RADARSEMARANG.ID, Indonesia dan Iran baru-baru ini menjadi sorotan dunia karena cara unik masing-masing negara menangani tema neraka.
Di Indonesia, media sosial diramaikan oleh kontroversi video berbasis kecerdasan buatan (AI) berjudul Hari Pertama di Neraka dan Hari Kedua di Neraka, yang memicu kecaman keras dari tokoh agama hingga anggota DPR.
Sementara itu, di Iran, sebuah taman bertema neraka sungguhan diresmikan di kota Fuman, Provinsi Gilan, pada 2025, sebagai upaya pendidikan agama yang serius namun kontroversial.
Mari kita ulas secara komprehensif kedua fenomena tersebut, mengeksplorasi konteks, reaksi masyarakat, dan implikasi lebih luas dari dua pendekatan yang berbeda dalam menggambarkan neraka.
Konten AI Hari Pertama di Neraka di Indonesia: Humor yang Memantik Amarah
Pada 2 Juni 2025, akun TikTok @veo3sesat mengunggah video pendek berjudul Hari Pertama Masuk Neraka Cek (9 detik) dan AI, Hari Kedua di Neraka Cek Part 1 (41 detik), yang diduga dibuat menggunakan teknologi AI seperti Google Veo.
Video ini menampilkan karakter buatan AI di lingkungan neraka dengan visual kobaran api dan kolam lava merah menyala.
Dengan nada humoris, karakter dalam video berkomentar, “Hari pertama di neraka guys, bareng teman lama gw, ternyata masuk neraka juga,” dan menyebut kolam lava sebagai “kolam rebus dosa” dengan suhu “3.000 derajat, anget-anget kuku lah ya.”
Ada pula adegan “berwisata” di neraka, dengan kalimat seperti, “Liburan dulu guys, nyobain mandi lava, ternyata seru juga, panasnya mantul.”
Konten ini awalnya viral karena pendekatan humorisnya, namun segera memicu gelombang kecaman.
Menurut data kami himpun video ini ditonton lebih dari 5 juta kali dalam seminggu, dengan tagar #HariPertamaDiNeraka menjadi trending topic di X, menghasilkan lebih dari 50.000 cuitan.
Reaksi netizen terbagi: sekitar 30% menganggapnya sebagai kreativitas, sementara 70% menilainya sebagai pelecehan terhadap ajaran agama.
Kecaman dari Tokoh Agama dan Pemerintah
Kontroversi ini mencapai puncaknya ketika tokoh agama dan pejabat publik angkat bicara. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan, Utang Ranuwijaya, menyebut video ini sebagai “pendangkalan akidah Islam” yang menyederhanakan neraka menjadi bahan candaan.
Ia merujuk pada hadis Qudsi yang menyatakan bahwa neraka adalah sesuatu yang tidak bisa dibayangkan manusia, dan meminta pembuat konten diproses hukum berdasarkan UU ITE, UU PNPS No. 1 Tahun 1965, dan KUHP Pasal 156a tentang penodaan agama.
Ketua PBNU, Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menegaskan bahwa menertawakan neraka bisa dianggap murtad jika pelakunya Muslim, karena merendahkan janji dan azab Allah.
Di Malaysia, ulama Azhar Idrus bahkan menyatakan bahwa pembuat video, jika Muslim, “haram ditanam di kuburan orang Islam,” merujuk pada Surah At-Taubah ayat 65–66.
Sementara itu, anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menyebut konten ini “miris” dan meminta penggunaan AI dilakukan secara etis.
Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, mengusulkan regulasi baru untuk mengatur konten AI.
Menanggapi kecaman, pemilik akun @veo3sesat meminta maaf dan menghapus video tersebut, tetapi kontennya sudah diunggah ulang oleh akun lain, seperti @rizkyaulia di Instagram, sehingga sulit dihentikan penyebarannya.
Inspirasi dari Arif Brata?
Meski konten AI ini berdiri sendiri, beberapa netizen menduga ada pengaruh dari konten satir sebelumnya karya komedian Arif Brata berjudul Hari Pertama di Neraka pada akhir 2024.
Konten Arif Brata, yang juga viral, menggambarkan skenario fiktif di neraka dengan pendekatan komedi, namun tanpa teknologi AI.
Konten tersebut menuai kontroversi serupa, dengan MUI menyebutnya menodai agama. Namun, video AI terbaru ini dianggap lebih provokatif karena visualnya yang realistis dan narasi yang lebih eksplisit.
Taman Neraka di Iran: Pendekatan Fisik untuk Pendidikan Agama
Sementara Indonesia bergulat dengan kontroversi digital, Iran mengambil pendekatan yang jauh berbeda dengan meresmikan taman bertema neraka di kota Fuman, Provinsi Gilan, pada awal 2025.
Proyek ini digagas oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan dirancang untuk menggambarkan konsep neraka dalam Islam secara visual dan interaktif.
Menurut The Guardian dan Al-Monitor, taman ini dilengkapi dengan elemen seperti “Jembatan Sirat”—jembatan sempit yang harus dilalui manusia di akhirat—dan area yang merepresentasikan “keadaan kubur”.
Api sungguhan digunakan di beberapa bagian untuk menciptakan suasana mencekam, lengkap dengan papan informasi yang menjelaskan dosa-dosa tertentu berdasarkan teologi Islam Syiah.
Tujuan taman ini adalah mendidik masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, tentang konsekuensi dosa dan pentingnya ketaatan pada hukum syariah.
Menurut Media Tehran, taman ini dikunjungi sekitar 10.000 orang dalam bulan pertama, mayoritas keluarga dan pelajar yang diorganisasi oleh sekolah-sekolah setempat.
Namun, proyek ini menuai kritik dari kalangan liberal Iran, yang menunjukkan bahwa pendekatan ini berpotensi menakut-nakuti dan memicu trauma, terutama pada anak-anak.
Meski begitu, otoritas Iran berencana melengkapi proyek ini dengan taman bertema surga untuk menggambarkan imbalan keimanan.
Perbandingan Pendekatan: Digital vs Fisik, Hiburan vs Edukasi
Kedua fenomena ini menunjukkan kontras mencolok dalam cara masyarakat Indonesia dan Iran menangani tema neraka.
Di Indonesia, konten AI Hari Pertama di Neraka mencerminkan dinamika media sosial yang cepat dan terbuka, di mana kebebasan berekspresi sering kali bertabrakan dengan sensitivitas agama.
Dengan lebih dari 200 juta pengguna media sosial aktif (Hootsuite, 2025), Indonesia menjadi ladang subur bagi konten viral, tetapi juga rawan konflik sosial.
Konten ini, meski dimaksudkan sebagai hiburan, dianggap melanggar batas etika dan kesakralan agama.
Sebaliknya, taman neraka Iran adalah proyek resmi yang mencerminkan pendekatan teokratis, di mana agama terintegrasi dalam kebijakan publik.
Pendekatan fisik dan serius ini bertujuan membentuk moral masyarakat, tetapi dikritik karena terlalu menakutkan dan kurang fleksibel untuk menerima kritik.
Jika Indonesia menghadapi debat terbuka di ruang digital, diskusi di Iran cenderung dibatasi oleh kontrol pemerintah.
Implikasi Lebih Luas: Etika Teknologi dan Sensitivitas Agama
Kedua fenomena ini menyoroti tantangan dalam menyampaikan tema agama di era modern.
Konten AI di Indonesia menunjukkan bagaimana teknologi seperti Google Veo dapat menciptakan visual realistis yang memengaruhi persepsi publik, namun juga berisiko jika digunakan tanpa tanggung jawab.
Kecaman dari MUI, PBNU, dan DPR menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat untuk mengatur penggunaan AI, terutama di negara dengan masyarakat religius seperti Indonesia.
Di sisi lain, taman neraka Iran menunjukkan bahwa pendekatan tradisional pun tidak luput dari kritik.
Dengan lebih dari 20.000 postingan di X yang membahas taman ini sejak peresmian, proyek ini menjadi cerminan bagaimana negara-negara teokratis menggunakan infrastruktur fisik untuk memperkuat narasi agama, namun harus menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pendidikan dan dampak psikologis.
Kontroversi video AI Hari Pertama di Neraka di Indonesia dan taman bertema neraka di Iran menawarkan dua perspektif unik tentang bagaimana tema akhirat disampaikan di ruang publik.
Indonesia menghadapi dilema antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas agama dalam ranah digital, sementara Iran memilih pendekatan fisik yang serius untuk menanamkan nilai moral.
Keduanya membuktikan bahwa neraka, sebagai konsep teologis, tetap memiliki daya tarik untuk memicu diskusi, baik melalui taman sungguhan maupun konten digital.
Yang pasti, fenomena ini mengingatkan kita akan pentingnya kepekaan dan etika dalam menyampaikan isu agama di era teknologi modern. Agak laen, bukan? (tas)
Editor : Tasropi