RADARSEMARANG.ID, TRADISI Pacu Jalur, lomba dayung perahu tradisional khas Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, yang telah berusia lebih dari seabad, kini mencuri perhatian dunia melalui tren Aura Farming di media sosial, khususnya TikTok, pada medio 2025.
Sorotan utama tertuju pada tarian lincah anak-anak di ujung perahu, yang dikenal sebagai Anak Coki, serta dua peran penting lainnya: Tukang Timbo dan Tukang Onjai, yang membuat tradisi ini semakin memukau.
Anak Coki: Penari Cilik Penuh Aura
Dalam lomba Pacu Jalur, perahu panjang yang disebut jalur—berukuran hingga 40 meter dan didayung hingga 60 orang—menjadi panggung bagi Anak Coki, penari cilik yang berdiri di ujung depan perahu.
Tarian mereka, yang menyerupai liukan ular atau naga, bukan sekadar hiburan. Gerakan Anak Coki memiliki makna mendalam: menghadap belakang untuk menyemangati pendayung, menghadap depan menandakan perahu memimpin, dan bersujud syukur saat finish jika tim menang.
Tubuh ringan anak-anak dipilih untuk menjaga keseimbangan perahu, sementara tarian energik mereka memancarkan “aura” yang memikat, hingga netizen menjulukinya Boat Kid Aura Farming.
Baca Juga: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Minta Setop Ganggu Kades dan Hidupkan 3 Pilar di Desa
Tukang Timbo dan Tukang Onjai: Pilar Penting di Jalur
Tak hanya Anak Coki, dua sosok lain turut menghidupkan dinamika Pacu Jalur. Di bagian tengah perahu, Tukang Timbo berdiri gagah, meniup peluit dan memberi aba-aba untuk mengatur kecepatan pendayung.
Ia juga sesekali membuang air dari perahu dan memukul pelepah pinang tua sebagai isyarat semangat.
Sementara itu, di bagian belakang, Tukang Onjai memegang selembayung jalur (ekor perahu) untuk mengarahkan perahu agar tetap pada jalur yang benar.
Ketiga peran ini menciptakan harmoni visual dan fungsional yang memukau.
Tren Aura Farming yang Mengglobal
Tarian Anak Coki yang penuh energi, diiringi irama musik tradisional dan ketipan dayung, menjadi viral di TikTok berkat karisma dan semangatnya.
Netizen menyebutnya Aura Farming karena tarian ini seolah “mengumpulkan energi positif” untuk tim.
Video-video penampilan mereka telah menarik perhatian dunia, bahkan klub sepak bola seperti KSI dan PSG ikut meramaikan tren ini di media sosial.
Fakta Menarik Pacu Jalur
Menurut ejournal-fkip.unisi.ac.id, Pacu Jalur bukan sekadar lomba, tetapi warisan budaya yang kaya:
1. Usia Ratusan Tahun
Bermula sejak awal abad ke-20 sebagai bagian ritual Islam atau panen raya, kini menjadi festival tahunan di Sungai Batang Kuantan.
2. Perahu Raksasa
Jalur dihias ukiran indah dengan ornamen kepala naga atau garuda, panjangnya hingga 40 meter.
3. Tari Pembuka
Penari lokal, termasuk anak-anak, membuka lomba dengan kostum adat Melayu, menambah kemeriahan.
4. Wisatawan Global
Promosi Kementerian Pariwisata menarik turis Asia dan Eropa untuk menyaksikan langsung.
5. Menuju UNESCO
Pacu Jalur masuk Kharisma Event Nusantara dan diusulkan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.
6.Simbol Gotong Royong
Tradisi ini mencerminkan kekompakan dan identitas masyarakat Kuansing.
Menuju Panggung Dunia
Dengan visual megah, tarian Anak Coki yang memukau, dan nilai gotong royong yang kuat, Pacu Jalur tak hanya menjadi kebanggaan Riau, tetapi juga magnet budaya dunia.
Festival ini membuktikan bahwa tradisi lokal bisa bersinar di panggung global, terutama melalui kekuatan media sosial.(tas)
Editor : Tasropi