RADARSEMARANG.ID-- Maraknya kenakalan remaja berupa tawuran di Kota Semarang disebut sebagai ajang mencari jati diri. Hal ini diungkap psikolog Indra Dwi Purnomo, Dosen Soegijapranata Catholic University (SCU).
Saat ini di Kota Semarang terjadi pertumbuhan kelompok geng yang banyak. Menurut analisis faktornya, ada beberapa penyebab.
Dari sisi internal, ia menilai anak remaja yang terlibat tawuran ini mayoritas di masa awal remaja yang baru masuk sekolah baik SMP maupun SMA.
Para kreak-kreak ini biasanya ingin bergabung pada kelompok atau geng tertentu sebagai bentuk ingin eksis.
Namun, secara internal mereka krisis identitas, lemah kontrol dalam mencari jati diri bagaimana mencari teman yang baik, dan krisis kesehatan mental yang ditangkap masa remaja dewasa awal.
"Mereka ingin eksis, saya bisa menyimpulkan mereka ingin menambah level top untuk sebuah kelompok supaya kelihatan oke dan gagah, sehingga bisa diterima di kelompok remaja itu," kata Indra kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Sedangkan, lanjut Indra, dari segi eksternal di sebabkan karena faktor lingkungan, lemahnya pengawasan orang tua dan sekolah, hingga pengaruh game online. Berdasarkan penanganannya pada beberapa anak, Indra menyebut perbuatan kenakalan remaja ini karena mereka memainkan sebuah game pada telepon genggam.
Di mana, pada game tersebut mengusung konsep solidaritas sehingga bisa dimainkan apabila bersama-sama.
"Game play ini remaja banget. Modelnya bareng-bareng, tidak bisa dinikmati sendiri. Nah mungkin dari game itu berpengaruh kepada kehidupan sehari-hari. Sehingga jika mengalami ribut pembalasannya bukan individu, melainkan secara kelompok dan memakai strategi," jelas Indra.
Akibatnya, sedikit saja terjadi konflik misalnya saling ejek di media sosial, mudah menjadi pemicu terjadinya tawuran.
Di lain hal, juga bisa merujuk penyalahgunaan miras hingga mengkonsumsi pil terlarang.
Pasalnya, mereka para remaja di bawah umur ini lemah kontrol yang menyebabkan mudah ikut ajakan teman termasuk hal negatif.
Yang perlu jadi sorotan, parahnya mereka ini justru bangga apabila perbuatan tawuran ini masuk dalam media sosial bahkan media mainstream, karena dianggap sebagai reward.
Sehingga perilaku muncul lagi lantaran ingin menunjukkan jati diri, pemberitaan justru dinilai bak mendapatkan pujian.
"Kalau di siarkan di medsos justru bangga, apalagi sampai diberitakan sangat mungkin membuat mereka terpicu mengulang lagi, ingin terlihat eksis.
Ini didasarkan fungsi berpikir otak masih perkembangan, sehingga belum optimal mengambil keputusan dan hanya didominasi emosi," papar Indra.
Dosen Psikologi SCU ini menilai, penanganan yang dilakukan tidak hanya preventif dan promotif, namun juga kuratif.
Ia memberi contoh misalnya para geng ini dipertemukan dengan seniornya yang pernah di tangkap untuk mendengarkan.
"Mereka yang sudah melakukan ini berulang tidak bisa lagi preventif, dekatkan berjenjang dengan senior. Libatkan supaya mencegah karena kalau di jalanan sudah harus upaya kuratif," jelas Indra.
Namun, jika perbuatan tawuran ini telah masuk ke tanah pidana, tentu akan ada konsekuensi hukum. Menurutnya, menyeret perkara ke meja hijau bagi anak di bawah umur adalah opsi terakhir.
Lebih penting pula dilakukan penerapan rehabilitasi, nantinya sisi kesehatan mental yang baik akan membuat perselisihan minim.
Baca Juga: Kasus Pembunuhan Mahasiswa Udinus Asal Jepara di PBU Kelud Semarang, Polisi Tangkap 12 Kreak
"Yang sudah di tangkap tidak hanya dibentak dan di proses hukum. Namun dilakukan penanganan psikologi. Kestabilan emosi perlu diintervensi, sarana penghargaan memiliki penghayatan diri, kontrol pertemanan, soft skill dan kegiatan positif. Aspek hukum jika memenuhi unsur menjadi opsi terakhir," tandas Indra.
Soal rehabilitasi psikologi, menurutnya pemerintah mesti bergandengan bersama penegak hukum, dinas perlindungan anak, perguruan tinggi yang memiliki psikiatri, dinas sosial, dan dinas pendidikan bila perlu juga melibatkan Badan Narkotika Nasional.
"Jika memang penanganan jiwa mahal untuk melakukannya dengan pendampingan kolektif bersama masyarakat. Lembaga pendidikan yang punya psikolog dan psikiater. Pemidanaan opsi terakhir," kata dia. (ifa)
Editor : Iskandar