RADARSEMARANG.ID - Setelah meninggalnya Mbok Yem, sosok legendaris yang berjualan di ketinggian Gunung Lawu sejak tahun 1980-an.
Tentu duka menyelimuti dunia pendakian Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang pernah berjumpa dengan sosok ikonik tersebut.
Mbok Yem sendiri telah menjadi pemilik sekaligus penjual di warung yang terletak paling tinggi di Indonesia.
Kepergiannya jelas menyisakan rasa sedih bagi keluarga yang ditinggalkan, namun lebih daripada itu.
Tentunya kehilangan juga dirasakan oleh Temon, seekor monyet ekor panjang yang setia menemani Mbok Yem di warungnya.
Meskipun tak dapat mengungkapkan perasaannya, namun binatang ini jelas merasa kebingungan dengan ketidakhadiran orang-orang yang pernah merawatnya tersebut.
Temon adalah seekor anak monyet yang dibawa oleh warga Nganjuk saat mendaki gunung di Lawu, entah bagaimana akhirnya primata kecil tersebut dirawat dan akhirnya menjadi peliharaan dari Mbok Yem.
Temon memiliki sebuah kandang dari bambu yang terletak di dekat warung milik Mbok Yem. Tak jarang ia juga berkeliaran di sekitaran warung untuk menghibur para pendaki yang mampir.
Setelah kepergian Mbok Yem, sosok yang merawatnya sejak kecil, Temon mulai sering murung dan seolah kehilangan semangat.
Hal ini diprakarsai oleh para ahli sebagai cara primata tersebut dalam menunjukkan kedalaman emosional dengan Mbok Yem, yang akhir-akhir ini sudah tidak pernah terlihat lagi bagi Temon.
Banyak para pengguna sosial media yang khawatir dengan kondisi Temon yang sendirian di Gunung Lawu. Beberapa bahkan memposting video singkat tentang monyet tersebut yang kini nampak sendirian.
Namun, kerisauan para pendaki Gunung Lawu tersebut telah diatasi oleh pihak terkait yang selanjutnya akan merawat Temon di habitat asal monyet seharusnya hidup.
Baca Juga: Gunakan Medsos Respon Pengaduan Warga, Pernah Terima Aduan Talut Longsor hingga Serangan Monyet
Pihak Balai Konservasi setempat telah melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut dan akan membawanya ke pusat rehabilitasi.
Mengingat tanpa adanya Mbok Yem, kondisi hidup Temon sudah tak lagi ideal dan kesejahteraannya mulai dikhawatirkan oleh banyak pihak.
Kemungkinan, Temon akan dirawat di Balai Konservasi atau jika memungkinkan akan dilepasliarkan sesuai dengan kebijakan konservasi yang berlaku.
Source: Radar Surabaya, Mongabay Indonesia
Editor : Baskoro Septiadi