RADARSEMARANG.ID, James Howells, pria asal Wales yang secara tidak sengaja membuang hard drive berisi 8.000 Bitcoin pada 2013, akhirnya mengakhiri pencariannya setelah 12 tahun.
Hard drive yang kini bernilai sekitar US$950 juta (Rp14,7 triliun) itu diyakini terkubur di tempat pembuangan sampah Docksway, Newport.
Spekulasi menyebutkan nilai Bitcoin tersebut bisa mencapai US$8 miliar (Rp124 triliun) pada 2030, namun peluang pemulihan hard drive semakin kecil akibat hambatan hukum dan lingkungan.
Latar Belakang Kasus
James Howells, seorang profesional IT, menambang 8.000 Bitcoin pada 2009 ketika nilai kripto tersebut masih rendah.
Namun, pada 2013, ia secara tidak sengaja membuang hard drive yang menyimpan kunci privat Bitcoin-nya ke tempat pembuangan sampah.
Pada Februari 2025, nilai Bitcoin tersebut diperkirakan mencapai £597 juta (US$751 juta), dan pada Agustus 2025, nilainya melonjak menjadi sekitar US$950 juta seiring kenaikan harga Bitcoin.
Selama lebih dari satu dekade, Howells berupaya memulihkan hard drive tersebut.
Ia membentuk tim spesialis, menggalang dana, dan menawarkan bagi hasil 10–30% dari nilai Bitcoin kepada Pemerintah Kota Newport dan komunitas setempat.
Namun, pihak berwenang terus menolak izin penggalian karena alasan lingkungan dan hukum, dengan menyatakan bahwa hard drive tersebut adalah properti mereka.
Pada Januari 2025, Pengadilan Tinggi Inggris menolak gugatan Howells terhadap Pemerintah Kota Newport, dan bandingnya ditolak pada Maret 2025.
Kini, ia dilaporkan telah menyerah karena hambatan yang tidak dapat diatasi.
Proyeksi Nilai US$8 Miliar pada 2030
Spekulasi bahwa 8.000 Bitcoin tersebut bisa bernilai US$8 miliar pada 2030 muncul dari prediksi harga Bitcoin yang mencapai US$1 juta per koin.
Untuk mencapai nilai tersebut, harga Bitcoin harus tumbuh rata-rata 52% per tahun dari harga saat ini, sekitar US$118.750 per koin (berdasarkan nilai total US$950 juta untuk 8.000 Bitcoin).
Meski Bitcoin pernah mengalami lonjakan harga signifikan, seperti pada 2016–2017 dan 2020–2021, prediksi ini tetap spekulatif karena harga kripto sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh regulasi, risiko teknologi, serta sentimen pasar.
Selain itu, kondisi fisik hard drive menjadi kendala besar. Setelah 12 tahun terkubur di tempat pembuangan sampah, hard drive kemungkinan besar telah rusak akibat korosi, sehingga data di dalamnya sulit atau bahkan tidak mungkin dipulihkan.
Hal ini membuat nilai US$8 miliar tersebut menjadi tidak relevan kecuali hard drive berhasil ditemukan dan datanya masih utuh.
Mengapa Howells Menyerah?
Keputusan Howells menghentikan pencarian dipicu oleh kegagalan hukum dan tantangan praktis. Pemerintah Kota Newport menolak penggalian karena dampak lingkungan, mengingat hard drive tersebut terkubur di antara 1,4 juta ton sampah, diperkirakan di bawah 100.000–200.000 ton limbah.
Proses penggalian dianggap akan mengganggu lingkungan sekitar dan memerlukan biaya besar. Setelah gagal dalam gugatan dan banding, Howells sempat mempertimbangkan untuk membeli lahan tempat pembuangan tersebut, tetapi upaya ini juga terhenti.
Kini, sebuah dokumenter berjudul The Buried Bitcoin sedang diproduksi untuk menceritakan perjuangannya.
Respon Publik dan Pelajaran
Kisah Howells memicu beragam reaksi di media sosial, khususnya di platform X.
Banyak yang menyampaikan simpati, tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keamanan aset digital.
Seorang pengguna X menulis, “Amankan aset Anda. Satu kesalahan bisa merugikan segalanya.” Ada juga spekulasi bahwa kisah ini mungkin berlebihan atau hoaks, meskipun tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.
Meskipun nilai 8.000 Bitcoin Howells berpotensi mencapai US$8 miliar pada 2030 jika harga Bitcoin menyentuh US$1 juta, prediksi ini sangat spekulatif.
Hambatan hukum, lingkungan, dan kerusakan fisik hard drive membuat pemulihan hampir tidak mungkin, mendorong Howells untuk mengakhiri pencariannya.
Kisah ini menjadi pengingat penting tentang risiko penyimpanan mata uang kripto dan konsekuensi kehilangan kunci privat. (tas)
Editor : Tasropi