RADARSEMARANG.ID, LAPORAN dari Media New York pada 14 Juni 2025 menyebutkan bahwa serangan udara Israel telah menargetkan area di dekat kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan Presiden Masoud Pezeshkian di Tehran.
Informasi ini didukung oleh kesaksian warga lokal yang melaporkan aktivitas sistem pertahanan udara yang intens selama berjam-jam di sekitar kompleks kepresidenan di luar kota.
Wilayah yang sama juga mencakup kediaman Khamenei, memicu kekhawatiran akan eskalasi langsung dalam konflik berkelanjutan antara Israel dan Iran.
Berdasarkan sumber-sumber terpercaya, termasuk laporan dari Media New York dan Media Israel, serangan Israel pada 13 Juni 2025 menyasar berbagai target strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir, pangkalan militer, dan infrastruktur penting seperti depot minyak di Tehran.
Warga di lingkungan Pastour, tempat kediaman Ali Khamenei dan Pezeshkian berada, melaporkan ledakan berulang dan tembakan sistem pertahanan udara pada malam hari.
Meski tidak ada konfirmasi resmi bahwa kediaman kedua pemimpin ini menjadi target langsung, kedekatan serangan dengan lokasi sensitif ini menandakan peningkatan intensitas operasi Israel.
Media lokal Iran, seperti Fars News Agency, melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan lebih dari 70 orang dan melukai ratusan lainnya pada 13 Juni 2025, termasuk komandan militer senior dan ilmuwan nuklir.
Namun, otoritas Iran belum mengkonfirmasi kerusakan spesifik di dekat kediaman Khamenei atau Pezeshkian.
Sementara itu, postingan di platform X menyebutkan serangan di kawasan Pastour dan Lavizan, yang diyakini sebagai lokasi bunker Khamenei, meskipun klaim ini belum diverifikasi secara independen dan harus diperlakukan dengan hati-hati.
Respons Iran dan Israel
Ayatollah Ali Khamenei, dalam pernyataan yang disiarkan televisi negara pada 18 Juni 2025, mengutuk serangan Israel sebagai "kesalahan besar" dan bersumpah untuk memberikan "hukuman" kepada Israel.
Ia juga memperingatkan bahwa intervensi militer AS akan menyebabkan "kerusakan yang tidak dapat diperbaiki."
Dalam sebuah pernyataan Khamenei menyatakan, "Pertempuran sebenar kini bermula, Iran tidak akan tunjuk belas kasihan terhadap rezim Zionis," menandakan tekad Iran untuk membalas.
Sebagai respons, Iran meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal balistik ke Israel pada 18 Juni 2025, dengan sekitar 30 proyektil dilaporkan ditembakkan, sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Serangan Iran ini menewaskan sedikitnya 24 warga sipil di Israel dan melukai sekitar 600 orang, menurut laporan resmi.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan terhadap Iran diperlukan untuk mencegah Tehran memperoleh senjata nuklir, yang ia sebut sebagai "ancaman nyata" bagi kelangsungan hidup Israel.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan bahwa "Tehran akan terbakar" jika Iran terus menyerang warga sipil Israel, menegaskan bahwa warga Iran, khususnya di Tehran, akan "membayar harga mahal" atas tindakan rezim mereka.
Peran Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump, yang dilaporkan mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam konflik ini, menyerukan "penyerahan tanpa syarat" dari Iran pada 18 Juni 2025, sebuah pernyataan yang disebut Khamenei sebagai "mengancam dan konyol."
Trump juga menolak usulan Israel untuk membunuh Khamenei, menurut laporan CBS News pada 16 Juni 2025, dengan menyampaikan kepada Netanyahu bahwa itu "bukan ide yang baik."
Meski begitu, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah untuk melindungi aset-asetnya, dan intelijen AS dilaporkan telah membantu Israel dalam serangan terhadap target-target Iran.
Dampak dan Eskalasi
Serangan Israel telah merusak infrastruktur penting Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz dan depot minyak di Shahran, yang menyebabkan ledakan besar dan ancaman terhadap lingkungan pemukiman.
Lebih dari 224 orang dilaporkan tewas di Iran akibat serangan ini, menurut Kementerian Kesehatan Iran.
Di Tehran, warga melaporkan kepanikan massal, dengan kemacetan lalu lintas parah saat banyak yang berusaha mengungsi.
Konflik ini, yang memasuki hari keenam pada 18 Juni 2025, telah memicu kekhawatiran global akan perang regional yang lebih luas.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak semua pihak untuk menghindari "internasionalisasi konflik," memperingatkan bahwa intervensi militer tambahan dapat memiliki "konsekuensi besar" bagi kawasan dan perdamaian internasional.
Pemimpin dunia, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, juga menyerukan diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Analisis dan Prospek
Serangan di dekat kediaman Khamenei dan Pezeshkian menandakan strategi Israel untuk menekan kepemimpinan Iran secara langsung, meskipun tanpa bukti bahwa mereka menjadi target spesifik.
Langkah ini dapat memperdalam perpecahan internal di Iran, di mana Presiden Pezeshkian, yang mewakili faksi moderat, menghadapi tekanan dari garis keras yang dipimpin Khamenei.
Beberapa analis memperingatkan bahwa eskalasi ini dapat melemahkan rezim Iran, tetapi juga berisiko memicu respons yang lebih agresif, termasuk serangan terhadap pangkalan AS di kawasan.
Untuk saat ini, kedua belah pihak tampak terkunci dalam siklus pembalasan, dengan sedikit prospek untuk gencatan senjata dalam waktu dekat.
Komunitas internasional terus memantau situasi, dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa tidak ada peningkatan level radiasi di fasilitas nuklir yang diserang, meskipun kerusakan signifikan dilaporkan.
Serangan Israel di dekat kediaman pemimpin tertinggi dan presiden Iran menandai babak baru dalam konflik yang telah menewaskan ratusan orang dan mengancam stabilitas kawasan.
Meskipun laporan awal telah dikonfirmasi oleh sumber-sumber terpercaya, detail spesifik tentang target dan dampak di lingkungan sensitif ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Ketegangan yang meningkat antara Israel, Iran, dan potensi keterlibatan AS menyoroti urgensi diplomasi untuk mencegah perang yang lebih luas.(tas)
Editor : Tasropi