RADARSEMARANG.ID- Menjadi negara yang paling terisolir di dunia internasional, Korea Utara memang dikenal berkat ketertutupan negara ini pada westernisasi Barat.
Tak banyak negara yang bisa menjalin hubungan diplomatik dengan negara yang dipimpin Kim Jong Un ini, kebanyakan didominasi oleh negara-negara sosialis dan komunis.
Berkat sejarah dan kedekatan di masa lalu antara Indonesia dan Korea Utara, Pemerintah Republik Indonesia menjadi salah satu dari sedikit kedutaan asing yang bisa beroperasi di Pyongyang, Ibukota Korea Utara.
Hal ini tentu menjadikan hubungan antar kedua negara yang unik dan strategis dalam dunia diplomasi internasional.
Terletak di ibu kota Pyongyang, Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) atau Korea Utara, kedutaan ini bukan hanya berfungsi sebagai perwakilan resmi negara, tetapi juga menjadi simbol kuat dari komitmen Indonesia terhadap prinsip diplomasi bebas-aktif, netralitas, dan dialog antarbangsa, bahkan dalam konteks hubungan internasional yang kompleks dan sensitif.
Setelah ditarik saat Pandemi Covid-19 melanda dunia beberapa tahun lalu, kini KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang terletak di Pyongyang telah resmi kembali beroperasi.
Sebelumnya, KBRI Pyongyang ditutup pada bulan 23 Juli 2021 karena kebijakan Pemerintah Korea Utara yang melakukan lockdown Covid-19.
Upaya pembukaan kembali KBRI sebelumnya sempat mencuat beberapa kali, salah satunya dalam lawatan Counselor Kedubes Korea Utara So Kwang Yun.
Yang menghadiri acara Peringatan 59 tahun kunjungan Presiden Kim Il Sung ke Indonesia yang diselenggarakan di Kebun Raya Bogor pada tanggal 5 April 2024.
Dalam postingan Instagram @indonesiainpyongyang, kini Pemerintah membuka kembali KBRI Pyongyang setelah sekian lama tidak beroperasi (29/8).
"KBRI Pyongyang resmi kembali beroperasi, siap memperkuat kerja sama dan persahabatan (antar kedua negara) yang telah terjalin sejak lama".
Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Korea Utara sendiri secara resmi telah dimulai jauh sejak tahun 1965.
Namun, akar kerja sama diantara keduanya telah muncul sejak tahun-tahun sebelumnya, terutama melalui kedekatan antara Presiden Soekarno dan Kim Il-sung.
Kedua pemimpin ini saling menghormati dan memiliki visi yang sejalan dalam perjuangan yang cukup keras tentang anti-imperialisme serta mendukung gerakan Non-Blok.
Source: Kementerian Luar Negeri, KBRI Pyongyang
Editor : Baskoro Septiadi