RADARSEMARANG.ID, PASAR kripto mengalami salah satu hari terburuk dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Selasa pagi waktu Asia, Bitcoin ambruk hingga menyentuh level terendah dalam enam bulan di US$91.545, berhasil menembus zona support kunci yang selama ini dianggap penting.
Ethereum pun tak luput, harganya merosot tajam hingga di bawah angka psikologis US$3.000.
Koreksi besar ini terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar saham global yang juga mencatat penurunan terparah dalam sebulan terakhir.
Kerugian Besar di Seluruh Aset Kripto dan Pasar Tradisional
Dalam sepekan terakhir, Bitcoin sudah terkikis 27% dari rekor tertingginya di bulan Oktober. Pada 17 November saja, BTC turun 3,21%, sedangkan Ethereum lebih dalam lagi (-4,22%) hingga berada di kisaran US$2.978.
Altcoin besar lainnya juga babak belur: Solana -22,51%, XRP -16,73%, dan Cardano -22,12% dalam tujuh hari.
Di pasar saham AS, S&P 500 dan Nasdaq sama-sama ditutup di bawah garis moving average 50 hari untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, sementara Dow Jones kehilangan lebih dari 550 poin.
Investor mulai berpindah ke sektor defensif seperti kesehatan dan energi, sekaligus memangkas eksposur risiko.
Gap CME Bitcoin Akhirnya Tertutup Setelah 7 Bulan
Satu peristiwa teknikal penting yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi: celah harga (gap) pada kontrak futures Bitcoin di CME yang terbuka sejak April 2025 di sekitar US$92.000 akhirnya terisi.
Menurut trader populer DaanCryptoTrades, penutupan gap ini menghilangkan salah satu “magnet” penurunan teknikal yang selama ini menggantung.
Namun, ia menegaskan bahwa ini tidak serta-merta berarti harga akan langsung rebound, karena permintaan pasar masih sangat lemah dan struktur teknikal tetap rapuh.
Faktor Makro: Data Ekonomi AS Terlalu Kuat, Peluang The Fed Potong Suku Bunga Makin Kecil
Empire State Manufacturing Index melonjak ke 18,7 (naik 8 poin), jauh di atas ekspektasi.
Data yang terlalu bagus ini justru membuat pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga pada Desember mendatang.
Saat ini, peluang kebijakan suku bunga tetap (no cut) sudah mencapai 55–60% menurut Polymarket dan CME FedWatch Tool.
Firma riset 10X Research menyebut aliran pembeli baru sudah terhenti sejak 10 Oktober lalu, dan sinyal hawkish dari The Fed terus menekan aset-aset berisiko tinggi termasuk kripto.
Tanda-Tanda Kapitulasi Mulai Terlihat di Data On-Chain
Glassnode dan Bitfinex mencatat bahwa realized loss sudah mulai stabil, artinya holder jangka pendek yang beli di harga tinggi mulai menyerah (capitulation phase).
Secara historis, fase ini sering menjadi pertanda bahwa harga sudah mendekati dasar, meski pemulihan berkelanjutan baru akan terjadi ketika holder jangka panjang mulai kembali mengakumulasi.
Beberapa analis seperti Benjamin Cowen bahkan tidak menutup kemungkinan Bitcoin akan turun lebih dalam lagi hingga menguji EMA 200 minggu di kisaran US$60.000–70.000, walaupun ia juga membuka peluang adanya relief rally terlebih dahulu.
Sentimen Pasar Masih Sangat Rapuh
Di media sosial, proyeksi bearish masih mendominasi.
Trader Roman Trading menyoroti US$76.000 sebagai support berikutnya yang potensial diuji jika tekanan jual berlanjut.
Volume opsi juga menunjukkan pergeseran: put option mulai lebih banyak diperdagangkan dibanding call option, tanda bahwa pasar sedang bersiap menghadapi penurunan lebih lanjut.
Saat ini Bitcoin sedang berada di persimpangan penting di atas level US$90.000.
Gap CME sudah tertutup sehingga risiko teknikal langsung di bawah berkurang, tetapi faktor makro yang kurang mendukung, sentimen yang rapuh, dan potensi likuidasi lanjutan membuat suasana tetap sangat hati-hati.
Hari-hari ke depan — terutama rilis data ekonomi AS, pernyataan pejabat The Fed, dan laporan keuangan Nvidia — akan menentukan apakah pasar kripto bisa menemukan pijakan atau justru melanjutkan penurunannya. (tas)
Editor : Tasropi