RADARSEMARANG.ID – Harga cabai rawit merah dari petani di Jawa Tengah (Jateng) saat ini hanya Rp 24 ribu per kilogram, sementara di pasar dijual sekitar Rp 28 ribu per kilogram.
Harga itu dinilai terlalu murah karena petani hanya bisa balik modal.
Hal itu disampaikan Budi, salah satu petani cabai yang sudah tujuh tahun bergelut dengan bahan pokok yang jadi pemicu inflasi tersebut.
Budi mengaku akhir-akhir ini harga jual cabai rawit merah hanya berkisar Rp 24 ribu per kilogram. Bahkan sempat terjun bebas hingga Rp 14 ribu per kilogramnya.
"Alhamdulillah pulang modal, tapi nggak bati (untung). Minimal ya Rp 35 ribu per kilogram (baru untung). Harganya nggak tentu, dua kali panen paling tinggi kemarin laku Rp 24 ribu, pas banyak malah Rp 14 ribu kemarin," ungkapnya.
Di tengah fluktuasi harga itu, Jawa Tengah justru mencatat produksi cabai melimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statisti (BPS) tahun 2024, produksi cabai di Jateng mencapai 449 ribu ton dengan luas panen 49.153 hektar.
Dari jumlah itu, produksi cabai rawit merah sekitar 347,8 ribu ton per tahun. Jumlah ini menjadikan Jateng sebagai salah satu lumbung cabai nasional yang mampu menyuplai Jawa Barat, Banten, Sumatera, hingga Kalimantan.
Meski produksi tinggi, ketidakstabilan harga tetap jadi tantangan. Pemerintah pusat dan daerah pun terus mengawal pola tanam dan distribusi agar harga stabil dan inflasi terkendali. Salah satunya melalui program Champion.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra menyampaikan kini sudah ada 15 champion lokal di Jateng.
Champion ini merupakan inisiatif dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk membina petani penggerak guna menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas cabai di Indonesia.
"Kini sudah ada 15 Champion lokal (di Jateng) dan kami juga sudah membantu ada aplikasi lelang," jelas Rahmat saat melaunching aplikasi digitalisasi lelang cabai di Magelang, Senin (22/9).
Menurutnya aplikasi lelang cabai ini untuk memangkas mata rantai distribusi tanpa tengkulak. Sehingga harga di tingkat petani lebih baik namun tetap terjangkau bagi konsumen.
"Degan cara itu memotong mata rantai pemasaran. Insyaallah petaninya makmur, masyarakatnya juga ikut makmur, karena harga cabai juga terjangkau di tingkat produsen," ungkapnya.
Dengan demikian kata dia produksi cabe di Jawa Tengah bisa memenuhi kebutuhan msayarakat di Jateng dahulu. Nantinya kelebihannya bisa dikerjasamakan antar daerah.
Sementara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan peran penting champion cabai yang bari ini untuk kestabilan harga.
Pihaknya mengapresiasi para petani dan champion yang hadir dari berbagai daerah, seperti Grobogan, Pekalongan, Magelang, Banjarnegara, dan wilayah lainnya.
"Para champion ini sudah dilantik hari ini kembali ke daerah masing-masing. Tugasnya memastikan petani kita lebih sejahtera," ujar Luthfi. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi