Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Terungkap Sebelum Pemakaman, Inilah Fakta Dibalik Penggunaan Lapisan Seng di Peti Jenazah Paus Fransiskus

Aris Hariyanto • Minggu, 27 April 2025 | 11:47 WIB
Peti jenazah Paus Fransiskus ditutup jelang seremoni pemakaman, Sabtu pagi 25 April 2025 waktu Roma.
Peti jenazah Paus Fransiskus ditutup jelang seremoni pemakaman, Sabtu pagi 25 April 2025 waktu Roma.

RADARSEMARANG.ID - Di balik kesederhanaan peti jenazah Paus Fransiskus, terselip pelajaran sunyi tentang hidup dan kematian.

Pasalnya, lapisan seng di peti jenazah Paus Fransiskus telah memicu beragam tafsir.

Lapisan seng ini bukan hanya soal prosedur atau tradisi lama. Namun telah mencerminkan prinsip hidup Paus yang tetap dijaga hingga akhir hayatnya.

Lalu, apa alasan sebenarnya di balik lapisan seng di peti jenazah Paus Fransiskus? Berikut adalah fakta-fakta yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber terpercaya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kesederhanaan pemakaman Paus Fransiskus bukan kebetulan, melainkan kehendaknya sendiri.

Selama menjadi pemimpin, Paus Fransiskus dikenal dengan sikap menolak segala kemegahan yang lazim menyertai kepergian seorang paus.

Ia meminta agar pemakamannya diselenggarakan tanpa kemewahan, tanpa hiasan berlebih. Ia ingin dikenang bukan sebagai sosok agung yang dielu-elukan, melainkan sebagai pelayan dan murid Kristus yang setia.

Biasanya, jenazah seorang paus dibaringkan dalam tiga lapis peti, cemara, timah, dan kayu ek. Namun Fransiskus memilih cukup kayu dengan lapisan seng.

Lapisan seng di dalam peti jenazah Paus Fransiskus bukan sekadar soal perlindungan. Ternyata memuat makna yang lebih dalam, sebuah pesan sunyi yang berbicara tentang prinsip hidup yang tak pernah ia tinggalkan.

Seperti dikutip dari Vatikan News, penggunaan seng memang sudah lama menjadi bagian dari tradisi pemakaman paus.

Namun dalam kasus Paus Fransiskus, tradisi itu menjelma menjadi penegasan baru atas kesederhanaan yang ia junjung tinggi.

Secara teknis, seng membantu menjaga keutuhan jenazah untuk waktu yang lebih lama. Tapi bagi Fransiskus, kehadiran seng menjadi cermin kepribadiannya sebagai seorang pemimpin yang berpihak pada kaum miskin, dan menolak kemewahan duniawi.

Bahkan, Ia pun menolak disemayamkan di atas katafalque, panggung tinggi yang biasa dipakai di Basilika Santo Petrus.

Keputusannya ini seolah berbicara lebih keras daripada seribu khotbah. Kerendahan hati dan kedekatan dengan umat tetap menjadi pilihan hidupnya sampai akhir.

Secara umum, para paus dimakamkan di Grotto Vatikan, tempat sunyi di bawah Basilika Santo Petrus yang menyimpan jejak para pendahulu. Tapi Paus Fransiskus memilih jalan berbeda.

Menurut laporan Reuters, ia menunjuk Basilika Santa Maria Maggiore di Roma sebagai rumah peristirahatan terakhirnya.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Sepanjang masa kepemimpinannya, Fransiskus sering datang ke sana berdoa dalam diam, sebelum dan sesudah setiap perjalanan besar.

Lebih lanjut, Basilika itu bukan sekadar tempat. Lokasi ini menjadi saksi bisu kedekatan batin antara seorang Paus dan keyakinannya.

Maka, pilihan itu seolah terasa alami. Paus Fransiskus kembali ke tempat yang selama ini telah menjadi pelabuhan jiwanya.

Editor : Baskoro Septiadi
#PEMAKAMAN #Basilika Santa Maria Maggiore #peti jenazah Paus Fransiskus berlapis seng #peti jenazah #Grotto Vatikan #Peti jenazah Paus Fransiskus #Basilika Santo Petrus #roma #paus fransiskus