Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Yuk Mengenal Sejarah Gudang Garam, Pabrik Rokok di Indonesia yang Tengah Diterpa Isu PHK Karyawan

Sulistiono • Senin, 8 September 2025 | 20:51 WIB
Pabrik rokok Gudang Garam di Kediri dengan ikon perusahaannya yang ikonik. (wikimedia commons)
Pabrik rokok Gudang Garam di Kediri dengan ikon perusahaannya yang ikonik. (wikimedia commons)

RADARSEMARANG.ID - PT Gudang Garam, salah satu pabrik rokok tertua dan terbesar di Indonesia, belakangan ini menjadi perhatian masyarakat, menyusul kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ratusan karyawannya di mitra produksi Gudang Garam di kabupaten Tuban. 

Dalam video yang beredar di media sosial dan mengundang keprihatinan netizen, tampak ratusan karyawan dan karyawati pabrik Gudang Garam di Tuban itu menangis sedih, dalam sebuah acara perpisahan usai pengumuman PHK. 

Namun, kabar PHK karyawan pabrik Gudang Garam di Tuban itu di bantah Human Resources Development (HRD) PT Merdeka Nusantara Mitra Produksi Gudang Garam Tuban.

"Kabar PHK massal karyawan Gudang Garam tersebut tidak terjadi di pabrik Tuban. Sampai dengan saat ini, di Pabrik Tuban tidak ada PHK atau sejenisnya,"bantah HRD, Adib Musyafa.

PT Gudang Garam sendiri merupakan pabrik rokok terbesar yang berbasis di kota Kediri, dengan jumlah karyawan ratusan ribu tenaga kerja yang tersebar tidak hanya di Kediri namun juga mitra produksinya di beberapa wilayah di Jawa Timur. 

Sejarah Pabrik Rokok Gudang Garam

Perusahaan ini di dirikan tahun 1956, saat  Tjoa Ing-Hwie atau Surya Wonowidjojo membeli sebuah lahan tanah seluas 1.000 meter persegi milik Muradioso di Jl. Semampir II/l, Kediri.

Di atas lahan itulah, Tjoa Ing-Hwie kemudian memproduksi rokok rokok kretek dari kelobot dengan merek Inghwie, dan setelah beroperasi selama dua tahun, pada tanggal 26 Juni 1958, Tjoa Ing-Hwie mengubah nama perusahaannya menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam. Awal berdiri, dia hanya mempekerjakan 50 orang karyawan.

Nama Gudang Garam sendiri di peroleh Tjoa Ing-Hwie dari mimpi. Setelah namanya berubah menjadi Gudang Garam, produksi rokoknya melesat tajam hingga mencapai 50 juta batang sigaret kretek tangan (SKT) per bulan pada tahun 1966.

Jumlah karyawan saat itu juga naik drastis dari 50an orang menjadi ribuan karyawan yang memproduksi rokok sigaret.

Namun saat terjadi krisis politik tahun 60an, PT Gudang Garam sempat kehilangan ribuan karyawannya.

Namun, perusaahaan itu dengan cepat menyesuaikan dengan kondisi saat itu dan terus berkembang pesat.

Pada tahun 1973, PT Gudang Garam mencatatkan prestasi, dengan melakukan ekspor perdana produksi rokoknya ke luar negeri.

Sepeninggal pendiri Gudang Garam, Surya Wonowidjojo pada tahun 1985, tongkat estafet kepemimpinan PT Gudang Garam di teruskan dua putranya yakni , Rachman Halim dan Susilo Wonowidjojo.

Di tangan keduanya, perusahaan ini menjadi perusahaan publik resmi pada tanggal 27 Agustus 1990 ketika melepas 57 juta saham di Bursa Efek Jakarta dan 96 juta saham di Bursa Efek Surabaya dengan harga perdana Rp 10.250/lembar.

Keluarga mendiang Surya Wonowidjojo—istrinya Tan Siok Tjien dan putranya Rachman Halim—memiliki sebagian besar saham perusahaan pada saat itu. Sekarang, keluarga Wonowidjojo memiliki sebagian besar saham perusahaan melalui PT Suryaduta Investama.

 Baca Juga: Jelang FIFA Matchday, Ini Dia Tiga Pemain Lebanon yang Harus Diwaspadai Timnas Indonesia

Pada tahun 2017, produksi rokok PT Gudang Garam menguasai 21% pangsa pasar rokok di Indonesia. 

Tak hanya di industri rokok, perusahaan itu melalui anak usahanya PT Surya Kerta Agung pada tahun 2022 mulai terjun di bidang pengelolaan jalan tol.

Masih pada tahun yang sama, 2022 menyuntikkan modal sebesar Rp 1 triliun ke PT Surya Dhoho Investama, yang mengelola Bandara Dhoho di Kediri. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#kediri #rokok #Sejarah #PHK #phk karyawan #pabrik rokok #rokok kretek #gudang garam