RADARSEMARANG.ID, Ketegangan di Timur Tengah kian memuncak.
Setelah Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel pada Jumat malam waktu setempat.
Serangan ini merupakan respons langsung atas aksi militer Israel.
Israel lebih dulu menghantam fasilitas nuklir dan basis militer Iran pada sehari sebelumnya.
Pada operasi yang dijuluki "True Promise III, militer Iran mengerahkan lebih dari 100 rudal balistik.
Selain itu juga ratusan drone bersenjata.
Target utama mencakup kawasan Tel Aviv, Ramat Gan, hingga pinggiran Yerusalem.
Ledakan terdengar hingga radius belasan kilometer.
Tentu saja, hal itu memicu kepanikan warga sipil.
Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome dan Arrow, dikerahkan secara maksimal untuk menahan gempuran.
Meski sebagaian besar proyektil berhasil dicegat, sejumlah rudal dikonfirmasi menghantam area strategis.
Termasuk pangkalan militer IDF di Tel Aviv yang dilaporkan mengalami kerusakan serius.
Kementrian Kesehatan Israel mencatat setidaknya 2 warga sipil tewas.
Lebih dari 40 orang luka-luka akibat serpihan dan ledakan.
Di sisi lain, Iran menyebut serangan balasan ini sebagai jawaban atas tumpahnya darah rakyat.
Dalam serangan Israel ke Natanz dan Fordow yang menewaskan 78 orang.
Termasuk ilmuwan nuklir dan komandan Garda revolusi.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bentuk pembalasan yang tepat dan perlu.
Guna memeringatkan bahwa Iran siap melanjutkan perlawanan jika Israel kembali menyerang.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidato darurat menyebut bahwa negaranya tidak akan mundur.
Bahkan siap untuk melanjutkan operasi militer selama yang diperlukan.
Situasi ini mengundang perhatian global.
PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan beberapa negara Timur Tengah mendesak kedua pihak untuk menahan diri.
Selain itu juga mencegah eskalasi lebih lanjut.
(cheyla)
Editor : Tasropi