RADARSEMARANG.ID – Program era pemerintahan Prabowo-Gibran untuk pemenuhan gizi bagi siswa di Indonesia sudah resmi bergulir sejak 6 Januari 2025.
Dalam prosesnya ternyata, siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri Dukuh 03, Kabupaten Sukoharjo mengalami keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis pada Kamis (16/1/2025) kemarin.
Berdasarkan penelusuran, ada 10 siswa yang keracunan. Para siswa ini mengelughkan gejala mual dan sakit perut. Mereka mengonsumsi ayam goreng berbalut tepung.
Kepala SDN Dukuh 3 Lilik K menjelaskan, beberapa siswa mencium aroma kurang sedap pada ayam yang disajikan.
“Makanan yang mungkin membuat anak-anak mual itu ayam. Ada aroma yang tidak fresh. Anak-anak, terutama kelas 2 dan kelas 5, merasa mual dan sakit perut,” ungkap Lilik.
Dari total 200 siswa yang menerima program MBG, hanya sekitar 10 anak yang mengalami gejala tersebut.
Meski demikian, pihak sekolah segera mengambil langkah cepat dengan menghubungi Puskesmas dan ahli gizi untuk menangani situasi ini.
“Alhamdulillah semua tidak apa-apa. Bu bidan dan bu dokter langsung datang ke sekolah, memberikan obat, dan memastikan kondisi anak-anak. Tidak ada yang dirawat atau dipulangkan, mungkin karena proses masaknya ya. Tapi, Alhamdulillah, semua anak sudah sehat kembali,” pungkasnya.
Lalu Bagaimana tanggapa pemerintah atas keracunan di Sukoharjo ?
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi menerangkan insiden ddugaan keracunan siswa di SDN Dukuh 03 Sukoharjo ditangani dengan standar prosedur operasional (SOP) yang berlaku.
Insiden ini menjadi evaluasi yang penting bagi Badan Gizi Nasional sebagai bentuk pertanggung jawaban utama dalam kebutuhan makanan bergizi gratis.
“SOP yang diterapkan dalam MBG ini adalah sekolah lapor kepada SPPG dan puskesmas jika ada kejadian yang tidak diinginkan. Makanan langsung ditarik oleh SPPG, kemudian diganti dengan menu lain,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan kasus keracunan MBG di SDN Dukuh 03 Sukoharjo akibat kesalahan teknis pengolahan.
Setelah sudah mengetahui ada yang mual lalu semua ayam ditarik dan diganti oleh telur. Siswa yang mual ini pun langsung mendapatkan perawatan oleh petugas.
Namun Dadan belum bisa menjelaskan masalah yang terjadi dalam teknik pengolahannya.
“Detailnya menyusul ya, tetapi menu ayam krispi itu ditarik untuk yang lain dan diganti telur rebus, dan yang lain tidak mengalami seperti 40 orang,” tutupnya. (dka/bas)
Editor : Baskoro Septiadi