RADARSEMARANG.ID - Hari Puisi Nasional diperingati setiap tahunnya pada tanggal 28 April. Peringatan ini ditetapkan berdasarkan sosok Chairil Anwar yang wafat pada tanggal tersebut.
Pemilihan tanggal wafat Chairil Anwar sebagai Hari Puisi Nasional merupakan bentuk penghormatan terhadap karya dan jasa-jasanya yang tak pernah redup di sepanjang masa.
Namun, tidak hanya sekadar momen untuk mengenang, Hari Puisi Nasional juga ditetapkan sebagai ajakan untuk merenungkan makna-makna dalam karya-karya puisi di Indonesia.
Masyarakat juga senantiasa diajak untuk terus membangkitkan semangat dalam berpuisi dan membedah lebih dalam makna-makna di dalamnya.
Dalam hal ini, Chairil Anwar sebagai penyair legendaris Indonesia telah menginspirasi banyak pembaca melalui keberanian dan semangat perjuangannya di awal kemerdekaan Indonesia melalui karya-karya puisinya.
Salah satu puisinya yang paling terkenal adalah “Aku” dengan larik “Aku ini binatang jalang”. Larik dari puisi tersebutlah yang membuatnya dikenal dengan sebutan “Si Binatang Jalang”.
Lalu, ada juga puisinya yang berjudul “Karawang-Bekasi”. Puisi ini menggambarkan pengorbanan dan perjuangan masyarakat, terutama di Karawang-Bekasi, dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tak hanya puisi tentang perjuangan, ada juga puisi Chairil Anwar yang menyentuh hati seperti “Cinta dan Benci,” “Cintaku Jauh di Pulau,” “ Sajak Putih,” dan “Tak Sepadan”.
Chairil Anwar sangat berperan dalam perkembangan sastra Indonesia karena keberaniannya dalam mendobrak batas-batas puisi tradisional sebelum Angkatan ’45. Ia juga sosok yang gigih dalam menuntut ilmu dan senantiasa menulis hingga akhir hayatnya.
Tak hanya itu, banyak karyanya yang terlah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, menunjukkan bahwa sosoknya memiliki pengaruh yang begitu besar. Tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri.
Menariknya lagi, selain Hari Puisi Nasional yang ditetapkan berdasarkan hari wafatnya, hari kelahirannya pun ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia, yakni pada tanggal 26 Juli.
Meskipun telah tiada, keberadaannya masih tetap terasa hingga saat ini melalui karya dan pengaruhnya dalam perkembangan sastra Indonesia.
Chairil Anwar tetap menjadi sosok yang dihormati dan bersinar dalam perjalanan sastra Indonesia, terutama bagi para sastrawan yang terinspirasi olehnya.
Editor : Baskoro Septiadi