RADARSEMARANG.ID - Potret dari Strawberry Moon yang hiasi langit Indonesia semalam, Selasa (11/6/2025), fenomena ini jadi bulan purnama bulan Juni yang yang terendah sejak 2006.
Meski namanya 'Strawberry Moon', warna bulan bukan merah seperti stroberi, melainkan oranye hingga kemerahan akibat posisinya yang sangat rendah di langit karena fenomena major lunar standstill.
Baca Juga: Indahnya Fenomena Langka Super Moon Menghiasi Langit Malam Ini, Akankah Ada Dampaknya?
Nama tersebut berasal dari tradisi Amerika Utara yang menyebut bulan purnama ini sesuai dengan musim panen stroberi.
Bulan purnama ini akan berada rendah di cakrawala selatan berkat fenomena orbit yang dikenal sebagai bulan mati suri.
Selama bulan berhenti total, bulan dapat terlihat terbit dan terbenam pada posisi yang lebih ekstrem di cakrawala, dengan mengikuti jalur yang sangat tinggi atau rendah melalui langit malam tergantung pada waktu dalam setahun.
Baca Juga: Fenomena Langka, Warga Berburu Ribuan Kerang yang Terdampar di Pantai Sendang Sikucing
Pengamat luar angkasa, Marwella Zhang berhasil menangkap potret detail Bulan Bunga sekitar tengah malam dari Pulau Bangka di Indonesia, bergulat dengan kabut yang disebabkan oleh badai tropis.
"Setelah matahari terbenam, langit mulai cerah," kata Zhang mengutip dari laman Space.com
Baca Juga: Tanpa Disadari, Berikut Ini 7 Kebiasaan Buruk yang Perlahan Akan Merusak Otak Kalian
"Saya mengambil gambar pertama, tetapi langit masih berkabut. Menjelang tengah malam, seperti yang telah diprediksi, langit menjadi cerah, dan saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil gambar bulan yang lebih baik," imbuhnya.
Baca Juga: Begini Metode Belajar yang Efektif Seperti Mahasiswa Harvard Dalam 7 Hari, Rasakan Perubahannya
Bulan Stroberi bulan Juni terjadi dekat dengan titik balik matahari selatan, bagi mereka yang berada di belahan bumi selatan yang berarti bulan tidak pernah berada pada posisi yang sangat tinggi di langit sejak awal.
Bulan berhenti total dengan menjadikan bulan purnama bulan Juni sebagai bulan purnama terendah dalam hampir dua dekade.
Editor : Baskoro Septiadi