RADARSEMARANG.ID, Lily Jay, seorang public figure asal Australia, kembali menjadi sorotan setelah perjalanan spiritualnya mengundang rasa penasaran publik.
Awalnya, ia dikenal karena mengunggah video komunikasinya dengan ChatGPT di Instagram pribadinya, @real.lilyjay, pada 28 September 2024.
Dalam video tersebut, Lily tampak sedang mencari jawaban tentang makna hidup dan kepercayaan.
"Hai, ChatGPT. Saya punya pertanyaan. Bagaimana saya harus menjalani hidup saya? Haruskah saya percaya pada Tuhan? Haruskah saya menjadi ateis, agnostik?” tanyanya dengan nada penuh keingintahuan.
Ia mengaku ingin hidup bahagia dan bersenang-senang, namun juga merindukan tujuan yang jelas untuk masa depannya.
Kini, beberapa bulan setelah pertanyaan eksistensial itu, Lily tampak mengambil langkah baru dalam pencariannya.
Ia mulai mendalami Islam dan bahkan mencoba berpuasa di bulan Ramadhan, sebuah keputusan yang membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah Lily telah menjadi mualaf?
Dalam unggahan terbarunya, ia berbagi pengalaman pribadinya dengan penuh semangat, menunjukkan bagaimana ia menjalani bulan suci ini dengan hati terbuka.
Dalam perjalanannya yang ia bagikan melalui media sosial, Lily tak hanya berbagi cerita tentang puasa pertamanya, tetapi juga semangatnya untuk mendalami makna Ramadhan secara penuh.
Apakah ini pertanda ia menjadi mualaf? Simak kisahnya berikut ini!
Hari Pertama Ramadhan: Tantangan dan Semangat Baru
Lily memulai petualangannya di hari pertama Ramadhan dengan penuh antusiasme.
“Happy Ramadan! Hari ini adalah hari pertama, dan aku sangat excited untuk mencoba ini,” ujarnya dalam video yang ia unggah.
Ia memutuskan untuk mengikuti “30-day Ramadan challenge,” sebuah tantangan pribadi untuk berpuasa sekaligus mendalami manfaat dan berkah bulan suci ini.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk berpuasa, pergi ke masjid sebanyak yang aku bisa, mengunjungi panti asuhan, dan membantu orang lain,” tambahnya dengan nada optimis.
Saat ini, Lily sedang berada di Taiwan, negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Meski begitu, ia terkejut menemukan komunitas Muslim yang cukup aktif di sana.
“Masjidnya lucu banget, aku mengunjunginya kemarin. Komunitas di sini ternyata kuat dan sangat aktif,” ceritanya.
Hari itu, ia bahkan mendapat undangan untuk mengunjungi El Hardy Education Center, sebuah panti asuhan dan pusat pendidikan untuk anak-anak.
Di sana, ia bertemu dengan Sister Fatima dan anak-anak yang sedang belajar Al-Qur’an, matematika, hingga bahasa Inggris.
“Melihat anak-anak membaca Al-Qur’an dan mendengar cerita mereka benar-benar indah,” katanya sambil tersenyum.
Puasa dan Perjuangan Tanpa Kopi
Puasa hari pertama tidak berjalan tanpa tantangan.
Lily mengaku sempat pusing hebat karena berhenti minum kopi, sebuah kebiasaan yang ia putuskan untuk tinggalkan selama Ramadhan.
“Aku memutuskan untuk stop kopi sepenuhnya, bahkan di malam hari, untuk menghentikan kebiasaan buruk ini,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tetap semangat. Setelah waktu berbuka tiba, Lily berencana ke masjid di Taipei untuk iftar, tapi ternyata komunitas setempat baru mulai berpuasa esok hari karena hilal belum terlihat.
“Aku buru-buru cari tempat makan karena sudah lapar banget!” ceritanya sambil tertawa.
Karena hari itu adalah hari libur nasional di Taiwan, jalanan ramai dan restoran penuh.
Akhirnya, ia memilih berbuka dengan air putih dari 7-Eleven agar tepat waktu. “Aku nggak terlalu lapar, ternyata nggak seberat yang aku bayangkan,” katanya lega.
Setelah itu, ia menemukan teriyaki beef, sate ayam, dan bubble tea khas Taiwan di pasar malam. “Ini enak banget!” ujarnya sambil menikmati hidangan sederhana itu.
Lebih dari Sekadar Puasa: Mendekat pada Tuhan
Bagi Lily, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. “Itu cuma puncak gunung es. Ada banyak hal di baliknya,” jelasnya.
Ia ingin memanfaatkan bulan ini untuk menjauhkan diri dari hal-hal negatif seperti berkata kasar, bergosip, atau menggunjing, serta membangun kebiasaan baik seperti membaca Al-Qur’an.
“Aku ingin menyelesaikan Al-Qur’an selama Ramadhan, 20 halaman per hari,” targetnya.
Ia juga memanfaatkan keringanan salat saat bepergian dengan menggabungkan salat Zuhur dan Asar, yang menurutnya “super membantu.”
“Ramadhan adalah tentang mendekatkan diri pada Tuhan, bersyukur atas apa yang kita miliki, dan menyadari betapa beruntungnya kita,” ungkap Lily.
Ia bahkan menyebut bahwa meski seseorang bukan Muslim, Ramadhan tetap bisa jadi cara indah untuk terhubung dengan Sang Pencipta. “Aku sudah merasakan perubahan pola pikirku, dan ini baru hari pertama!”
Dukungan untuk Sesama
Di akhir ceritanya, Lily menyampaikan pesan hangat: “Ramadan Mubarak untuk semua yang berpuasa sendirian, yang baru masuk Islam, yang sakit, atau yang nggak bisa puasa. Kalau kalian butuh dukungan, hubungi aku. Kita semua saudara dalam iman.”
Sikapnya yang terbuka dan penuh empati ini membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah Lily memang telah menjadi mualaf?
Atau ia hanya sedang mengeksplorasi Islam dengan hati terbuka? Yang jelas, perjalanan spiritualnya di bulan Ramadhan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang, baik Muslim maupun non-Muslim.
Ikuti terus kisahnya untuk melihat bagaimana Lily menjalani 30 hari penuh berkah ini!(tas)
Editor : Tasropi