada buku-buku, dan teman-temannya seumuran," imbuhnya.
Setiap bulan, Fina juga mengikuti kelas parenting bersama orang tua lain. Materi-materi yang dibawakan sederhana, relevan, dan langsung menyentuh persoalan sehari-hari.
“Saya benar-benar dapat manfaat dari kelas parenting di Rumah Anak SIGAP. Misalnya kalau anak tantrum jangan ikut marah. Biarkan dulu dia mengekspresikan perasaannya. Kalau sudah tenang baru dipeluk, ditanya alasannya menangis, dan maunya apa," ungkap Fina.
Cara memberi makan yang benar, membangun kedekatan emosional hingga mendampingi anak bersosialisasi, semua ia pelajari di Rumah Anak SIGAP. Perubahan paling terlihat, menurutnya, adalah keberanian Aliyah ketika bertemu orang baru.
“Sekarang, Aliyah malah sering duluan menyapa orang-orang. Dia lebih berani dan tidak takut sama orang lain," bebernya.
Dibanding anak seumurannya yang tak ikut belajar di Rumah Anak SIGAP. Fina mengaku komunikasi putrinya lebih lancar.
"Komunikasinya lancar, bisa diajak ngobrol dan gampang nyambung. Kalau anak yang tidak ikut Rumah Anak SIGAP ini mereka biasanya masih takut dan malu-malu," tambahnya.
Fina menyebut parenting terkait meminamilisir penggunaan gawai pada anak juga dipelajari di Rumah Anak SIGAP. Prinsip pengasuhan yang diterimanya sangat relevan untuk mencegah ketergantungan pada layar. Kunci utamanya adalah memberikan alternatif aktivitas yang lebih menarik dan interaktif bagi anak.
Fina mengaku, dengan penerapan pengasuhan itu, Aliyah jarang bermain gadget. Kalaupun terpaksa harus dipegangi gawai, itupun hanya 10 menit ketika ditinggal salat Maghrib. Ibu satu anak ini juga memberikan konten yang edukatif. Sebab, ia paham betul, jika anak kecanduan gawai akan berujung pada speech delay.
"Kalaupun terpaksa harus dikasih handphone itu ketika saya salat Maghrib, itupun 10 menit. Yang saya kaget, justru Aliyah malah jadi hafal kosa kata, karena saya berikan konten lagu-lagu anak yang edukatif," jawab Fina.
Dari sini pengasuhan yang setara antara ayah dan ibu sangat diperlukan. Kolaborasi antara Fina dan Hamdan memegang peranan sentral. Mereka membentuk tim yang kompak untuk memastikan Aliyah tidak terpapar gawai secara berlebihan.
Inilah yang membuat perjalanan Aliyah berbeda dengan teman sebayanya, kehadiran sang Ayah disetiap tumbuh kembangnya. Hamdan menolak menjadi sekadar pencari nafkah. Ia terlibat langsung, dari memandikan, mengganti popok, membuatkan susu, hingga mengantar ke posyandu ketika diperlukan. Bahkan tak jarang Hamdan yang mendatangi kuliah umum tentang parenting di Rumah Anak SIGAP.
“Kita punya anak ya kita harus terlibat. Itu anak kandung kita, bukan anak orang lain. Momen kedekatan cuma sekali, nanti enggak bisa diulang. Apalagi di masa-masa golden age seperti Aliyah, tumbuh kembangnya harus maksimal,” tegas Hamdan.
Pembagian peran pun jelas, pagi bersama ayah, malam bersama ibu. Tidak ada aturan ganda. Jika ibu melarang, ayah pun mendukung. Terutama berkaitan dengan pola makan, konsumsi es krim atau snack kemasan, pengaturan jam tidur, dan durasi layar gadget. Kunci lain, menurut Hamdan, adalah keterlibatan ayah dan ibu secara seimbang.
“Mayoritas anak-anak sekarang sering dikasih handphone karena orang tua sibuk. Tapi kita tidak melakukan itu, kita tahu kecanduan gadget pada anak bisa menyebabkan speech delay, jadi orang tua harus terlibat," ungkapnya.
Berbekal pola pengasuhan yang mereka terapkan dari Rumah Anak SIGAP. Di masa tumbuh kembangnya, Aliyah justru lebih tertarik pada aktivitas fisik. Seperti bersepeda, bermain masak-masakan, main jual-jualan, hingga mengantar pesanan ikan-ikanan ke ayah dan ibunya. Banyak aktivitas, sedikit layar, itulah kunci yang pasangan muda ini terapkan.
Bagi Hamdan dan Fina, Rumah Anak SIGAP bukan sekadar tempat belajar anak. Lebih dari itu, tempat ini mendidik orang tua agar menjadi pengganti gawai yang efektif, memberi perhatian, panduan, dan interaksi langsung.
“Anak itu tumbuhnya cepat. Jika kita tidak memanfaatkan waktu untuk mendekat, kita akan menyesal. Peran orang tua sangat penting, terutama ayah, untuk membangun kedekatan emosional pada anak sejak dini,” tegas Hamdan.
Pengasuhan Anak Jadi Kerja Tim Orang Tua
Kisah serupa juga datang dari Kampung Gisikrejo, Kelurahan Bandarharjo. Alih-alih menyerahkan anak pada gawai, pasangan Siti Minar Halimah dan Aulia Rahman memilih hadir penuh untuk tumbuh kembang putrinya, Afshina Lavsha Sanaya, yang kini berusia dua tahun.
Saat ditemui di rumah mereka, tidak ada layar ponsel yang menemani waktu bermain. Ditemani ayah dan ibunya, Afshina sedang asyik menghabiskan waktu dengan buku bergambar, puzzle huruf, dan stimulasi motorik di lantai ruang tamu mereka.
Minar menyadari dampak buruk gadget terhadap anak, mulai dari risiko speech delay hingga minimnya interaksi sosial. Karena itu, ia membatasi penggunaan gawai maksimal satu sampai dua jam per hari, dengan jeda dan selalu dalam pengawasan.
“Bahaya kalau anak keterusan pegang gadget. Bisa bikin anak malas gerak, telat bicara, dan takut sama orang,” ungkap Minar.
Perubahan pola asuh ini bermula ketika Afshina mengikuti pendampingan Rumah Anak SIGAP dari Tanoto Foundation sejak usia dua bulan. Melalui program pengasuhan anak usia dini itu, Minar mendapatkan pengetahuan soal stimulasi dari 0–3 tahun, komunikasi tanpa kekerasan, hingga penanganan anak ketika tantrum. Tak hanya anak yang diajari, tapi orang tua juga dibekali ilmu.
"Rumah Anak SIGAP ini manfaatnya banyak banget, orang tua diajari tummy time, stimulasi merangkak, MPASI yang benar, sampai latihan bicara. Kalau tidak paham, bisa tanya ke fasilitator di sana," imbuhnya.
Minar mendapat banyak insight tentang pola pengasuhan yang baik bagi anak. Yakni melalui kasih sayang, bimbingan konsisten, dan keterlibatan ayah ibu secara langsung. Hasilnya pun nyata. Melalui pengasuhan tanpa gawai, Afshina yang awalnya pemalu kini berani menyapa, mudah akrab dengan orang baru, dan sudah bisa menyusun empat kata.
"Dulu kalau ketemu orang baru selalu takut. Sekarang malah ngajak kenalan duluan," bebernya.
Minar menyampaikan selama dua tahun belajar di Rumah Anak SIGAP, Afshina tumbuh menjadi anak yang bisa mengelola emosi dengan baik. Putrinya ini selalu tanggap dan langsung nyambung ketika diajak berkomunikasi.
"Karena saya sering ngajak ngobrol, anaknya pun tanggapnya cepat. Beda sama anak yang sering main handphone, mereka cenderung cuek dan lambat dalam merespon sesuatu," tegasnya.
Minar menyebut, pengasuhan yang dilakukannya tak akan berhasil tanpa keterlibatan suaminya. Baginya mengasuh anak menjadi kerja tim antara ayah dan ibu. Apalagi ketika mereka sepakat mengurangi ketergantungan gawai. Masing-masing orang tua harus mengalahkan ego, untuk menjaga anak.
"Kita kerja tim, jadi kalau saya masak nanti ayahnya yang menjaga Afshina.
Semantara Aulia Rahman menyebut kolaborasi orang tua dalam pengasuhan akan berdampak pada perkembangan putri mereka. Karena itulah ia tak egois, dan mendukung penuh parenting yang dilakukan istrinya.
"Ayah itu wajib hadir langsung. Karena itu saya selalu mendukung pola pengasuhan tanpa gadget yang dilakukan istri saya. Kita saling bantu, karena mengasuh anak ini tidak hanya tugas ibu, tapi juga ayah," tandasnya.
Rumah Anak SIGAP Bandarharjo Hadir Jadi Solusi Pola Pengasuhan Orang Tua di Semarang
Rumah Anak SIGAP Bandarharjo Kota Semarang hadir sebagai solusi bagi orang tua yang ingin memahami pola pengasuhan anak dengan benar. Tempat ini bukan sekadar ruang bermain anak, tetapi sekolah parenting bagi orang tua.
Di sini, orang tua belajar bagaimana mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia 0–36 bulan, sesuai tahap perkembangan. Caranya pun praktis. Orang tua tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga mempraktikkan langsung cara mengasuh saat pembelajaran berlangsung.
Koordinator Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Itis Arliani, mengatakan masih banyak orang tua menyayangi anak. Namun, mereka belum memahami ilmu pengasuhan. Kondisi ini sering membuat anak tumbuh tanpa stimulasi optimal.
"Orang tua yang sayang anak banyak, tapi belum tentu mereka paham cara mengasuh. Di Rumah Anak SIGAP ini kami ajarkan agar orang tua tahu bagaimana bersikap, berkomunikasi, dan memberi stimulasi sesuai usia anak," ungkap Itis.
Rumah Anak SIGAP yang berdiri sejak 1 Agustus 2023 ini sepenuhnya mendapat dukungan Tanoto Foundation yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Semarang. Mulai dari tempat, permainan edukatif, buku, modul, hingga pelatihan fasilitator semua memadai. Semua kegiatan gratis, tanpa biaya.
Pembelajaran dilakukan melalui dua kelas. Pertama, Kelas Teori Tematik, untuk orang tua belajar materi parenting, komunikasi, cara menghadapi anak tantrum, dan peran ayah dalam pengasuhan. Kedua, Kelas Bermain Bersama untuk orang tua mempraktikkan langsung stimulasi motorik, kognitif, sosial, dan emosional pada anak.
"Kami ingin perubahan terjadi bukan hanya di kelas, tetapi di rumah. Karena pengasuhan terbesar ada di keluarga,” kata Itis.
Rumah Anak SIGAP juga menjawab dua masalah pengasuhan yang sering terjadi di keluarga urban Semarang. Yakni ketergantungan gawai dan tingginya risiko stunting akibat pola makan yang kurang tepat.
Menurutnya dalam penanganan stunting. Rumah Anak SIGAP Bandarharjo terintegrasi dengan Rumah Pelita Semarang. Yakni program penanganan stunting dari Pemerintah Kota Semarang.
Dua program tersebut saling berkaitan, ketika Rumah Pelita Semarang fokus pada penanganan anak yang terkena stunting untuk tumbuh kembali normal. Rumah Anak SIGAP berperan dalam pola pengasuhannya, menyadarkan orang tua untuk menerapkan parenting yang benar.
Apalagi masih banyak ditemui, anak yang terkena stunting terkadang datang dari keluarga mampu. Mengapa demikian? Karena biasanya orang tuanya bekerja, dan anak dititipkan pada pengasuh. Jika pengasuhnya tak menerapkan parenting yang baik, anak akan terjerumus dengan gawai. Akibatnya mereka sulit makan, dan tak pandai berkomunikasi.
Itis menyebut, ada empat anak yang memiliki risiko stunting di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo. Mereka juga masuk dalam penanganan Rumah Pelita. Namun karena penerapan pola asuh orang tuanya diperbaiki, terutama dalam pola makan. Anak itu pun sembuh dan dinyatakan normal.
"Ada sekitar empat anak (risiko stunting). Karena mereka di Rumah Anak SIGAP, orang tuanya dapat pembelajaran parenting, pola makannya diperbaiki, akhirnya sembuh," bebernya.
Lebih lanjut, Itis menjelaskan di Rumah Anak SIGAP orang tua juga dibimbing cara memperkenalkan gawai secara sehat tanpa membuat anak kecanduan. Anak tidak dilarang menggunakan teknologi, namun diberikan batas waktu dan pengawasan.
"Kita memberikan pengajaran ke orang tua bahwa memanfaatkan teknologi itu perlu agar anak faham perkembangan zaman, tapi ada batasannya agar mereka tidak kecanduan," tegasnya.
Saat ini Rumah Anak SIGAP Bandarharjo memiliki 48 anak yang aktif. Rata-rata yang rutin hadir setiap sesi 34 anak. Sementara dalam dua tahun Rumah Anak SIGAP beroperasi, 25 anak sudah lulus karena telah berusia lebih dari tiga tahun. Peserta datang bukan hanya dari Kelurahan Bandarharjo, tetapi juga kelurahan lain di Kecamatan Semarang Utara.
Kelas pembelajaran dibagi menjadi empat. Diantaranya kelas bintang kecil (0–6 bulan) ada 4 anak, kelas bintang ceria (7–12 bulan) ada 5 anak, kelas bintang pijar (1–2 tahun) ada 11 anak, kelas bintang terang (2–3 tahun) ada 14 anak.
Fasilitator Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Sri Lestari, Eka Rahajuningsih, Dian Kartika, dan Wiwik C. Wulandari setiap Senin hingga Rabu aktif mengajar. Saat ditemui, mereka tengah mengenalkan warna kepada anak melalui buku dan alat peraga untuk merangsang pendengaran, penglihatan, serta kognitif.
Dalam pembelajaran, anak dibiasakan makan sendiri, berbagi dengan teman, saling menyapa, dan mengucapkan kata ajaib seperti “tolong” dan “terima kasih”. Orang tua pun dibimbing untuk tidak mengikuti bahasa khas anak, namun memberikan teladan bahasa yang benar.
Itis mencontohkan perkembangan salah satu anak. Namanya Ara.
Awalnya Ara selalu menangis saat masuk kelas. Tidak mau turun dari gendongan orang tua, juga tidak mau salim atau menyapa teman. Namun perlahan berubah.
“Tiga kali datang, Ara sudah mau main. Sudah mau salim. Sudah bawa jajan lalu dibagi ke teman. Sekarang datang selalu tersenyum dan nggak mau cepat pulang,” akunya.
Itis juga menegaskan pola pengasuhan harus menjadi kerja sama tim dalam keluarga. Tidak hanya ibu, tapi juga ayah, bahkan seluruh orang yang ada di rumah tersebut harus kompak.
“Tanggung jawab pengasuhan bukan cuma ibu. Ayah bisa kasih makan, ayah bisa memandikan anak, ayah juga bisa momong. Yang penting sama-sama menyayangi. Anak adalah titipan yang harus dijaga,” pungkasnya.
Psikolog Sebut Anak Usia 0-3 Tahun Rentan Kecanduan Gawai, Bisa Ganggu Emosi hingga Motorik
Psikolog dari Soegijapranata Catholic University (SCU) atau Universitas Katholik Soegijapranata Semarang Indra Dwi Purnomo menegaskan kecanduan gawai pada anak usia 0–3 tahun kini menjadi masalah serius dalam tumbuh kembang.
Ia menyebut usia tersebut merupakan fase paling rentan karena otak anak masih berada dalam masa plastis atau sangat mudah dibentuk oleh stimulus dari luar.
“Penggunaan gawai pada anak di bawah 24 bulan sebaiknya tidak diberikan sama sekali, kecuali video call dan itu pun harus dengan pengawasan,” jelas Indra saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang.
Menurutnya, layar gawai menghasilkan stimulus cahaya dan audio yang terlalu instan. Sehingga memicu pelepasan dopamin secara cepat. Ketika berlangsung terus-menerus, anak akan terbiasa mendapat rasa senang secara cepat, sehingga rentan kecanduan.
“Rawannya itu di dopamin. Anak jadi ketagihan rasa ‘enak cepat’ dari gawai. Itu tidak bagus untuk perkembangan otak,” katanya.
Indra mengungkap, saat ini banyak orang tua menggunakan gawai sebagai alat menenangkan ketika anak rewel. Pola pengasuhan instan inilah yang membuat gawai menggantikan kehadiran sosok pengasuh.
“Dulu pengasuhan itu bersaingnya hanya dengan orang tua lain. Sekarang saingannya dengan media sosial. Ketika anak menangis sedikit langsung diberi gawai agar diam. Itu pintu masuk kecanduan,” tegasnya.
Dampaknya pun meluas pada perkembangan anak. Indra menyebut kecanduan gawai mengganggu kemampuan sosial dan emosional, menurunkan kontak mata, serta membuat anak sulit berempati. Anak juga cenderung gelisah ketika tidak memegang gawai.
Selain itu, kecanduan gawai menyebabkan keterlambatan bicara karena anak tidak mendapatkan interaksi dua arah. Kemampuan motorik pun ikut terhambat karena anak kurang bergerak dan hanya duduk menatap layar.
“Motorik kasar dan halus tidak berkembang optimal. Anak kehilangan kesempatan eksplorasi fisik,” ujarnya.
Indra menambahkan paparan konten cepat seperti video pendek juga menurunkan kemampuan konsentrasi jangka panjang. Anak terbiasa dengan ritme cepat, sehingga tidak mampu mempertahankan fokus ketika belajar.
Ia menegaskan kembali peran orang tua sebagai kunci. Ayah dan ibu harus paham risikonya. Jangan sampai gawai menggantikan fungsi orang tua.
“Gawai bukan alat pengasuhan. Yang dibutuhkan anak adalah kehadiran orang tua, kontak mata, dan interaksi nyata,” pungkasnya.
Rumah Anak SIGAP Perkuat Pengasuhan Usia Dini, Targetkan Anak Tumbuh Optimal Sejak 1.000 HPK
Rumah Anak SIGAP dibentuk atas keprihatinan terhadap maraknya anak usia dini yang kehilangan hak stimulasi dan pengasuhan berkualitas. Program yang merupakan inisiatif dari Tanoto Foundation ini, fokus pada pengembangan anak usia dini dalam rangka mempersiapkan generasi masa depan yang unggul.
Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Michael Susanto, menyampaikan Rumah Anak SIGAP lahir dari kebutuhan memperkuat pengasuhan pada anak 0–3 tahun, fase paling krusial dalam 1.000 hari pertama kehidupan.
Karena itu Rumah Anak SIGAP hadir untuk memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung. Tidak hanya dari sisi kesehatan dan nutrisi, tetapi juga hubungan sosial, emosional, dan komunikasi anak dengan orang tua dan pengasuh.
"Program Rumah Anak SIGAP fokus untuk meningkatkan kualitas pengasuhan atau kualitas orang tua, jadi sebenarnya ini parenting practices ya, pola pengasuhan yang baik. Menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan seorang anak," jelas Michael.
Program ini berbasis komunitas. Dibentuk di desa, namun juga mulai menjangkau wilayah perkotaan. Berjalan sejak 2019, kini sudah ada 29 Rumah Anak SIGAP di seluruh Indonesia dengan 81 mitra. Dari jumlah itu sebanyak 134.388 orang tua telah dijangkau, dan ada 75.235 anak yang telah menerima manfaat.
Di setiap layanan Rumah Anak SIGAP, ada kader dan fasilitator yang telah dilatih. Sehingga mereka mampu memberikan stimulasi dini serta pelatihan pengasuhan pada orang tua. Bentuk kegiatannya pun beragam, diantaranya stimulasi individu empat kali sebulan, kelompok bermain, kelas tematik, hingga pembelajaran bersama orang tua.
Target utamanya jelas. Anak berkembang sesuai fase kognitif, sosial, emosional, bahasa, dan motoriknya. Dan pola asuh orang tua berubah lebih positif hingga diterapkan di rumah.
"Jadi, perkembangannya itu on track baik itu kognitif, sosial, emosional, motorik, maupun dalam (perkembangan anak) berkomunikasi," kata Michael.
Pihaknya mengaku rutin melakukan evaluasi, hasilnya signifikan. Dari 64 caregiver yang dipantau, 59 memperlihatkan perubahan perilaku pengasuhan. Orang tua lebih sering berbicara positif pada anak, memuji, mendampingi, dan memberi ruang bermain.
"Jadi (dari evaluasi) menunjukkan beberapa perilaku orang tua dalam mengasuh anaknya itu lebih baik. Nah, hasil dari perubahan pada orang tua tentunya berdampak pada anaknya," tegasnya.
Peran ayah juga menjadi perhatian penting dalam pengasuhan. Menurut Michael, keterlibatan ayah sangat menentukan perkembangan anak. Karena itu sesi tematik di Rumah Anak SIGAP mengundang ayah dan ibu untuk datang bersama.
Respons di lapangan menggembirakan. Banyak ayah aktif datang dan menunjukkan minat besar dalam perkembangan anak.
“Tujuan akhirnya sederhana. Setiap anak Indonesia berhak tumbuh optimal sejak lahir. Dan itu hanya bisa terwujud jika pengasuhan yang baik dilakukan setiap hari, di rumah," pungkasnya.
Pemprov Jateng Dukung Perluasan Kerja Sama Tanoto Foundation Tangani Stunting
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendukung penuh kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng bersama Tanoto Foundation dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Terutama untuk percepatan penanganan stunting.
Saat ini di Jateng program penurunan stutning melalui Rumah Anak SIGAP difokuskan di empat wilayah. Diantaranya Kota Semarang, Banyumas, Brebes, dan Tegal.
Menurutnya kerja sama tersebut terbukti berdampak positif, salah satunya penurunan angka stunting di Brebes yang dinilai signifikan. Pihaknya pun berharap, ke depan ada perluasan kerja sama dengan Tanoto Foundation ke wilayah Jateng lainnya.
“Maka dengan adanya kerja sama bersama Tanoto Foundation ini bagus, kita ini baru di coba di empat kabupaten nanti akan kita kelilingkan di beberapa kabupaten termasuk 35 kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah,” ujarnya.
Ia menegaskan penurunan stunting menjadi amanat pemerintah pusat yang harus dikejar seluruh daerah. Selain untuk kesehatan anak, penurunan stunting juga berhubungan dengan peningkatan kualitas pembangunan daerah.
“Harapannya karena amanah pemerintah pusat, stunting ini harus zero, maka kita harus kejar di situ,” tegasnya
Kolaborasi Pemprov Jateng dan Tanoto Foundation dalam penanganan penurunan stunting ini terbukti nyata. Pemprov Jateng baru saja menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), berkat prestasinya sebagai provinsi dengan capaian intervensi spesifik stunting terbaik kategori regional I. Pada 2024, prevalensi stunting Jateng berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia berada di angka 17,1 persen, di bawah angka nasional yang sebesar 19,8 persen.
Rumah Anak SIGAP Turunkan Stunting di Tiga Desa, Bukti Pengasuhan Jadi Kunci
Di Desa Kluwut, Brebes, penanganan stunting diperkuat lewat sistem POPS (Pusat Operasi Penurunan Stunting) yang dibentuk saat pendampingan Tanoto Foundation dimulai pada 2022.
POPS menjadi pusat data terpadu berisi informasi balita, ibu hamil, dan calon pengantin sehingga intervensi bantuan dan pendampingan bisa tepat sasaran.
“Dulu data stunting kami berantakan. Sekarang semua terintegrasi lewat POPS,” ujar Ketua TPPS Desa Kluwut, Muniroh.
Di lapangan, perubahan perilaku pengasuhan dilakukan melalui Rumah Anak SIGAP. Di sini orang tua mendapat pembelajaran pengasuhan, gizi, stimulasi dini, dan praktik tanpa mitos. Kemudian diperkuat dengan pemberian PMT bergizi dari bahan lokal. Dampaknya mulai terlihat, sudah 10 anak berhasil lepas dari status stunting melalui pendampingan intensif.
“Rumah Anak SIGAP membuat orang tua paham cara merawat anak dengan benar. Dulu fokusnya hanya makan, sekarang kami paham pentingnya gizi dan stimulasi,” ungkap Koordinator Rumah Anak SIGAP, Sri Yuliana.
Sementara di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Rumah Anak SIGAP tetap berjalan meski masa pendampingan Tanoto Foundation telah selesai. Kepala Desa Tuwel, Saeful Muslimin, memutuskan mengalokasikan Dana Desa untuk membiayai seluruh operasional program pengasuhan dan penanganan stunting.
“Kalau sudah berjalan baik, sayang kalau berhenti. Ini bukan sekadar program, tapi masa depan anak-anak,” ujarnya.
Komitmen itu dibuktikan dengan penganggaran Rp108 juta dari Dana Desa 2025 untuk kegiatan kesehatan, termasuk Rumah Anak SIGAP, PMT, Bina Keluarga Balita, hingga Kafetaria Sehat. Pendanaan ini menyasar langsung pemulihan gizi balita berisiko stunting, terutama anak di bawah dua tahun.
“Fokus kita adalah pemulihan. Anak gizi kurang berpotensi stunting, jadi harus ditangani sejak awal,” jelas Saeful.
Keputusan itu berdampak nyata. Desa Tuwel yang sebelumnya menjadi lokus stunting dengan angka 28 persen pada 2021 kini turun signifikan ke 13,3 persen per September 2025. Anak-anak yang mengikuti Rumah Anak SIGAP menunjukkan perkembangan positif dalam gizi, bahasa, motorik, dan kognitif.
“Rata-rata anak yang ikut Rumah Anak SIGAP kemampuan bahasanya lebih lancar dibandingkan yang tidak ikut,” katanya.
Sedangkan di Desa Sokawera, Rumah Anak SIGAP yang kini bernama BKB Kartini menjadi tempat belajar bersama untuk balita dan orang tua sejak 2023. Anak mendapatkan stimulasi dini melalui aktivitas bermain, sementara orang tua belajar cara mengasuh yang benar.
“Kelihatannya hanya bermain, padahal anak sedang belajar motorik, bahasa, dan kognitif,” ujar fasilitator Parsini.
Meski pendampingan Tanoto Foundation berakhir pada Desember 2024, kegiatan tetap berlanjut, karena masyarakat merasakan manfaatnya. Rumah Anak SIGAP kini berjalan swadaya Rp15 ribu per peserta per bulan.
“Sayang kalau berhenti, jadi kami sepakat lanjut secara mandiri,” kata Parsini.
Program ini berhasil mengubah pola asuh masyarakat, termasuk membongkar mitos pengasuhan yang selama ini menghambat tumbuh kembang anak.
“Kadang yang menolak itu nenek atau mertua, jadi kami edukasi pelan-pelan lewat contoh,” tutur Parsini.
Hasilnya pun nyata, tujuh anak berisiko stunting kini seluruhnya tumbuh normal. Orang tua lebih disiplin memantau tumbuh kembang, memberi makanan bergizi, dan aktif mengikuti kelas.
“Dari kegiatan sederhana ini, kami ingin anak-anak punya masa depan lebih baik,” tegas Parsini. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi