RADARSEMARANG.ID, PIHAK berwenang Iran mengumumkan pada Rabu, 6 Agustus 2025, bahwa mereka telah mengeksekusi Roozbeh Vadi, seorang warga Iran yang dituduh sebagai mata-mata untuk badan intelijen Israel, Mossad.
Vadi dihukum karena membocorkan informasi sensitif tentang seorang ilmuwan nuklir Iran yang tewas selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025.
Eksekusi ini menjadi bagian dari tindakan keras Iran terhadap dugaan jaringan spionase Israel pasca-konflik tersebut.
Menurut laporan resmi dari outlet berita yudisial Iran, Mizan, Roozbeh Vadi, seorang lulusan doktoral di bidang teknik nuklir dengan fokus pada reaktor dari Universitas Amirkabir, bekerja sebagai peneliti di Institut Penelidikan Sains dan Teknologi Nuklir di bawah Organisasi Energi Atom Iran (AEOI).
Vadi dituduh "dengan sengaja" bekerja sama dengan Mossad, memberikan informasi rahasia tentang ilmuwan nuklir yang menjadi target pembunuhan Israel selama perang Juni 2025.
Konflik tersebut, yang dipicu oleh serangan bom besar-besaran Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan sedikitnya 30 komandan militer senior dan 11 ilmuwan nuklir Iran, menurut laporan media lokal.
Mizan menyatakan bahwa Vadi direkrut secara daring oleh Mossad dan menjalani proses evaluasi oleh seorang petugas Mossad yang menggunakan alias "Alex," sebelum ditugaskan kepada seorang pengendali bernama "Kevin."
Setelah dinilai sebagai sumber bernilai tinggi karena aksesnya ke informasi rahasia di salah satu fasilitas nuklir paling sensitif di Iran, Vadi diperkenalkan ke salah satu divisi utama Mossad.
Ia dilaporkan menerima pelatihan teknis untuk menggunakan ponsel dan laptop khusus serta dua flash drive untuk komunikasi aman, yang kemudian digunakan untuk mengirimkan dokumen rahasia.
Pertemuan di Wina dan Pembayaran Kripto
Menurut dokumen pengadilan Iran, Vadi melakukan lima pertemuan rahasia dengan agen Mossad di Wina, Austria, dengan protokol keamanan tingkat tinggi, termasuk pergantian lokasi, penggantian kendaraan, pemeriksaan fisik, dan penggunaan pakaian khusus untuk pertemuan.
Selama pertemuan ini, Vadi diduga menyerahkan informasi rahasia tentang aktivitas di fasilitas nuklir tempat ia bekerja.
Sebagai imbalannya, ia menerima pembayaran bulanan melalui dompet mata uang kripto, bukan sistem pembayaran per misi, atas permintaannya sendiri. Jumlah pasti pembayaran tidak diungkapkan oleh pihak berwenang Iran.
Iran mulai memantau Vadi setelah salah satu perjalanannya ke Wina. Ia kemudian ditangkap di Teheran, meskipun tanggal pasti penangkapannya tidak diungkapkan.
Jaksa menuduhnya melakukan "spionase dan kerja sama intelijen dengan rezim Zionis dengan imbalan pembayaran tertentu," berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang tentang Memerangi Tindakan Permusuhan Rezim Zionis terhadap Perdamaian dan Keamanan, serta pasal-pasal lain dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Islam Iran.
Pengadilan memutuskan bahwa tindakan Vadi telah "mengganggu keamanan dalam dan luar negeri secara serius" serta menyebabkan "gangguan besar terhadap ketertiban umum."
Hukuman mati dijatuhkan dan disahkan oleh Mahkamah Agung Iran, dengan eksekusi dilakukan melalui gantung pada 5 Agustus 2025.
Konteks dan Tindakan Keras Iran
Eksekusi Vadi terjadi di tengah tindakan keras Iran terhadap dugaan mata-mata Israel setelah perang Juni 2025.
Menurut laporan, Israel melancarkan serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran, yang memungkinkan eliminasi sejumlah besar komandan militer dan ilmuwan nuklir.
Pejabat Iran secara terbuka mengakui bahwa keberhasilan Israel dalam serangan tersebut didukung oleh infiltrasi luas Mossad ke dalam aparat keamanan dan intelijen Iran.
Sejak berakhirnya perang, Iran telah menangkap lebih dari 700 orang yang diduga sebagai mata-mata Israel atau tokoh oposisi, menurut media yang berafiliasi dengan pemerintah.
Selain Vadi, setidaknya sembilan orang lainnya telah dieksekusi atas tuduhan spionase untuk Israel sejak Juni 2025, menurut kelompok hak asasi manusia.
Iran Human Rights melaporkan bahwa 21 eksekusi dilakukan selama periode konflik Juni, termasuk enam orang yang dituduh sebagai mata-mata Israel.
Televisi negara Iran menayangkan video pengakuan Vadi, di mana ia mengakui tuduhan terhadapnya.
Namun, kelompok hak asasi manusia seperti Amnesty International menuduh Iran memaksa tahanan untuk merekam video pengakuan di bawah tekanan, mempertanyakan keabsahan bukti tersebut.
Reaksi dan Implikasi
ksekusi Vadi menandai langkah langka Iran dalam menghukum mati seorang ilmuwan nuklir, yang biasanya dianggap sebagai pahlawan nasional karena kontribusi mereka pada program nuklir domestik.
Langkah ini juga menjadi pengakuan memalukan atas sejauh mana infiltrasi Mossad di Iran, yang telah mengguncang kepercayaan pejabat Iran terhadap keamanan dalam negeri mereka.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mengawasi Mossad, tidak memberikan komentar resmi terkait eksekusi Vadi atau tuduhan keterlibatannya dengan Israel.
Tidak ada pula komentar langsung dari keluarga Vadi atau perwakilan hukumnya.
Kelompok hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International, mengkritik tingginya angka eksekusi di Iran, mencatat bahwa Iran bertanggung jawab atas 64 persen dari total eksekusi yang tercatat di seluruh dunia pada 2024, dengan 612 eksekusi dilakukan pada paruh pertama 2025.
Beberapa analis mempertanyakan kebenaran tuduhan terhadap Vadi, menunjukkan bahwa eksekusi semacam itu bisa jadi menargetkan lawan politik rezim Iran, meskipun tidak ada bukti konkret yang mendukung klaim ini dalam kasus Vadi.
Dampak pada Hubungan Iran-IsraelEksekusi ini mempertegas ketegangan yang terus berlangsung antara Iran dan Israel, yang telah terlibat dalam perang bayangan selama bertahun-tahun.
Perang singkat pada Juni 2025 menandai eskalasi signifikan, dengan Iran melancarkan serangan rudal dan drone sebagai respons terhadap serangan Israel, yang menewaskan 29 orang dan melukai lebih dari 3.000 orang di Israel.
Iran kini fokus pada upaya pembersihan jaringan spionase Israel, termasuk pembongkaran fasilitas drone bawah tanah yang diduga dioperasikan oleh agen Mossad di Teheran dan kota-kota lain.
Kasus Vadi juga menyoroti kerentanan program nuklir Iran terhadap ancaman eksternal. Dengan akses Vadi ke informasi rahasia di AEOI, kebocoran tersebut kemungkinan memfasilitasi serangan presisi Israel terhadap ilmuwan nuklir dan infrastruktur terkait.
Para pejabat Iran bersumpah untuk mempercepat pengadilan terhadap tersangka mata-mata lainnya, menandakan bahwa tindakan keras ini mungkin akan berlanjut dalam waktu dekat.
Eksekusi Roozbeh Vadi mencerminkan tekad Iran untuk melindungi program nuklirnya dan menangani ancaman spionase dengan tangan besi.
Namun, langkah ini juga memicu pertanyaan tentang keadilan proses hukum di Iran dan potensi penyalahgunaan tuduhan spionase untuk menekan lawan politik.
Sementara ketegangan antara Iran dan Israel tetap tinggi, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi ini, yang dapat memengaruhi stabilitas regional di Timur Tengah. (tas)
Editor : Tasropi