Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Lebih dari Sekadar Mengajar: Guru-Guru di Jambi Ini Menantang Bahaya Demi Bisa Mengajar Anak Desa

Feriadi Tampubolon • Sabtu, 17 Mei 2025 | 16:28 WIB

 

Perjuangan guru SD saat menyebrangi sungai lewat jembatan gantung yang rusak.
Perjuangan guru SD saat menyebrangi sungai lewat jembatan gantung yang rusak.

RADARSEMARANG.ID, Di tengah hiruk pikuk kemajuan kota dan perkembangan teknologi, masih tersembunyi banyak cerita perjuangan guru di daerah terpencil yang jarang mendapat sorotan.

Salah satunya terjadi di Desa Aur Berduri, Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, Jambi. Di desa ini, para guru rela mempertaruhkan nyawa demi mengajar anak-anak bangsa, melewati jembatan gantung yang rusak parah.

Baca Juga: Eksepsi Eks Calon Wakil Bupati Purbalingga Zaini Makarim dalam Korupsi Pembangunan Jembatan Merah Ditolak Majelis Hakim

Jembatan gantung sepanjang 100 meter dengan lebar satu meter yang menjadi akses utama menuju sekolah mengalami kerusakan parah sejak lima bulan lalu.

Gantungan kawat baja putus, lantai jembatan miring 90 derajat, dan beberapa bagian keropos termakan usia.

Akibatnya, para guru dan siswa harus bergelantungan pada tali jembatan yang tersisa untuk menyeberangi sungai deras demi sampai ke sekolah.

Baca Juga: Honda Spacy Mulai Diburu Modifikator dan Penggemar Otomotif, Ada Apa?

Meskipun menghadapi risiko besar, para guru tetap menjalankan tugas mulianya. Mereka meninggalkan kendaraan di seberang sungai dan berjalan kaki melewati jembatan yang nyaris runtuh.

Kepala Korwil Pendidikan wilayah Ulok Kupai dan Napal Putih, Purnomo, mengungkapkan bahwa para guru memilih berjalan kaki demi keselamatan, karena kondisi jembatan semakin turun dan berbahaya.

Perjuangan serupa juga dialami oleh seorang guru muda di Kecamatan Kuala Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Setiap hari, ia harus berjalan kaki melewati jalanan berlumpur hingga naik kapal dan menyeberangi sungai untuk mengajar di sekolah terpencil.

Baca Juga: Kalahkan Wakil Tuan Rumah, Amri/Nita Melaju ke Semifinal Thailand Open 2025

Meskipun terkadang terjatuh dan kelelahan, semangatnya untuk mencerdaskan anak bangsa tidak pernah padam.

Kondisi jembatan yang memprihatinkan ini telah dilaporkan kepada pemerintah setempat, namun hingga kini belum ada tindakan nyata untuk perbaikan.

Kepala Desa Pagardin, Eko Pastrio, menyatakan bahwa usulan perbaikan telah disampaikan ke pemerintah kabupaten dan provinsi, namun belum ada respons.

Warga hanya bisa pasrah dan mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat melintas.

Perjuangan para guru di Jambi ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Di tengah keterbatasan dan risiko besar, mereka tetap menjalankan tugas mulia untuk mencerdaskan anak bangsa.

Baca Juga: Ratusan Siswa SDN Bedono Sayung Belajar di Kolong Gedung Sekolah Tanpa Meja Kursi, Bangunan Diduga Digembok Kontraktor

Sudah sepatutnya kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki infrastruktur yang rusak demi keselamatan dan kelancaran proses pendidikan di daerah terpencil.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa masih banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di garis depan pendidikan, dan mereka layak mendapatkan perhatian serta dukungan dari kita semua.

Editor : Tasropi
#Infrastruktur #JEMBATAN PUTUS #Guru SD #GURU #jembatan rusak #VIRAL #perjuangan guru #jambi