RADARSEMARANG.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali jadi sorotan publik gara-gara program barak militer untuk siswa yang dianggap "nakal".
Meski menuai pro dan kontra, program ini justru bikin nama Dedi makin sering dibicarakan, bahkan disebut-sebut sebagai strategi politik menjelang Pilpres 2029.
Program ini sebenarnya bernama Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Bela Negara Kekhususan, ditujukan untuk siswa yang terlibat tawuran, kecanduan gim, merokok, hingga bolos sekolah.
Selama 14 hari, mereka digembleng di barak militer milik TNI, seperti di Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Purwakarta.
Di sana, mereka tidur di velbed, makan bersama, dan ikut latihan bela diri serta kegiatan disiplin lainnya.
Baca Juga: Maia Estianty Hanya Tampak Sebentar di Pernikahan Al Ghazali, Netizen Soroti Peran Mulan Jameela
Reaksi publik pun beragam. Sebagian orang tua merasa terbantu karena anaknya menunjukkan perubahan positif, seperti lebih disiplin dan rajin beribadah.
Namun, ada juga yang khawatir program ini melanggar hak anak dan terlalu keras. Komnas HAM bahkan menerima laporan dari orang tua yang tidak setuju anaknya dikirim ke barak militer.
Psikolog anak pun mengkritik durasi 14 hari yang dinilai terlalu singkat untuk membentuk karakter secara mendalam.
Meski begitu, Dedi tetap yakin dengan programnya. Ia menyebut bahwa hanya anak-anak dengan perilaku ekstrem yang dikirim ke barak, dan itu pun setelah melalui proses konseling dan seleksi ketat.
Ia juga menegaskan bahwa program ini bukan bentuk hukuman, melainkan upaya pembinaan karakter.
Namun, Dedi tetap teguh pada pendiriannya. Ia menegaskan bahwa program ini bukan bentuk hukuman, melainkan upaya pembinaan karakter.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Minta Percepatan Revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas dalam Tempo Satu Tahun
Bahkan, dalam sebuah momen emosional, Dedi memeluk siswa peserta program dan menyatakan kesiapannya menjadi orang tua asuh bagi mereka yang membutuhkan.
Ia juga berkomitmen untuk membiayai pendidikan mereka hingga jenjang yang lebih tinggi.
Menariknya, di tengah kontroversi ini, popularitas Dedi justru meningkat. Ia dianggap berani mengambil langkah tegas untuk mengatasi degradasi moral remaja.
Beberapa pengamat politik bahkan menilai program ini sebagai strategi untuk meningkatkan elektabilitas Dedi menjelang Pemilu 2029.
Apakah program barak militer ini akan terus berlanjut dan menjadi model bagi daerah lain? Atau justru akan dihentikan karena tekanan publik?
Yang jelas, Dedi Mulyadi berhasil menarik perhatian nasional dengan langkah kontroversialnya ini.
Editor : Baskoro Septiadi