RADARSEMARANG.ID, Semarang - Guru Hebat, Indonesia Kuat, menjadi tema Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang menggaungkan peran guru sebagai agen transformasi.
Guru dituntut melahirkan generasi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing untuk menuju Indonesia Emas 2045.
Semangat itu terpantul jelas di sosok Kepala SDN Tambakrejo 01 Semarang, Tri Sugiyono S.Pd., M.Pd. Hari Guru Nasional 2025 ini mungkin menjadi kado terindah baginya.
Tri sapaan akrabnya penghargaan Juara 1 Guru Inovatif Kota Semarang 2025 dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, di Taman Budaya Raden Saleh, Selasa (25/11).
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas dedikasi Tri dalam menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal dan teknologi.
Sebagai fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, Tri telah mentransformasi SDN Tambakrejo 01, sekolah pesisir yang sering terdampak banjir, menjadi sekolah yang berprestasi.
Melalui manajemen ASIK (Analisis, Solutif, Implementasi, Kolaborasi), ia menciptakan SD Negeri Tambakrejo 01 Semarang menjadi Sekolah Ramah Anak (SRA) berbasis teknologi dan budaya lokal. Inovasinya ini adalah EviMap (Ethnoscience Village Map). Inovasi yang memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar. Anak-anak diajak mengenali lingkungan sekitar. Misalnya saja ketika sekolahnya berdekatan dengan Kota Lama. Materinya bisa berkaitan dengan gedung-gedung bersejarah, ornamen, serta nilai budaya yang ada di Kota Lama Semarang
"Anak-anak tidak hanya belajar di kelas. Mereka terjun langsung ke lapangan, mengukur luas bangunan, menghitung ornamen, dan mencatat data sejarah. Semua dilakukan tanpa bergantung pada gawai agar semua murid bisa mengikuti,” jelas Tri saat ditemui di SD Negeri Tambakrejo 01.
EviMap dikembangkan berdasarkan pengalaman Tri mengajar di wilayah pesisir yang rawan banjir dan masyarakatnya heterogen. Banyak anak lahir di Tambakrejo, tetapi tidak mengenal sejarah sekitar, seperti Masjid Terboyo ataupun Sunan Terboyo. Itulah yang memantiknya untuk berinovasi, agar anak-anak tak melupakan budaya lokal.
Tri menjelaskan dalam EviMap setiap lokasi menjadi tantangan pembelajaran. Misalnya, di Gedung Spiegel, Gereja Blenduk, dan Gedung IBC, murid harus menyelesaikan pertanyaan terkait sejarah, menghitung dimensi bangunan, atau menilai ornamen.
Karena itulah pembelajaran ini tidak hanya berkaitan dengan numerasi seperti Math City Map, tapi juga ada pembelajaran literasi yang bisa terapkan dalam pelajaran IPAS. Sebab siswa akan membaca peta yang diberikan untuk menjawab soal.
Lebih lanjut, metode pembelajaran EviMap berbasis peta cetak, bukan dari gawai atau aplikasi digital. Setiap pos dalam peta berisi tugas atau tantangan. Murid menyelesaikannya secara berkelompok dan kembali ke kelas untuk mendiskusikan pengalaman belajar, merefleksi hasil, serta memperbaiki kekurangan.
"Karena untuk anak-anak SD, EviMap ini pakainya peta, jadi anak bisa baca dan pegang langsung untuk mengerjakan soal," bebernya.
Selain EviMap, Tri yang mempelopori sekolah ramah anak di SDN Tambakrejo 01 ini mengajak guru, murid, orang tua, dan tokoh masyarakat untuk bekerja sama. Yakni menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan menyenangkan.
Berbagai program dikembangkan, mulai dari Duta Perdamaian Kelas, Tim Pencegahan Kekerasan, dan Sudut Baca Digital (SuBaDi). Murid diajarkan disiplin positif, anti-bullying, serta nilai karakter ramah dan peduli. Workshop anti-bullying, lagu hak anak, serta Pekan Apresiasi Anak menjadi bagian dari budaya sekolah.
"Kita punya duta perdamaian, yang tugasnya mengumpulkan informasi tentang masalah dan keluh kesah siswa sebayanya, dan nantinya mereka lah yang melaporkan ke kita," akunya.
Melalui pembelajaran EviMap, observasi guru mencatat, antusias murid meningkat dari 70 persen menjadi 90 persen. Tingkat literasi dan numerasi meningkat dari 65 persen menjadi 90persen.
“Anak-anak senang karena belajar secara nyata di lingkungan mereka. Mereka lebih peka terhadap sejarah, budaya, dan permasalahan lingkungan sekitar,” kata Tri.
Pembelajaran EviMap tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan karakter, empati, dan kesadaran terhadap budaya lokal. Sehingga harapannya anak-anak mampu menjelaskan sejarah gedung bersejarah kepada wisatawan, sekaligus memahami kearifan lokal di lingkungan mereka.
Selama ini Tri telah mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak. Beragam prestasi oernah ia raih. Diantaranya Pelaksana Terbaik 2 Sekolah Ramah Anak (SD) Kota Semarang 2024, Juara 2 Kepala SD Berprestasi Tingkat Kota Semarang 2024, Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden RI 2023, Juara 3 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2015, Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Kota Semarang 2015.
"Tri menegaskan, inovasi EviMap dan program SRA bukan sekadar proyek. Ini wujud pendidikan humanis dan berkelanjutan.
“Perubahan kecil yang dilakukan dengan hati dan konsistensi akan berdampak besar bagi masa depan anak-anak,” tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi