RADARSEMARANG.ID — Gereja Blenduk Kota Lama merupakan salah satu ikon Kota Semarang. Landmark gereja yang berada di kawasan wisata heritage juga sangat ikonik.
Tidak jarang wisatawan yang singgah di kawasan Kota Lama Semarang mengabadikan moment dengan latar belakang Gereja Blenduk.
Seakan kurang rasanya berlibur di Kota Lumpia jika belum berfoto di depan Gereja Blenduk Kota Lama.
Gereja Blenduk sendiri berusia 272 tahun. Didirikan pada tahun 1753 dan merupakan gereja Kristen tertua di Jawa Tengah.
Awalnya bergaya rumah panggung, bangunan ini mengalami beberapa renovasi signifikan, terutama pada 1894-1895 oleh H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas, yang menambahkan kubah dan dua menara, mengubahnya menjadi arsitektur gaya Pseudo Barok Eropa. Penamaan "Blenduk" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "menggelembung," merujuk pada kubahnya yang besar dan ikonik.
Sejarah Pembangunan dan Renovasi:
- 1753:
Gereja ini didirikan untuk pertama kalinya, dengan bentuk awal seperti rumah panggung khas Jawa.
- 1787-1794:
Renovasi total pertama dilakukan, mengubah struktur bangunan dengan sentuhan arsitektur Barok dan Renaisans Eropa.
- 1894-1895:
Renovasi besar kedua oleh H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas menghasilkan bentuk seperti sekarang, dengan penambahan kubah besar dan menara kembar.
Asal-usul Nama "Blenduk":
- Nama "Blenduk" adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti "menggelembung" atau "menonjol".
- Julukan ini diberikan karena bentuk kubah gereja yang besar dan terlihat menonjol.
Ciri Khas Arsitektur:
- Kubah Besar: Kubah yang dilapisi perunggu menjadi ciri khas gereja ini.
- Arsitektur Pseudo Barok: Bangunan mengadopsi gaya Eropa klasik dari abad ke-17 hingga ke-19.
- Organ Barok: Interior gereja menampilkan organ bergaya barok yang spektakuler.
Fungsi dan Status Saat Ini:
- Gereja Blenduk masih digunakan untuk ibadah setiap hari Minggu oleh umat kristiani.
- Gereja ini menjadi salah satu ikon dan bangunan cagar budaya di kawasan Kota Lama Semarang.
- Menjadi daya tarik wisata bagi turis domestik dan mancanegara yang tertarik dengan sejarah dan arsitektur.
Gereja Blenduk dikenal sebagai salah satu daya tarik utama Kota Lama Semarang. Hampir setiap pengunjung yang melintas di kawasan Kota Lama tak pernah melewatkan kesempatan untuk berfoto di depan bangunan berarsitektur kolonial ini.
"Saya yakin, setiap orang yang melewati kawasan Kota Lama pasti terpesona oleh keindahan Gereja Blenduk. Bahkan, tak jarang gereja ini menjadi latar belakang foto oleh para wisatawan, setiap saat," kata Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin usai meresmikan kembali Gereja Blenduk pasca restorasi pada Minggu (7/9/2025).
Seperti diketahui, proses rehabilitasi bangunan bersejarah Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) di kawasan Kota Lama, Semarang, ini dilakukan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Rehabilitasi Gereja Blenduk menelan anggaran sebesar Rp28 miliar dalam jangka waktu satu tahun. Pekerjaan tersebut bukanlah hal yang mudah, mengingat kompleksitas dalam merestorasi bangunan cagar budaya.
"Merehabilitasi bangunan heritage tentu sangat berbeda dengan membangun gedung baru. Banyak aturan dan perundang-undangan yang harus ditaati. Butuh ketelitian, kehati-hatian, dan melibatkan banyak pihak," jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir, setelah revitalisasi kawasan Kota Lama, tingkat kunjungan wisata ke Kota Semarang terus meningkat pesat.
Bahkan, sejak 2019, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Lama melampaui jumlah pengunjung ke Candi Borobudur, yang selama ini dikenal sebagai destinasi utama di Jawa Tengah.
Iswar menegaskan bahwa keberadaan Gereja Blenduk bukan hanya penting dari sisi sejarah dan pariwisata, tetapi juga sebagai simbol toleransi di tengah keberagaman masyarakat Kota Semarang.
"272 tahun lamanya gereja ini berdiri, tidak hanya menjadi rumah untuk bertemu dengan Tuhan, tetapi juga menyimpan cerita perjalanan kota yang kita cintai. Ini adalah wujud bagaimana kemajuan tidak boleh melupakan akar sejarah," ungkapnya.
Iswar juga menegaskan bahwa gereja ini adalah milik seluruh warga Semarang. Gereja ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga simbol keberagaman dan toleransi.
“Siapapun yang datang ke Kota Lama akan merasakan atmosfer keindahan dan sejarah yang luar biasa di sini," ucapnya.
Iswar mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga, merawat, dan melestarikan Gereja Blenduk sebagai warisan budaya yang tak ternilai. (*)
Editor : Muhammad Rizal Kurniawan