Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Orang Tua Curhat ke Wamensos Tak Pernah Dapat Bansos, Sekolah Rakyat Jadi Harapan Cita-Cita Anak

Khafifah Arini Putri • Rabu, 1 Oktober 2025 | 17:56 WIB
Wamensos Agus Jabo Priyono mendengar curhatan para orang tua yang anaknya belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang.
Wamensos Agus Jabo Priyono mendengar curhatan para orang tua yang anaknya belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suasana penuh haru dan semangat terlihat di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Kota Semarang saat Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono secara resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 45, Selasa (30/9). 

Acara yang dihadiri orang tua siswa ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan tekad untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Orang tua siswa yang hadir tampak antusias. Mereka diberi kesempatan bercengkrama langsung dengan Wamensos. 

Salah satunya Alimah, warga Semarang yang sehari-hari mengamen untuk menghidupi anaknya.

Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa syukur karena anaknya kini dapat menempuh pendidikan layak di Sekolah Rakyat jenjang SD.

Saya menyampaikan terima kasih ke Pak Prabowo. Berkat sekolah rakyat ini anak saya bisa sekolah, jadi anak pinter dan sukses, biar nggak seperti saya jadi pengamen,” ujar Alimah.

Warga Pandansari ini mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH), meski memiliki KTP asli Semarang. 

“Nggak dapat bansos, nggak dapat PKH, orang-orang sekitar tidak ada yang memperhatikan,” imbuhnya.

Kisah serupa juga datang dari Musyaroh, wali siswa yang adiknya kini bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Musyaroh mengaku, sang adik yang bernama Nindya sempat mogok sekolah selama dua tahun, karena keterbatasan biaya.

Sementara ibunya, single parent bekerja menjaga anak hanya berpenghasilan Rp1,2 juta per bulan.

“Alhamdulillah ada sekolah rakyat, adik saya bisa sekolah lagi. Semoga bisa mengangkat derajat orang tua,” ungkap Musyaroh.

Sementara Wamensos Agus Jabo Priyono Sekolah Rakyat merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan.

Hingga kini ada 165 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Sedangkan di Jateng kini sudah ada 14 Sekolah Rakyat yang beroperasi.

"Jadi sekolah rakyat ini memang ditujukan oleh Pak Presiden untuk memutus transmisi kemiskinan, memuliakan saudara-saudara kita yang miskin, kemudian memberikan harapan bagi keluarga, saudara-saudara kita yang ada di Desil 1, yang secara ekonomi tidak mampu, kemudian bisa menyekolahkan anaknya, bisa mengantarkan anaknya untuk mewujudkan cita-citanya," jelas Agus Jabo.

Ia memastikan fasilitas pendidikan yang disediakan unggul dan memadai. Selain pendidikan formal, siswa juga akan dibekali dengan pendidikan karakter kebangsaan, keagamaan, sosial, serta keterampilan vokasi untuk mempersiapkan mereka bekerja jika tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Sehingga anak-anak ini memiliki keterampilan dan bisa membantu orang tuanya yang miskin.

"Kita sedang menyediakan, mempersiapkan nanti hilirisasinya gimana, yang mau kuliah nanti prosesnya seperti apa, yang mau bekerja, seperti apa, Kemensos sedang mempersiapkan semuanya beserta dengan kementerian-kementerian terkait yang lain," tegasnya.

Lebih lanjut pihaknya menyebut Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang memiliki dua jenjang pendidikan, yakni SD dan SMA, masing-masing menampung 50 siswa. Selama dua minggu ke depan, para siswa akan menjalani MPLS untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah sebelum memulai kegiatan belajar formal.

Pihaknya juga memastikan seluruh proses pendidikan di Sekolah Rakyat bebas dari perundungan (bullying) dan kekerasan.

Sebab guru dan tenaga pendidik telah mengikuti retret atau pelatihan khusus. Mereka mempelajari materi terkait hak asasi manusia, toleransi, dan anti-intoleransi. 

"Tidak boleh ada bully, tidak boleh ada kekerasan, ada intoleransi. Jadi, semua sudah kita siapkan. Guru dan tendik (tenaga pendidik) juga kita retret. Di tingkat siswa setiap Sabtu ada semacam training masalah intoleransi, anti kekerasan, dan anti pembulian," tandasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Sekolah Rakyat #Wamensos Agus Jabo Priyono #Wakil Menteri Sosial #prabowo subianto #Agus Jabo Priyono #masa pengenalan lingkungan sekolah