RADARSEMARANG.ID, Pemilihan Presiden AS ke-47 tahun 2024 kembali mencatat kemenangan Donald Trump, mengalahkan Kamala Harris yang menjadi kandidat Partai Demokrat.
Meskipun ini bukan kali pertama seorang perempuan mendapatkan kesempatan untuk menjadi presiden, AS masih belum berhasil mencatatkan sejarah dengan presiden perempuan.
Hingga kini, isu gender tampak memainkan peran dalam mempengaruhi pilihan pemilih Amerika.
Di mata jurnalis Marion Thibaut, kegagalan Harris mencerminkan pola serupa yang juga dihadapi Hillary Clinton dalam pemilu 2016.
Menurutnya, perempuan yang maju sebagai kandidat presiden seolah terus dihadapkan pada tantangan besar, khususnya saat harus berhadapan dengan kandidat pria yang berhasil menciptakan citra maskulin, seperti Donald Trump.
Mengapa Gender Masih Jadi Penghalang?
Kampanye Harris sebenarnya diharapkan mampu menarik dukungan perempuan, terlebih dengan dukungan dari para figur publik wanita ternama seperti Beyonce dan Oprah Winfrey.
Meski demikian, pengamat mencatat, Harris tak terlalu menonjolkan statusnya sebagai calon presiden perempuan pertama, tetapi lebih fokus pada isu hak-hak perempuan, termasuk hak aborsi.
Sayangnya, pendekatan ini tampaknya belum cukup menarik bagi pemilih konservatif moderat, kelompok yang perannya seringkali krusial dalam menentukan hasil akhir.
Bagi sebagian besar pemilih yang belum siap dengan konsep presiden perempuan, faktor gender masih menjadi pertimbangan yang sulit dihilangkan.
Peran Trump dalam Menjegal Langkah Lawannya
Donald Trump sendiri tak ragu untuk memainkan strategi kampanye yang sering dipandang meremehkan lawan politiknya.
Trump dan pasangannya, senator Ohio J.D. Vance, kerap melontarkan komentar bernada kasar terhadap Harris.
Tak hanya sekadar menyebut Harris dengan sebutan "gila," Trump juga menggambarkannya sebagai calon yang lemah dan akan sulit bersaing di panggung politik internasional.
Bagi sebagian pemilih, citra kuat yang diproyeksikan Trump justru menjadi daya tarik, meskipun dibarengi isu seksisme yang disorot publik.
Kapan Amerika Akan Siap?
Meski sudah dua kali perempuan mendekati kursi kepresidenan, Amerika Serikat tampaknya belum sepenuhnya siap untuk melangkah ke babak baru ini.
Setelah 47 kali pemilihan presiden, pertanyaan besar yang masih tersisa adalah kapan Amerika Serikat benar-benar siap memilih seorang perempuan sebagai pemimpin negara.
Fenomena ini menimbulkan perdebatan di kalangan akademisi, aktivis hak perempuan, dan masyarakat luas mengenai peran gender dalam politik dan masa depan kepemimpinan Amerika Serikat.
Editor : Tasropi