Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Penemuan Bunga Bangkai Langka Rafflesia hasseltii di Hutan Sumatra Berujung Kontroversi “White Savior”

Tasropi • Selasa, 25 November 2025 | 18:26 WIB
Ilustrasi Tim Peneliti berhasil menyaksikan Rafflesia hasseltii mekar di malam gelap.
Ilustrasi Tim Peneliti berhasil menyaksikan Rafflesia hasseltii mekar di malam gelap.

RADARSEMARANG.ID, DI tengah hutan belantara Sumatra yang masih dijaga harimau, mimpi puluhan tahun akhirnya terwujud: tim kecil berhasil menyaksikan Rafflesia hasseltii mekar di malam gelap.

Bunga parasit raksasa yang hanya bertahan beberapa hari itu dikenal lebih sering “dilihat harimau ketimbang manusia”.

Yang berhasil sampai ke sana bukan satu orang, melainkan empat nyawa penuh semangat:

1. Joko Witono (peneliti senior BRIN)

2. Septi Andriki (aktivis konservasi lokal yang sudah 13 tahun mengejar bunga ini)
Iswandi (pengelola hutan rakyat), dan

3. Dr Chris Thorogood dari Oxford University Botanic Garden.

Mereka mendaki malam-malam, melintasi jalur harimau, hanya dipandu izin dan harapan rapuh.

Ketika kelopak merah raksasa itu akhirnya membuka, Septi Andriki tak kuasa menahan air mata.

“Ini lebih dari sekadar bunga. Ini perjuangan hidup saya,” katanya sambil menangis dalam video yang kini viral.

Dr Thorogood sendiri menyebut pengalaman itu “mengubah hidup”.

Namun kegembiraan itu kini tercoreng.

Ketika Universitas Oxford mengunggah cerita ini di media sosial resminya, narasi berubah drastis: Dr Chris Thorogood digambarkan sebagai pahlawan tunggal yang “berani menjelajahi hutan penuh harimau”, sementara tiga ilmuwan dan pejuang konservasi Indonesia hanya disebut “tim” tanpa nama.

Tidak ada Joko. Tidak ada Septi. Tidak ada Iswandi.

Reaksi netizen langsung membara.

Mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan ikut bersuara keras:

“Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi bukan NPC dalam cerita ini. Mereka ilmuwan dan pahlawan konservasi sejati yang puluhan tahun mengenal hutan itu lebih dalam daripada siapa pun. Tanpa mereka, tidak akan ada penemuan ini.”

Ribuan pengguna X menyoroti pola lama yang berulang: peneliti dari Global South bekerja dalam kondisi ekstrem dan berisiko nyawa, tapi saat cerita dipublikasikan, wajah Barat yang jadi cover story. Banyak yang menyebutnya sebagai “kolonialisme akademik modern”.

Hingga berita ini ditulis — empat hari setelah unggahan Oxford — pihak universitas belum juga mengoreksi caption atau menambahkan kredit yang layak bagi tiga ilmuwan Indonesia tersebut.

Di tengah sorotan keras warganet, satu pertanyaan menggantung: mampukah Oxford University Botanic Garden memperbaiki kesalahan ini dan memberikan penghargaan yang setara, atau cerita indah tentang Rafflesia hasseltii akan selamanya diwarnai rasa pahit ketidakadilan? (tas)

Editor : Tasropi
#Peneliti senior BRIN #Rafflesia hasseltii #Chris Thorogood #hutan belantara #oxford university #anies baswedan #joko witono