Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ternyata Ini Makna Asap Hitam dan Putih dalam Konklaf Pemilihan Paus

Satria Wahyu Kusuma • Jumat, 9 Mei 2025 | 20:04 WIB
Asap hitam dan putih dari cerobong Kapel Sistina menjadi simbol penting dalam proses konklaf pemilihan Paus di Vatikan.
Asap hitam dan putih dari cerobong Kapel Sistina menjadi simbol penting dalam proses konklaf pemilihan Paus di Vatikan.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Proses konklaf yang berlangsung di Kapel Sistina, Vatikan, kembali menyita perhatian dunia.

Seiring wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 lalu, Gereja Katolik Roma memasuki masa sede vacante, periode kekosongan Takhta Suci sebelum Paus baru terpilih.

Salah satu simbol paling ikonik dalam proses ini adalah asap yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina — hitam dan putih, masing-masing memiliki makna yang sangat penting.

Asap hitam (fumata nera) menandakan belum adanya kesepakatan dalam pemungutan suara oleh para kardinal.

Sementara itu, asap putih (fumata bianca) menjadi pertanda bahwa seorang Paus baru telah resmi terpilih, mengakhiri ketegangan dan membuka lembaran baru dalam kepemimpinan spiritual umat Katolik.

Konklaf dimulai pada Selasa, 7 Mei 2025, dengan dihadiri 133 dari 135 kardinal yang memiliki hak suara.

Sepanjang dua hari pemungutan suara, umat Katolik di seluruh dunia menanti-nanti kemunculan asap dari cerobong Kapel Sistina.

Dua kali asap hitam sempat mengepul, menunjukkan bahwa belum ada satu pun kandidat yang memperoleh mayoritas dua pertiga suara.

Namun, pada Kamis, 8 Mei 2025 pukul 18:07 waktu setempat, asap putih akhirnya terlihat jelas membumbung dari cerobong kapel, disambut sorak sorai ribuan umat yang memadati Lapangan Santo Petrus.

Tak lama kemudian, Kardinal Protodiakon Dominique Mamberti tampil di balkon Basilika Santo Petrus dan menyampaikan pengumuman yang dinanti: “Habemus Papam”. Kardinal Robert Francis Prevost asal Amerika Serikat resmi menjadi Paus ke-267 dengan nama Paus Leo XIV.

Penggunaan asap sebagai simbol komunikasi dalam konklaf memiliki sejarah panjang. Profesor Clare Johnson dari Universitas Katolik Australia menjelaskan, sinyal asap telah digunakan selama ribuan tahun dalam berbagai budaya sebagai alat komunikasi—baik sebagai tanda bahaya, panggilan berkumpul, atau penyampaian pesan penting.

Dalam konteks konklaf, praktik pembakaran surat suara dimulai sejak tahun 1417. Namun baru pada abad ke-18, cerobong asap secara resmi dipasang di Kapel Sistina.

Menurut sejarawan Frederic J. Baumgartner, pada 1904 Paus Pius X memerintahkan agar semua dokumen pemilihan dibakar untuk menghasilkan lebih banyak asap putih, sehingga lebih mudah terlihat.

Karena adanya kebingungan di masa lalu—seperti pada tahun 1958 ketika asap tampak putih lalu berubah menjadi gelap—Vatikan mulai menggunakan bahan kimia khusus.

Pada konklaf 2013, juru bicara Vatikan saat itu, Federico Lombardi, mengungkapkan bahwa kombinasi bahan kimia digunakan untuk menghasilkan warna asap yang jelas dan konsisten.

Asap hitam dihasilkan dari pembakaran surat suara yang dicampur dengan kalium perklorat, antrasena, dan sulfur. Sementara asap putih berasal dari campuran kalium klorat, laktosa, dan resin kloroform.

Lebih dari sekadar tradisi, asap dari Kapel Sistina mencerminkan momen penting bagi 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.

Ia menjadi sinyal tunggal yang menyatukan perhatian umat kepada proses spiritual dan kolektif pemilihan pemimpin rohani mereka.

Kini, dengan terpilihnya Paus Leo XIV, Gereja Katolik memasuki babak baru. Dikenal sebagai imam misionaris dan administrator berpengalaman, Paus asal Chicago ini diharapkan mampu melanjutkan reformasi Gereja dan menjawab tantangan zaman dengan semangat baru.

Editor : Baskoro Septiadi
#GEREJA #vatikan #pemilihan paus #asap putih #paus #AsapHitamPekat #Paus Leo XIV