RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sepasang suami istri asal Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, nekat menempuh perjalanan 15 jam menuju Bandung.
Bukan untuk berlibur, melainkan demi masa depan anak laki-laki mereka yang masih duduk di bangku SMK kelas 10.
Keduanya ingin bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dikenal tegas dan konsisten dalam pembinaan karakter pemuda.
Pasangan tersebut datang dengan harapan agar Kang Dedi bersedia menerima anaknya untuk dibina secara disiplin di barak militer.
Ini bukan karena anak mereka yang dalam tahap berproses atau ingin menjadi tentara.
Sebaliknya, permintaan itu diajukan karena sang anak telah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba jenis sabu.
"Kamu datang ke sini dengan penuh kesadaran. Kami titipkan anak kami secara sukareka," ucap sang ayah berinisial BH.
Ia dan istrinya mengaku sudah kehabisan cara untuk menyelamatkan putra mereka dari kecanduan.
BH juga mengatakan bahwa dirinya siap menandatangani pernyataan resmi agar anaknya benar-benar mendapat pembinaan ketat.
Selain itu, apabila terjadi pelanggaran selama masa pembinaan, keduanya siap bertanggung jawab penuh.
"Kami bukan ingin menghukum, tapi kami ingin dia sembuh dan punya masa depan yang lebih baik," tambahnya.
Pada pertemuan yang difasilitasi Kang Dedi Mulyadi (KDM), remaja tersebut diminta berbicara sejara jujur tentang kebiasaannya.
Ia mengaku sudah memakai sabu selama beberapa bulan terakhir, dan saat ini sudah berhenti sekitar seminggu.
Namun, dengan jujur ia mengatakan bahwa keinginannya untuk kembali memakai masih tinggi.
"Saya pakai uang jajan. Dikasih Rp25 ribu sehari, terus saya minta-minta tambahan dari orang tua, pura-pura buat tugas sekolah, padahal buat beli sabu," ungkapnya.
Ia menyebut harga satu paket sabu sekitar Rp100 ribu yang didapatkan dari lingkungan pergaulannya di Palembang.
Ketika ditanya KDM terkait kesediaannya untuk tinggal dan dibina di barak, sang anak menjawab tegas.
"Setuju. Saya ingin sembuh," tegasnya.
Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan pendekatannya yang unik terhadap anak-anak muda bermasalah, menanggapi permintaan tersebut dengan hati-hati dan empati.
Ia menjelaskan bahwa metode barak bukan untuk menghukum.
Melainkan untuk membentuk kembali mental, disiplin, dan rasa tanggung jawab.
"Kalau kamu ingin berubah, kamu harus ikhlas. Bukan karena takut dihukum, tapi karena ingin punya hidup baru," kata Dedi.
Beliau juga menanyakan kepada orang tua anak apakah benar-benar siap menerima segala resikonya.
Namun, pasangan tersebut justru menyatakan dukungan penuh.
"Kami percaya Kang Dedi bisa membina anak kami. Kami sudah buntu," ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Menanggapi kasus ini, Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) OKI, AKBP Gendi Marzanto, mengatakan bahwa anak tersebut masuk dalam kategori pecandu dan berhak mendapat layanan rehabilitasi.
Ia menegaskan bahwa pemerintah menyediakan layanan rehabilitasi secara gratis, baik rawat jalan maupun rawat inap.
"Yang jelas, kamu dari BNNK siap melakukan rehabilitasi. Orang tua bisa membawa anak ke kantor kami dan kita akan fasilitasi sesuai prosedur yang berlaku," ujarnya.
AKBP Gendi mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak ragu mengakses layanan rehabilitasi.
Kisah ini viral di media sosial setelah diunggah dalam bentuk video di Instagram resmi Dedi Mulyadi.
Warganet menyambut dengan beragam komentar.
Mayoritas memberikan dukungan kepada orang tua sang anak dan mengapresiasi kesediaan Kang Dedi untuk membantu.
"Sungguh langka ada orang tua seberani ini. Demi anak, mereka tempuh perjalanan jauh dan rela mempermalukan diri," tulis seorang netizen.
Adapula yang mengungkapkan, "Salut untuk Kang Dedi yang tidak hanya marah, tapi juga memberi solusi. Indonesia butuh lebih banyak pemimpin seperti ini."
Kisah ini bukan hanya perkara seorang anak yang terjerumus narkoba.
Ini adalah kisah tentang cinta orang tua, harapan, dan kesempatan kedua.
Editor : Baskoro Septiadi