Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seolah Tak Mau Kalah dengan Cuaca, Ilmuwan Korea Kembangkan Logam Ajaib Tahan Godaan di Suhu Ekstrem

Aris Hariyanto • Minggu, 27 April 2025 | 11:48 WIB
Ilustrasi penelitian logam ajaib atau logam super.
Ilustrasi penelitian logam ajaib atau logam super.

RADARSEMARANG.ID - Ilmuwan Korea Selatan hadirkan inovasi mengejutkan di tengah tantangan perubahan iklim yang tampak semakin ekstrem.

Mereka akan menciptakan sebuah paduan logam revolusioner yang mampu bertahan dalam suhu dari -196°C hingga 600°C tanpa kehilangan kekuatan dan fleksibilitasnya.

Penemuan ini seolah menjadi terobosan besar dalam dunia material, dan membuka jalan bagi kemajuan teknologi di berbagai sektor.

Mulai dari industri kedirgantaraan hingga otomotif, material baru ini diklaim menjanjikan ketahanan yang selama ini dianggap mustahil.

Lantas, bagaimana rahasia di balik keajaiban logam ini? Apa yang membuatnya mampu bertahan menghadapi cuaca panas membara sekaligus dingin ekstrem?

Tentunya, istilah "logam ajaib" bukanlah penamaan teknis di laboratorium. Ini lebih pada cara publik menangkap signifikansi sebuah temuan ilmiah besar.

Namun, di balik frasa populer itu, ada penelitian serius yang layak digali lebih dalam seperti yang dikutip dari laman POSTECH (Pohang University of Science and Technology).

Menariknya, penelitian terkait material tersebut telah dipublikasikan di jurnal internasional Materials Research Letters.

Material ini berbasis High-Entropy Alloy (HEA) menggunakan nikel, dengan konsep Hyperadaptor yang didesain agar tetap kuat dalam kondisi suhu ekstrem.

Profesor Kim, salah satu peneliti kunci dalam tim ini, menjelaskan secara rinci arti temuan mereka. Ia menegaskan bahwa High-Entropy Alloys (HEA) yang berhasil mereka kembangkan bukanlah material biasa.

HEA ini, katanya, "menembus batasan paduan yang sudah ada saat ini." Maknanya jelas: material ini mampu melampaui kemampuan logam konvensional yang kita kenal.

Lebih istimewa lagi, material baru ini dikategorikan sebagai kelas baru bahan yang tidak sensitif terhadap suhu.

Artinya, material ini berbeda dengan banyak logam lain yang mudah berubah sifatnya saat suhu naik atau turun drastis.

Material ini diklaim mampu mempertahankan karakteristik dan kekuatannya dengan sangat baik, serta relatif terhadap fluktuasi suhu ekstrem.

Menurut penelitian tersebut, kunci utama dari Hyperadaptor terletak pada presipitasi skala nano yang tersebar merata dalam struktur logamnya.

Endapan nano ini berfungsi sebagai penguat utama yang menghambat deformasi material, memastikan ketahanannya terhadap perubahan suhu drastis.

Selain itu, logam ini memanfaatkan mekanisme dislocation slip-induced plasticity. Maksudnya, susunan kristal dalam material tetap fleksibel sehingga tidak mudah pecah atau rapuh.

Dengan konsep ini, Hyperadaptor diklaim mampu mempertahankan bentuk dan kekuatannya dalam berbagai kondisi lingkungan.

Sementara dikutip dari laporan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Hyperadaptor berpotensi menjadi material kunci dalam industri dirgantara, otomotif, dan energi.

Seperti misalnya pesawat luar angkasa, kendaraan listrik, hingga infrastruktur pembangkit listrik yang sering berhadapan dengan kondisi ekstrem.

Meski demikian, material ini masih tahap pengembangan, dan belum bisa tahan di segala suhu tanpa batas yang mungkin ada di bumi.

Namun, kemampuannya untuk tetap tangguh dan fungsional pada rentang suhu ekstrem yang tinggi adalah sebuah lompatan besar.

Ilmuwan Korea Selatan seolah menantang batas fisika material. Sejumlah pihak menyebutnya "logam super" yang bisa diandalkan dalam kondisi ekstrem sekalipun.

Disisi lain, penelitian ini ternyata juga didukung oleh Kementerian Sains dan TIK Korea Selatan. Mereka memberikan sokongan dana penting melalui Program Pengembangan Teknologi Nano dan Material.

Tidak hanya itu, Hyundai Motor Group sebagai raksasa otomotif juga turut mendukung pendanaan penelitian vital ini.

Editor : Baskoro Septiadi
#logam super #INOVASI #PERUBAHAN IKLIM #Hyperadaptor #Temuan Ilmiah #korea selatan #suhu ekstrem #logam ajaib #ilmuwan korea