Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Penerima Beasiswa Tanoto Foundation Ini Raih Mimpi ke Taiwan

Khafifah Arini Putri • Jumat, 29 Agustus 2025 | 05:34 WIB
Penerima Program Beasiswa TELADAN, Bryan Setyawan
Penerima Program Beasiswa TELADAN, Bryan Setyawan

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Setiap pagi hingga senja di tahun 2019, seorang mahasiswa Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip) Semarang terus meluangkan waktu dengan duduk cukup lama.

Kedua matanya memandang layar laptop dengan jeli, mencari informasi beasiswa. Jemari tangannya tak henti-hentinya menari di atas keyboard, mengetik keyword beasiswa untuk kuliah.

Hingga akhirnya ia menemukan Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation. Namanya Bryan Setyawan, anak bungsu dari dua bersaudara, kelahiran 2001.

Baginya perjalanan akademik bukan hanya soal menuntut ilmu, tetapi juga membentuk daya juang dan mental kepemimpinan.

Melalui pelatihan dari Beasiswa TELADAN, lulusan Teknik Mesin Undip ini mantap melanjutkan kisahnya di Taiwan, menuntaskan studi S2 dan bekerja di perusahaan teknologi industri.

Bryan itulah sapaannya. Awalnya pria kelahiran Jakarta ini mengaku iseng mendaftar Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation. Namun berawal dari iseng inilah Bryan justru menemukan pandangan dan jalan hidup baru.

"Saya juga awalnya iseng untuk daftar dan ternyata setelah melewati banyak seleksi dan tahapan seperti membuat esai, psikotes, interview, dan segala macamnya, saya merasa beruntung bisa diterima di Beasiswa TELADAN angkatan 2020 ini,” kenang Bryan.

Tujuannya tak lain untuk meringankan beban orang tua. Meski awalnya iseng, seluruh proses seleksi dijalani dengan sungguh - sungguh.

Tujuannya tak lain untuk meringankan beban orang tua. Meski awalnya iseng, seluruh proses seleksi dijalani dengan sungguh-sungguh. 

“Bagian paling sulit menurut saya saat wawancara. Karena saya termasuk orang yang cukup gugup, tapi saya coba menjadi diri saya sendiri, jawab sejujurnya, beruntungnya bisa diterima,” ungkapnya.

Dari ratusan bahkan ribuan pendaftar dari Undip, Bryan terpilih menjadi salah satu dari 15 orang penerima Beasiswa TELADAN di angkatannya. Selama bergabung, ia terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk promosi produk lokal.

Ia juga mendapatkan berbagai pengalaman menarik, seperti menambah pengetahuan tentang nama desa atau wilayah, bahkan beragam makanan khas di daerah tersebut.

“Kami pernah mempromosikan jamu dari Desa Jabungan. Itu unik karena saya lahir di kota dan jarang mendengar nama daerah-daerah kecil. Kalau tidak ada Beasiswa TELADAN, mungkin saya tidak akan mengetahui adanya tempat tersebut,” kata Bryan.

Tak hanya itu, di tahun kedua, Bryan dan teman-teman angkatannya berinisiatif menjalankan sebuah proyek sosial. Menariknya, ada satu aturan yang tak biasa, yakni tidak ada ketua tetap. Setiap orang nantinya akan bergiliran memimpin.

“Semua mendapat giliran untuk memimpin tim. Itu menantang karena setiap orang punya cara kepemimpinan berbeda, jadi kita harus adaptasi, siap memimpin dan dipimpin,” ujarnya.

Dari program ini, Bryan belajar banyak hal, mulai dari kerja sama, keberanian menerima masukan, hingga membentuk growth mindset. Ia juga memahami pentingnya daya juang untuk menguasai sesuatu yang awalnya terasa asing.

Tahun 2023 ia resmi menyandang gelar sarjana. Alih-alih tinggal lama di Indonesia, Bryan justru memilih melangkah ke luar negeri melalui program fast track 3+2, yakni tiga tahun S1 di Undip dan dua tahun S2 di Taiwan.

Ia punya alasan memilih Taiwan menjadi menjadi panggung baru bagi kisah studinya, tempatnya menanam mimpi dan memetik ilmu. Adanya kerja sama dengan UNDIP mempermudah Bryan beradaptasi di negara Formosa, ditambah dengan keberadaan banyak mahasiswa dan warga Indonesia yang menetap di sana.

“Memang dari dulu saya sudah ingin S2 di luar negeri. Taiwan ini cukup oke, dan saya tidak perlu beradaptasi sesulit itu,” bebernya.

Kendati demikian, hidup di negara orang tetap membawanya pada tantangan budaya. Menurutnya orang-orang di Taiwan individualis dan tertutup terhadap orang luar. Terutama di dunia kerja.

“Minusnya, kesempatan berteman kecil. Tapi plusnya, saya jadi bisa lebih fokus mengerjakan pekerjaan tanpa banyak gangguan,” akunya.

Perjalanannya terbilang cepat. Pada pertengahan 2024, ia baru saja menuntaskan studi Master of Science (Mechanical Engineering) di National United University, Taiwan.

Tak berselang lama dari kelulusan Bryan mulai meniti karier sebagai system engineer di Winmate. Sebuah perusahaan di bidang teknologi.

“Jadi aku lulus langsung kerja, benar-benar nggak ada istirahatnya, karena aku punya goal, jadi langsung dikejar,” imbuhnya.

Sejak awal, Bryan sudah menetapkan tekad untuk meraih kesuksesan. Termasuk mencapai kemandirian finansial.

"Ingin bisa settle under 30, itu goal yang aku kejar sekarang,” tegasnya.

Demi tujuan tersebut, ia berupaya terus meningkatkan kinerja. Menurutnya, hampir semua perusahaan di Taiwan sangat menghargai performa kerja.

“Sangat based on performance, mereka berani memberi imbalan yang besar jika performance kita bagus,” terang Bryan.

Mulai 2025, Winmate berencana memulai proyek berbasis kecerdasan buatan. Bryan melihat langkah ini sebagai peluang besar untuk mengasah keterampilan dan menyalurkan kreativitasnya dalam mengembangkan karier di perusahaan tersebut.

Dibalik kisahnya, perjalanan hidup pria 24 tahun ini sempat diwarnai masa-masa sulit. Kondisi ini terjadi setelah ia lulus, di mana ia sempat kesulitan mendapatkan pekerjaan sementara Alien Resident Certificate (ARC) miliknya hampir habis.

Jika tak ada pekerjaan, Bryan tak bisa menetap di Taiwan. Situasi ini hampir membuatnya menyerah dan berpikir untuk pulang ke Indonesia, hingga akhirnya ia mendapat secercah harapan dari Winmate.

“Saya sudah banyak interview tapi tidak ada balasan. Bahkan sempat mau balik. Tapi di minggu-minggu terakhir sebelum kartu identitas saya kadaluarsa, ada kesempatan pekerjaan ini dan saya langsung diterima,” ungkapnya.

Kini, Bryan berencana bertahan di luar negeri selama empat hingga lima tahun, kemudian kembali ke Indonesia untuk membangun usaha. Di sela kesibukannya bekerja, ia tetap menyalurkan hobi berolahraga, terutama bulutangkis, sebagai cara melepas penat.

Bahkan Bryan juga meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Mandarin lewat media sosial. Tujuannya tak lain ingin menularkan sekaligus bermanfaat bagi orang lain.

“Olahraga jadi salah satu cara saya menjaga semangat, apalagi saat melewati masa-masa sulit mencari kerja,” pungkasnya. 

Saat ini Tanoto Foundation membuka pendaftaran Program Beasiswa TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) untuk angkatan 2026. Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester pertama jenjang Sarjana (S1) di sepuluh perguruan tinggi mitra.

Diantaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau (Unri), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Mulawarman (Unmul).

Beasiswa ini menyasar mahasiswa berprestasi yang memiliki pengalaman berorganisasi dan potensi kepemimpinan. Selain pembiayaan penuh untuk kuliah dan tunjangan biaya hidup bulanan, penerima beasiswa yang biasa disebut Tanoto Scholar juga mengikuti pelatihan kepemimpinan terstruktur selama 3,5 tahun, mulai dari semester 2 hingga semester 8.

Program Beasiswa TELADAN ini juga terbuka bagi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang terdaftar di sepuluh perguruan tinggi mitra tersebut. Pendaftaran dibuka mulai 1 Juli hingga 7 September 2025 dan dapat diakses melalui situs resmi Tanoto Foundation di tautan bit.ly/JadiTELADAN2026. (kap/web)

Editor : Baskoro Septiadi
#Teknologi Industri #teknik mesin #Beasiswa Teladan #Universitas Diponegoro #program beasiswa #tanoto foundation