Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Resmi Gabung BRICS, Indonesia Menapaki Babak Baru Kerja Sama Global, Berikut Keuntungan dan Tantangannya

Tasropi • Rabu, 8 Januari 2025 | 18:25 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Indonesia secara resmi menjadi anggota penuh BRICS, menjadikannya anggota kesepuluh dari kelompok ekonomi berkembang ini.

Keputusan ini diumumkan oleh Brasil, pemegang presidensi BRICS 2025, pada Senin (6/01).

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia kini bergabung bersama Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, serta anggota baru lainnya seperti Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.

Pernyataan Resmi Pemerintah Indonesia dan Brasil

Dalam rilis resminya, pemerintah Brasil menyambut baik masuknya Indonesia ke dalam BRICS.

Brasil menekankan bahwa Indonesia akan berkontribusi dalam reformasi tata kelola global serta memperkuat kerja sama Selatan-Selatan.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) juga mengonfirmasi berita tersebut.

Menurut Kemlu RI, bergabungnya Indonesia ke BRICS akan memperkuat ketahanan ekonomi, kerja sama teknologi, pembangunan berkelanjutan, dan solusi atas tantangan global seperti perubahan iklim serta ketahanan pangan.

Apa Itu BRICS?

BRICS adalah akronim dari lima negara pendiri: Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan.

Dibentuk pada 2009, kelompok ini dirancang sebagai penyeimbang kekuatan terhadap G7, aliansi negara maju yang meliputi AS, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang.

BRICS kini mencakup hampir separuh populasi dunia dan menyumbang 35% dari produk domestik bruto (PDB) global.

Selain itu, negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Azerbaijan, dan Malaysia juga menunjukkan minat untuk bergabung.

KTT BRICS: Fokus dan Tantangan

KTT BRICS terbaru di Kazan, Rusia, Oktober 2024, menyoroti upaya memperkuat mata uang lokal dan transaksi non-dolar.

Langkah ini mengundang kritik dari Presiden terpilih AS, Donald Trump, yang mengancam negara-negara BRICS dengan tarif tinggi.

KTT BRICS berikutnya akan berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, pada Juli 2025, di mana anggota akan membahas langkah konkret untuk memperkuat aliansi ini.

Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Dengan menjadi anggota BRICS, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat pengaruhnya dalam tatanan global.

Namun, tantangan tetap ada, termasuk penyesuaian terhadap dinamika antaranggota dan kontribusi nyata dalam agenda global BRICS.

Langkah strategis ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memperkuat posisi geopolitiknya di kancah internasional.

Bergabungnya Indonesia dengan BRICS adalah langkah strategis yang mempertegas perannya sebagai kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara dan dunia.

Langkah ini membuka jalan untuk kerja sama lebih erat dalam menghadapi tantangan global serta memanfaatkan peluang ekonomi dan politik yang lebih luas.

Keuntungan Indonesia Setelah Menjadi Anggota Penuh BRICS dari Aspek Geopolitik

1. Peluang Kerja Sama yang Lebih Luas
Menurut Sya'roni Rofii, pengamat hubungan internasional dan dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, keanggotaan Indonesia di BRICS membuka peluang lebih besar untuk menjalin kerja sama internasional.

"Posisi Indonesia dengan politik luar negeri bebas-aktif memungkinkan kerja sama dengan berbagai kawasan," ujar Sya'roni Selasa (7/1).

Ia juga menyebutkan bahwa BRICS merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah G7, dengan dua anggotanya—Rusia dan China—berperan penting sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

2. Media untuk Memperjuangkan Palestina

Keanggotaan BRICS juga memberi Indonesia peluang untuk memperjuangkan agenda politik internasional, termasuk isu Palestina.

Sya'roni menilai BRICS dapat menjadi kekuatan penyeimbang terhadap dominasi negara Barat dalam tatanan global.

Dengan semangat solidaritas Global South, kelompok ini dapat menjadi penggerak diplomasi di forum internasional seperti PBB.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, juga menyampaikan bahwa banyak agenda BRICS sejalan dengan perjuangan Indonesia, termasuk mendukung kemerdekaan Palestina.

"BRICS bisa menjadi media strategis untuk mendukung isu tersebut, di samping upaya di bidang ekonomi," katanya.

3. Menjaga Keseimbangan Rivalitas AS-China

Yon Machmudi, pengamat geopolitik dari Universitas Indonesia, menyebut bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS memperkuat posisinya dalam menjaga keseimbangan antara Amerika Serikat dan China.

"Indonesia ingin memastikan keseimbangan dalam rivalitas kedua kekuatan besar itu," ujar Yon.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki relasi dekat dengan AS sekaligus menjaga hubungan baik dengan China, terutama melalui forum-forum yang dipimpin Negeri Tirai Bambu. Langkah ini strategis untuk menjaga kerja sama tanpa konfrontasi dengan kedua negara.

4. Menghidupkan Kembali Semangat KAA
Yon juga mengaitkan keanggotaan Indonesia di BRICS dengan semangat solidaritas yang pernah menjadi inti Konferensi Asia-Afrika (KAA).

"Ini mencerminkan semangat solidaritas negara-negara Selatan, seperti yang dahulu diinisiasi Indonesia dalam KAA," jelas Yon.

KAA dulu berfokus pada kerja sama ekonomi dan budaya negara-negara Afrika-Asia serta menentang kolonialisme dan neokolonialisme.

Keanggotaan di BRICS kini menjadi momen untuk merefleksikan kembali nilai-nilai tersebut, yang juga menjadi landasan pembentukan Gerakan Non-Blok (GNB).

 
Editor : Tasropi
#Kemlu RI #ketahanan pangan #brics