RADARSEMARANG.ID – Sebagaimana diketahui pada Minggu (5/1/2025) jutaan umat mengikuti puncak Haul Abah Guru Sekumpul yang ke 20 berlangsung khidmat.
Haul ini diadakan di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Banjar, Kalimantan Selatan.
Bahkan, sejak sore, jalur utama ini tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Kemacetan pun mencapai radius 3 kilometer.
Shofya, salah satu jemaah asal Kota Banjarbaru menuturkan bahwa ia harus memarkir sepeda motor di perbatasan Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
Menurut Shofya, pada Haul ke-19 Abah Guru Sekumpul pada tahun 2023, dirinya bersama ibunya masih bisa mengakses hingga radius 1 kilometer dari lokasi acara.
Sementara, salah satu relawan Zona 7 wilayah Sekumpul Ujung bernama Dayat mengatakan, penambahan jumlah jemaah yang berhadir di haul Abah Guru Sekumpul kali ini sungguh di luar prediksi.
Mengenang kisah Abah Guru Sekumpul ketika dirawat di RSUD Banjar
Ada segenggam kisa dalam perjalanan KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang sering dipanggil Abah Guru Sekumpul ketika menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura, Kabupaten Banjar.
Bahkan kisa ini merupakan kisa yang penuh makna sebagian dari pegawai RSUD tersebut.
Ketika itu, Abah Guru Sekumpul harus menjalani pengobatan cuci darah dua kali seminggu di rumah sakit daerah tersebut dari tahun 2004 sampai 2005.
Baca Juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2025, Berikut Jadwalnya
Kenangan itu disampaikan oleh seorang perawat di unit Hemodialisis RSUD Ratu Zalecha, Syahrudin mengungkapkan pengalaman tak terlupakan saat merawat Abah Guru Sekumpul.
Menurutnya, Abah Guru Sekumpul adalah sosok pasien yang istimewa, penuh ketenangan, dan pengertian kepada semua petugas bahkan pasien lainnya.
"Beliau tidak pernah marah meskipun kami terkadang kelupaan memasang alat. Justru beliau dengan sabar mengingatkan kami,” ujarnya.
Syahrudin mengatakan bahwa selama menjalani perawatan, KH Muhammad Zaini sering melakukan komunikasi dengan pasien lainnya. Mulai dari obrolan ringan hingga bercanda.
"Beliau (Abah Guru Sekumpul) sering mengatakan bahwa semua pasien cuci darah di sini adalah temannya. Bagi kami, merawat teman Abah Guru Sekumpul adalah sebuah kehormatan. Kami berharap bisa mendapatkan berkatnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abah Guru Sekumpul dalam setiap menjalani perawatan selalu menitipkan sejumlah uang untuk membantu pasien cuci darah lainnya.
"Beliau berpesan untuk membagikan uang tersebut kepada pasien cuci darah yang lain, karena beliau sudah menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga,” katanya.
RSUD Ratu Zalecha hingga kini diketahui masih menyimpan berbagai peralatan medis yang pernah digunakan Abah Guru Sekumpul selama menjalani perawatan.
Kasur yang digunakan oleh beliau pun masih digunakan oleh pasien lainnya, sementara mesin dan alat medis lain yang sudah rusak disimpan dengan penuh kehormatan.
"Semua kami peralatan medis yang digunakan Abah Guru Sekumpul masih tersimpan sebagai kenangan," ujarnya.
Dalam semasa hidupnya, perjuangan Abah Guru Sekumpul melawan penyakit bukan hanya sebuah cerita tentang ketabahan, tetapi juga tentang kasih sayang, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesame.
Diketahui, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang dikenal dengan panggilan Abah Guru Sekumpul merupakan ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan (Kalsel).
Peringatan Haul Abah Guru Sekumpul diperingati pada 5 Rajab 1446 Hijriah atau bertepatan pada tanggal 5 Januari 2025.
Warga dari berbagai wilayah termasuk dari luar Kalsel akan menghadiri Haul tahunan Guru Sekumpul di Martapura.
Beliau lahir dari pasangan Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Hj Masliah binti H Mulia bin Muhyiddin.
Abah Guru Sekumpul terkenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya pada ilmu pengetahuan di bidang agama dan sosial kemasyarakatan.
Hal tersebut dibuktikan meski sedang dalam kondisi sakit akibat gagal ginjal yang mengharuskan cuci darah 2 kali seminggu.
Abah Guru Sekumpul tetap rutin mengisi kajian keagamaan di Musala Ar-Raudhah yang didirikan tepat di depan rumahnya. Pada 10 Agustus 2005, Abah Guru Sekumpul wafat di usia 63 tahun. (dka/bas)
Editor : Baskoro Septiadi