Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Katanya Bulan Agustus Puncak Kemarau Kok Turun Hujan? Begini Penjelasan BMKG

Sulistiono • Selasa, 12 Agustus 2025 | 17:10 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID - Memasuki bulan Agustus ini, kota Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah, dalam beberapa hari terakhir ini diguyur dengan intensitas sedang hingga tinggi. 

Khusus kota Semarang, sejak awal Agustus hingga memasuki pertengahan bulan sudah beberapa kali di guyur hujan deras disertai angin kencang, yang membuat sejumlah pohon di ruas jalan ibukota Jawa Tengah bertumbangan. 

Femonena hujan di bulan Agustus ini tentu agak "mengherankan" karena bulan Agustus identik dengan puncak musim kemarau.

Tentu ini menjadi tanda tanya masyarakat, faktor apa yang menyebabkan hujan turun di puncak kemarau ini?

Dan sampai kondisi ini akan terus berlangsung? 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pernyataannya memprediksi kondisi hujan di atas normal pada musim kemarau ini akan terus berlangsung sepanjang Agustus, September, dan Oktober 2025.

“Ini mengindikasikan bahwa potensi hujan di musim kemarau akan terus berlangsung hingga Oktober,” ungkap Ardhasena Sophaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG. 

Namun, menurut Ardhasena, tidak semua wilayah di Indonesia mengalami kondisi ini. Hanya sekitar 51 persen zona musim di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah memasuki kemarau pada hingga awal Agustus.

Angka ini menurutnya lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang seharusnya menunjukkan persentase wilayah kemarau lebih luas.

"Kondisi ini mengonfirmasi bahwa beberapa bulan terakhir curah hujan memang berada di atas rata-rata," jelasnya. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG ini menambahkan, penyebab utama hujan masih turun di musim kemarau ini karena h melemahnya monsun Australia.

Kondisi ini terjadi sejak bulan Maret 2025, di mana intensitas monsun Australia cenderung lebih lemah dari normal.

“Monsun Australia berperan penting membawa massa udara kering dari selatan. Ketika angin yang bertiup melemah, uap air di atmosfer tetap tinggi sehingga awan hujan mudah terbentuk,” jelasnya.

Kondisi ini di tambah dengan  suhu muka laut yang lebih hangat dari rata-rata di sebagian besar perairan Indonesia yang menyebabkan peningkatan kelembapan udara.

Faktor ini turut mendorong pertumbuhan awan konvektif yang memicu turunya hujan. "Ini adalah kondisi anomali iklim" ucap Ardhasena. 

 Baca Juga: Lirik dan Chord Lagu 17 Agustus Hari Merdeka Ciptaan Habib Husein Mutahar Semarang

Dia memprediksi dengan kondisi seperti ini, kemungkinan besar musim hujan akan datang lebih cepat yakni pada bulan September mendatang. 

"Melihat tren saat ini, kami prediksi musim hujan akan datang lebih cepat dari biasanya yakni bulan september, nanti kita akan umumkan"pungkasnya. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#monsun asutralia #CUACA #puncak kemarau #Musim Hujan #HUJAN #MUSIM KEMARAU #anomali iklim #klimatologi #BMKG