RADARSEMARANG.ID--Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mencatatkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).
Rekor Muri ke-11.876 ini diberikan sebagai pemrakarsa dan penyelenggara Sajian Tumpeng Nasi Jagung dengan Lauk Ayam Resep Nusantara Varian Terbanyak.
Tumpeng nasi jagung dengan varian menu ayam ini disajikan saat Dies Natalis ke-60 FPP Undip yang berlangsung di kampus Tembalang Sabtu (14/9/2024).
Tercatat ada 60 varian resep lauk ayam khas nusantara disajikan bersama tumpeng nasi jagung dan 1.964 porsi sayur bening bayam.
Piagam penghargaan dan medali diterima Rektor Undip Prof Suharnomo dan Dekan FPP Prof Sugiharto.
Sugiharto menjelaskan, menu nasi jagung dan lauk ayam dipilih sebagai simbol pertanian dan peternakan yang ke depan harus berkelanjutan.
Selama ini masyarakat Indonesia terbiasa dengan makanan pokok nasi.
Tingginya konsumsi nasi membuat kita selalu impor beras dari negara lain.
Sedangkan di dalam negeri ada alternatif pangan lainnya, salah satunya jagung.
“Dengan diversifikasi makanan, salah satunya untuk menaikkan pamor jagung. Sehingga ke depan kita tidak hanya tergantung makanan pokok pada nasi saja,” jelasnya.
Lalu untuk melengkapi makanan tentu butuh lauk.
Saat ini lauk yang mudah didapat dan murah adalah ayam.
Indonesia tidak impor daging ayam karena produksi di dalam negeri sudah berlebih dan perlu diimbangi dengan meningkatkan konsumsi daging ayam.
Sehingga dipilih menu ayam dengan resep dari berbagai provinsi di Indonesia untuk mengkampanyekan konsumsi ayam.
“Kita berharap bisa ikut membantu mendorong mempromosikan pada masyarakat untuk mengonsumsi ayam sehingga produksi yang berlebih itu bisa diserap pasar,” kata Sugiharto.
Sementara Suharnomo mengapresiasi prestasi dari FPP ini.
“Rekor ini bukan hanya sekadar pencapaian angka, tapi adalah bukti bahwa kolaborasi dan inovasi dapat menghasilkan prestasi yang luar biasa. Undip selalu berkomitmen untuk tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga pusat kreativitas yang mendukung pengembangan potensi lokal menjadi skala global,” ujarnya. (ton)
Editor : Pratono