RADARSEMARANG.ID – Praja Muda Karana atau dikenal dengan akronim Pramuka merupakan salah satu organisasi pendidikan non-formal di Indonesia.
Dalam Pramuka, para anggota akan diajarkan konsep-konsep kepanduan yang meliputi kedisiplinan, akhlak mulia, watak, dan budi pekerti.
Hari Ulang Tahun (HUT) Pramuka di Indonesia diperingati setiap tanggal 14 Agustus. Tahun ini, organisasi Pramuka di Indonesia akan memasuki usia ke-64.
Lantas, bagaimana sejarah hari jadi Pramuka di Indonesia? Simak penjelasan berikut ini.
Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hari Pramuka di Indonesia sudah diadakan sejak tahun 1961. Organisasi Pramuka sendiri sebenarnya sudah ada sejak era kolonialisme Belanda.
Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) adalah nama organisasi kepanduan yang didirikan pemerintah Belanda. Saat itu, anggota yang diterima hanya orang-orang keturunan Belanda.
Kemudian, di tahun 1941-an diadakan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem di Yogyakarta yang sekaligus menjadi dasar penting pembentukan Pandu Rakyat Indonesia.
Tahun 1948, pemerintah Belanda melarang kegiatan Pandu Rakyat Indonesia. Hal itu menyebabkan banyak organisasi baru yang dibentuk, seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM), dan ratusan organisasi lainnya.
Namun, nyatanya seluruh organisasi tersebut belum mampu disatukan.
Barulah di tahun 1959, ketika Presiden Soekarno menghadiri Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Desa Semanggi, gagasan untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan mencapai puncaknya.
Bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono, Gerakan Pramuka akhirnya diresmikan pada 9 Maret 1961.
Melalui upacara di Istana Negara pada tanggal 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka pertama kali diperkenalkan secara resmi ke publik. Peresmian ini sekaligus ditetapkan sebagai Hari Pramuka di Indonesia.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama sekaligus Bapak Pramuka Indonesia. (mg2)
Editor : Baskoro Septiadi