RADARSEMARANG.ID, Kabar terbaru menyebutkan bahwa pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, masih hidup, membantah berbagai spekulasi mengenai kematiannya yang beredar sebelumnya, terutama yang dihembuskan oleh Israel.
Informasi ini muncul di berbagai media jazirah Arab dan Israel.
Menurut laporan, Sinwar yang mengambil alih kepemimpinan setelah Ismail Haniyeh dilaporkan telah memperbarui kontak dengan mediator dari Qatar.
Baca Juga: Hashem Safieddine, Pemimpin Hizbullah yang Baru Diduga Tewas dalam Serangan Udara Israel ke Beirut
Seorang diplomat senior Qatar menyatakan kepada media Israel bahwa informasi mengenai kontak langsung antara Sinwar dan pihak Qatar adalah keliru.
Dia menegaskan bahwa semua negosiasi dilakukan melalui Khalil al-Hayah, tokoh senior Hamas.
Dalam 15 hari terakhir, Israel menyelidiki kemungkinan kematian Sinwar setelah serangan roket pada 21 September yang menghantam sekolah di Kota Gaza, yang menampung pengungsi.
Meski militer Israel menyebut serangan itu sebagai target pusat komando Hamas, otoritas kesehatan Palestina melaporkan bahwa di antara 22 korban jiwa terdapat perempuan dan anak-anak.
Sebelumnya, informasi tentang kematian Sinwar juga dilaporkan oleh intelijen militer, dan jurnalis Israel Ben Caspit mencatat bahwa Sinwar diyakini sebagai otak di balik serangan 7 Oktober yang memicu respons militer dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Yahya Sinwar, lahir pada 1962, merupakan salah satu pendiri Hamas yang terbentuk pada 1987.
Dia pernah menduduki posisi penting dalam bagian keamanan kelompok militan ini dan dikenal dengan julukan "Penjagal Khan Younis" setelah ditangkap oleh Israel pada akhir 1980-an.
Kabar ini menandai perkembangan penting dalam dinamika konflik antara Hamas dan Israel.
Tokoh Utama Hamas
Yahya Sinwar adalah salah satu tokoh utama dalam organisasi Hamas, yang didirikan pada tahun 1987.
Ia dikenal sebagai anggota awal Hamas dan telah memainkan peran penting dalam struktur dan strategi kelompok tersebut.
Sinwar menghabiskan masa kecilnya di Khan Younis dan terlibat dalam aktivitas politik sejak usia muda.
Karier
Sinwar mulai meniti karir di dalam Hamas sebagai anggota sayap militer, Izz ad-Din al-Qassam.
Ia kemudian menjadi pemimpin keamanan kelompok tersebut, bertanggung jawab untuk menjaga keamanan internal dan menanggulangi infiltrasi dari agen intelijen Israel.
Pada tahun 1989, Sinwar ditangkap oleh Israel dan menjalani penjara selama lebih dari 20 tahun sebelum dibebaskan pada 2011 dalam pertukaran tahanan.
Setelah bebas, ia semakin aktif dalam politik Hamas dan menjadi salah satu tokoh kunci dalam kepemimpinan organisasi.
Sinwar mengambil alih pimpinan Hamas di Gaza setelah kematian Ismail Haniyeh.
Peran Dalam Konflik
Yahya Sinwar dianggap sebagai otak di balik beberapa serangan besar terhadap Israel. Ia diyakini terlibat dalam perencanaan serangan 7 Oktober 2023 yang memicu eskalasi konflik antara Hamas dan Israel.
Sinwar juga dikenal dengan julukan "Penjagal Khan Younis" karena reputasinya yang menakutkan dalam hal strategi militer.
Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Informasi mengenai kehidupan pribadi Sinwar cenderung sangat terbatas, mengingat sifat rahasia yang melekat pada aktivitas dan pemimpin Hamas.
Namun, ia dikenal sebagai sosok yang sangat berkomitmen terhadap ideologi perjuangan Palestina.
Pengaruh
Yahya Sinwar memiliki pengaruh yang signifikan dalam kebijakan dan tindakan Hamas, terutama dalam konteks perundingan dengan pihak internasional.
Meskipun terlibat dalam konflik, ia juga terlibat dalam upaya mediasi dan diplomasi, terutama dengan negara-negara Teluk, seperti Qatar.
Dengan kepemimpinannya, Sinwar terus menjadi figur kontroversial yang mempengaruhi dinamika politik dan sosial di kawasan tersebut.
Editor : Tasropi