RADARSEMARANG.ID, Magelang – Christ Luliorienta Finka tidak menyadari akan manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sebesar itu. Awalnya ia mengira bahwa program JKN ini hanya memberikan perlindungan kesehatan saja. Nyatanya lebih dari itu.
Bukan hanya kesehatannya yang terlindungi sepanjang hari, program JKN juga dirasakan meringankan dari sisi ekonomi.
Finka—begitu akrab disapa—merasa lebih ringan membayar iuran JKN dengan skema peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) ketimbang menjadi peserta mandiri.
Setiap bulan, ia hanya membayar iuran JKN sebesar 1 persen yang dihitung dari gajinya. Kemudian 4 persennya dibayar oleh perusahaan tempat ia bekerja, yakni Armada Finance.
Iuran 1 persen itu sudah bisa menanggung dirinya sendiri, suami, kedua anaknya, satu orang tua, dan satu mertuanya.
“Jadi iuran 1 persen itu sudah bisa melindungi enam orang. Saya dan lima anggota keluarga saya,” ujarnya tersenyum, Senin (27/10/2025).
Ia bersyukur, meski seluruh anggota keluarganya terlindungi program JKN, namun belum pernah digunakan untuk berobat atau sampai rawat jalan.
Sejauh ini, kartu JKN hanya digunakan berobat untuk sakit ringan, seperti demam, flu, dan lainnya.
“Kebetulan faskes pertama saya di puskesmas, dan biasanya kalau sakit ringan langsung ke sana, sebelum kondisinya lebih parah,” ungkapnya.
Finka juga sudah memanfaatkan layanan antrean online melalui aplikasi Mobile JKN. Sejak perusahaannya mengimbau setiap karyawan agar memiliki aplikasi ini, ia langsung mengunduh dan memanfaatkannya.
“Saya sudah menggunakan untuk mengantre pelayanan kesehatan di puskesmas. Saya akses menu antrean online dari rumah, dan setelah dapat nomor pendaftaran pelayanan, saya datang 30 menit sebelum antrean saya dipanggil, agar tidak terlewat,” jelasnya.
Ia memuji inovasi ini. Karena pasien tidak lagi menunggu antrean pelayanan terlalu lama. Dirinya masih ingat betul, lama waktu antrean pelayanan di faskes bisa mencapai berjam-jam.
“Dengan layanan antrean online, sampai sana (puskesmas, Red) kita langsung dilayani,” ungkapnya.
Selama menggunakan JKN untuk berobat, Finka tidak menemui kendala. Yang ia rasakan hanya kemudahan.
Saat ini, proses pendaftaran pelayanan di faskes cukup menunjukkan kartu KIS Digital. Bahkan tanpa dimintai fotokopi berkas oleh petugas pendaftaran.
“Saya suka inovasi ini. Karena mungkin bisa ketinggalan dompet, tapi agak jarang kalau sampai ketinggalan handphone. Ketika lupa bawa dompet yang ada kartu JKN-nya, saya cukup menunjukkan KIS Digitalnya di aplikasi Mobile JKN,” ucapnya.
Selain KIS Digital, ia juga mendapatkan informasi dari petugas loket pendaftaran, bahwa peserta JKN bisa menunjukkan KTP elektronik atau menyebutkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) saat hendak mendaftar pelayanan.
“Saya rasa, BPJS Kesehatan semakin memudahkan peserta untuk mengakses layanan kesehatan,” imbuhnya.
Selain itu, Finka juga mengakui bahwa aplikasi Mobile JKN sangat mudah digunakan, sekalipun oleh orang yang tidak begitu melek teknologi. Tampilan menu utama terlihat rapi dan tidak membingungkan.
Finka melanjutkan cerita pengalamannya menggunakan JKN. Program ini juga menyelamatkan ekonomi keluarga.
Sebab dirinya tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk seluruh anggotanya mengikuti jaminan kesehatan, dan tidak perlu membayar biaya berobat.
Di samping itu, program JKN turut memberikan manfaat bagi kesehatan mentalnya. Ia merasakan ketenangan menjalani kehidupan sehari-hari. “Rasanya tenang dan nyaman. Kerja jadi lebih fokus,” imbuhnya.
Ia juga semakin loyal kepada perusahaannya, karena telah membantu mendaftarkan anggota keluarganya dalam program JKN.
“Saya bersyukur, di saat ada perusahaan yang merasa ribet untuk menguruskan penambahan anggota keluarga karyawan, perusahaan saya dengan ringan memberikan bantuan. Saya beruntung bekerja di perusahaan yang memikirkan kesejahteraan karyawan dan anggota keluarga karyawan,” pungkasnya. (put/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo