Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Viral! Cherry Lai Brandoville Jadi Sorotan Warganet, Ternyata Pernah Eksploitasi Pekerja di 2021, Ini Faktanya

Aris Hariyanto • Sabtu, 14 September 2024 | 03:34 WIB
Brandoville studios jadi sorotan warganet atas dugaan kekerasan karyawan yang mengarah ke co-owner Cherry Lai.
Brandoville studios jadi sorotan warganet atas dugaan kekerasan karyawan yang mengarah ke co-owner Cherry Lai.

RADARSEMARANG.ID - Dunia video game Asia Tenggara kembali dikejutkan dengan berita dugaan kekerasan yang dilakukan Cherry Lai Brandoville.

Cherry Lai yang diketahui merupakan co-owner Brandoville sekaligus istri CEO Ken Lai aru-baru ini ramai di sorot warganet di media sosial.

Banyak warganet tampak mengecam tindakan Cherry Lai setelah beberapa mantan karyawan mengungkapkan pengalaman pahit mereka.

Faktanya, ternyata ini bukan kali pertama Brandoville terlibat dalam kontroversi terkait perlakuan kekerasan terhadap karyawan.

Melalui penelusuran lebih lanjut, Brandoville Studios sudah pernah dituduh menerapkan budaya crunch yang ekstrem (Crunch Culture/eksploitasi pekerja) pada tahun 2021.

Pada saat itu Brandoville merupakan anak cabang dari Lemon Sky, sebuah studio CGI yang berpusat di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tuduhan budaya crunch ini muncul setelah jurnalis game Chris Bratt melakukan wawancara dengan mantan karyawan Lemon Sky dan Brandoville, yang dipublikasikan di saluran People Make Games (PMG)

Dalam video tersebut, salah satu karyawan Brandoville mengungkapkan bahwa para pekerja diperlakukan layaknya seniman, namun seniman yang dapat dibuang, atau istilahnya “disposable art artist”.

Menurut mereka, fenomena Crunch Culture atau eksploitasi pekerja sebenarnya telah ada sejak lama. Diperkirakan mulai terjadi pada 2004 ketika kasus EA Spouse menjadi sorotan media.

Saat itu Erin Hoffman mengungkapkan pengalaman suaminya yang mengalami budaya kerja yang ekstrem di EA Studios.

Meskipun isu ini telah terungkap ke publik, kenyataannya praktik tersebut masih sering terjadi, terutama di perusahaan besar triple A kelas atas seperti Activision dan EA.

Namun, banyak pengembang game besar melakukan outsourcing ke studio independen seperti Lemon Sky dan Brandoville untuk memenuhi tenggat waktu project mereka.

Diketahui lebih lanjut, Bratt telah mewawancarai lebih dari 19 karyawan selama setahun terakhir. Baik yang sudah keluar maupun masih aktif di Lemon Sky dan Brandoville.

Hasilnya menunjukkan bahwa, praktik Crunch Culture masih berlangsung di kedua studio tersebut.

Dalam video yang diunggah PMG, seorang karyawan Lemon Sky mengungkapkan bahwa ia merasa beruntung jika bisa pulang tepat waktu.

Namun ia mengaku terkadang sering harus bekerja hingga pukul 3 atau 4 pagi di akhir pekan.

Sementara Brandoville mengakui bahwa pekerja lembur tidak mendapatkan kompensasi karena status perusahaan yang masih baru.

Beberapa karyawan juga melaksanakan lembur secara sukarela, seperti yang dinyatakan oleh mantan karyawan dalam unggahan video tersebut.

Namun demikian, dalam video tersebut mengungkapkan pembatalan jatah libur yang dijanjikan CEO Brandoville, Ken Lai, kepada karyawannya.

Usut punya usut, ternyata Cherry Lai, COO sekaligus istri Ken Lai yang meminta karyawan untuk menolak jatah libur tersebut.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah gaji yang diperoleh staf junior di Brandoville berkisar 300 USD, atau setara dengan sekitar 4 juta Rupiah.

Menurut Bratt, jumlah tersebut berada di bawah standar gaji minimum dan tidak disertai dengan kompensasi untuk jam kerja lembur.

Itu artinya, budaya Crunch Culture ini memaksa karyawan bekerja lembur secara berlebihan untuk memenuhi tenggat waktu proyek, dan sering kali tanpa kompensasi yang layak.

Beberapa mantan karyawan mengungkapkan bahwa, mereka harus bekerja hingga 60-100 jam per minggu. Termasuk akhir pekan tanpa mendapatkan upah yang sesuai.

Salah satu laporan yang paling mengejutkan adalah tentang seorang karyawan yang mengalami pendarahan saat hamil tua karena harus bekerja hingga jam 3 pagi.

Kasus tersebut menunjukkan masalah eksploitasi pekerja di Brandoville Studios sudah berlangsung cukup lama, dan kini kembali diungkapkan warganet pada 2024 ini.

Di media sosial, terpantau warganet menyebut Cherry Lai diduga melakukan berbagai bentuk bullying dan kekerasan terhadap karyawan.

Termasuk memaksa mereka untuk menampar diri sendiri dan bekerja dengan tidur hanya satu dua jam selama berbulan-bulan.

Ada juga laporan bahwa Cherry Lai tidak memberikan izin cuti kepada karyawan yang sedang hamil hingga menyebabkan komplikasi serius.

Dalam forum Reddit belum lama ini, seorang pengguna memaparkan “Saya rasa ini dimulai sekitar tahun 2000. Sekarang ini sudah menjadi praktik umum dan industri besar”.

Dari pengguna Reddit lain mengungkapkan “Kalo ada yang pengen tahu kok kena blowup sekarang, itu karyawan-karyawan yang di abuse akhirnya gk tahan dan berhenti kerja”.

Menurut mereka, ketika karyawan berpengalaman berhenti bekerja, produktivitas perusahaan terganggu dan bisa menyebabkan penutupan.

Saat mereka ingin mencari tenaga kerja baru menjadi sulit, dan pemilik perusahaan dikabarkan mendirikan perusahaan baru (LAILAI).

Hal tersebut karena reputasi perusahaan yang lama (Brandoville) sudah diketahui boroknya dan di jauhi pekerja yang mau ngelamar.

“Yang gw denger owner bikin perusahaan baru karena perusahaan lama namanya udah kesebar ancur dan di jauhi pekerja yang mau ngelamar”, ungkapnya.

Parahnya, pemilik perusahaan diketahui menyimpan dendam terhadap karyawan yang mengundurkan diri dengan melakukan teror.

Seperti mengirimkan pesanan ojek lebih dari 50 kali dalam sehari hingga ancaman pembunuhan melalui surat, meski nomor teleponnya owner telah diblokir karyawannya.

“Kalo mau bilang lapor polisi, ah udah capek ama hukum negara kita. Itu si owner perusahaan orang kaya dan keluarganya dan punya banyak koneksi” ungkapnya.

Thread selengkapnya bisa dilihat DISINI. Pastikan koneksi internet Anda lancar aman tanpa gangguan, jika memungkinkan gunakan VPN.

Editor : Baskoro Septiadi
#Reddit #Lemon Sky #Crunch Culture #People Make Games #media sosial #warganet #Cherry Lai #studio CGI #Ken Lai #Malaysia #kekerasan #eksploitasi pekerja #Bullying #brandoville #video game