RADARSEMARANG.ID – Gamma Rizkynata Oktafandy pelajar yang tewas usai menerima timah panas di daerah pinggulnya usai ditembakkan oleh oknum polisi di Kota Semarang. Korban Gamma merupakan siswa yang berprestasi di sekolahannya.
Korban bersekolah di SMK Negeri 4 Kota Semarang, merupakan seorang Paskibra. Korban juga pernah mendapatkan penghargaan usai mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa, Pelajar, dan Taruna Akademi Kepolisian (Porsimaptar) 2024 tingkat SMA/SMK se-Jawa Tengah.
Kasus Gamma Rizkynata Oktafandy menjadi viral dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Banyak yang menduga jika korban bukanlah seorang kreak atau gangster yang sempat disampaikan oleh Kapolrestabes Semarang.
Salah satu bentuk perhatian datang dari Panji Sastrajendra. Dirinya memberikan surat terbuka kepada, Komnas HAM, Komnas Perlindungan Anak, DitPropam Polda Jateng, SMK Negeri 4 Semarang dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Dalam surat terbuka itu, pihaknya memohon untuk kejadian oknum Polisi yang menembak hingga menewaskan Pelajar SMK 4 tidak berhenti sampai pada keterangan Press Release.
“Apalagi dalam 1 hari kemaren postingan mengenai kejadian tsb di media sosial langsung di TAKE DOWN . Entah kenapa !?,” tulis akun tersebut.
Lebih lanjut, dirinya juga meminta warga Kota Semarang untuk menggunakan logika dan empati kepada korban. Tak hanya itu saja, ia juga meminta ketika menangani kasus tersebut bisa menggunakan hati, Nurani serta kejujuran.
“Bayangkan saja jika itu terjadi pada anak Anda. Betapa pilu nya nasib korban yang kena peluru tajam sampai meninggal, betapa traumanya 2 korban yg masih selamat dari kebrutalan pelaku penembakan. 2 korban yang merupakan saksi kunci ini perlu dilindungi dan dipulihkan secara mental & psikis. Tak adakah dari pihak Polrestabes yg merasa iba atau sedikit berbelas kasihan terhadap anak² ini? Memangnya mereka tidak punya anak yang masih pelajar,” lanjut akun Panji Sastrajendra.
Terlebih, jika korban merupakan pelajar dan diframing seolah-olah korban merupakan anggota gangster atau kreak. Jika belum berhasil menemukan fakta, setidaknya Institusi tidak membuat narasi yang menyudutkan korban.
“ Di mana empati dan perasaan bapak berseragam coklat ini ? Tidak ada ungkapan bela sungkawa, tidak ada permohonan maaf scr terbuka. Di mana hati nurani kalian ?? Tidak takut kah anda dengan karma? Dan jika Anda tidak percaya adanya karma.. apakah Anda juga tidak beriman dengan adanya pengadilan akhirat,” lanjutnya.
Sementara itu, pihaknya juga meminta kepada sekolah SMK 4 Semarang untuk menunjukkan rasa empati terhadap keluarga korban. Mengingat korban merupakan anggota Paskibra.
“Paskibra merupakan oraganisasi terbaik yang dimiliki oleh sekolahan tersebut. Mengapa Kepala sekolah tidak berani membuat antitesa terhadap alibi dan narasi yg dibangun oleh institusi yang melindungi pelaku. Kenapa? Takut dipersekusi? Takut diintimidasi? Takut dimutasi ?” bebernya.
Bahkan, diakhir narasi tersebut, dirinya juga menitipkan pesan, masihkah anda percaya dengan kalimat.
"... berdasarkan keterangan saksi dan bukti yang ditemukan.." btw : saksi siapa? Bukti yang mana?
"..kita tunggu proses penyelidikan..., percayakan dengan aparat penegak hukum"
Pihaknya juga berpesan kepada pihak terkait untuk benar-benar mengusut tuntas tragedi yang menimpa, Gamma Rizkynata Oktafandy secara objektif dan independent. Agar kasus ini bisa terselesai dengan terang benderang.(dka)