RADARSEMARANG.ID - Kasus dugaan eksploitasi kerja di Brandoville Studios yang melibatkan Cherry Lai semakin mencuat ke permukaan.
Di media sosial, mantan karyawan Brandoville mengungkapkan berbagai bentuk kekerasan dan manipulasi yang mereka alami selama bekerja.
Pengakuan mantan karyawan Brandoville telah memicu reaksi keras dari berbagai publik dan menjadi topik hangat di media sosial.
Salah satu mantan karyawan bernama Christa Sydney mengungkapkan pengalaman memilukan selama bekerja dibawah tekanan co-owner Brandoville Studios, Cherry Lai.
Pengalaman memilukan tersebut dikumpulkan dalam satu dokumen PDF dan sejenisnya yang menunjukan beberapa bukti kekerasan Cherry Lai.
Meski demikian, Christa tidak melakukan sendirian karena suatu alasan. Dia butuh dukungan teman-temannya yang juga mengalami nasib serupa.
“Hal ini sangat menjijikkan dan harus diselesaikan di pengadilan, Cherry Lai dari Brandoville Studios melakukan kekerasan terhadap karyawannya,” tulis teman @Bisher_d790 di media X dengan utas bukti kekerasan yang dialami Christa.
Dalam utas tersebut berisi tentang pengakuan kekerasan fisik, kekerasan verbal terhadap tim di grup chat, ancaman pemecatan, hingga pemotongan bonus karyawan dan lainnya.
Christa mengungkapkan bahwa, dari gaji bulanan sebesar Rp 18,5 juta, hanya diizinkan mengambil Rp 1,5 juta sebagai tunjangan magang.
"Saya dipekerjakan kembali sebagai magang dan diberitahu bahwa saya akan menerima tunjangan magang Rp1.500.000."
"Kemudian saya menerima Rp 18,5 juta tiap bulan, tapi saya diberitahu cuma boleh ambil Rp1,5 juta.
“Dan Rp2,5 juta di salah satu bulan, dan Rp3,5 juta di bulan lainnya untuk diri saya sendiri," terang Christa seperti yang dikutip.
Tak hanya sampai disitu saja, terdapat ancaman penjara juga yang dilakukan oleh Cheery Lai kepada Christa.
“Ini ada ancaman penjara juga, terus ada bukti dia memecah belah nuduh aku jahat ke Ken (suami Cherry Lai),” ungkap Christa dalam utas tersebut.
Disamping itu, Cherry Lai juga meminta Christa untuk datang ke kantor lewat tengah malam.
Padahal status Christa saat itu sudah dikeluarkan dari perusahaan dan tidak mempunyai fingerprint access.
“Dan juga dia bilang jadi asisten hidupku jadi milik dia (basically perbudakan),” jelasnya.
Cherry Lai diduga terlibat dalam berbagai praktik eksploitasi pekerja dan kekerasan terhadap karyawannya.
Selain manipulasi gaji, ada tuduhan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan oleh Cherry Lai.
Beberapa mantan karyawan bahkan melaporkan ancaman pembunuhan yang mereka terima.
Kasus Cherry Lai Brandoville ini tampak masih terus mendapat perhatian luas di media sosial dan publik.
Banyak yang berharap agar keadilan segera ditegakkan dan para korban mendapatkan perlindungan serta kompensasi yang layak.
Sementara itu, penyelidikan oleh pihak berwenang masih terus berlanjut. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) diketahui juga sudah in-contact dengan Christa untuk menempuh jalur hukum.
Editor : Baskoro Septiadi