RADARSEMARANG.ID—Joko Santoso atau intim disapa Joko Joss, merupakan bakal calon wakil wali kota Semarang yang berpasangan dengan Yoyok Sukawi. Pasangan yang disingkat Yok-Joss ini, diusung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus-Plus.
Disebut plus plus karena tidak hanya partai parlemen yang mendukung Yok-Joss. Tapi juga sejumlah parpol non parlemen.
Parpol parlemen yang mendukung Yok-Joss antara lain: Demokrat, Gerindra, PKS, Golkar, PAN, PKB, Nasdem, PPP, dan PSI.
Sedangkan parpol nonparlemen yang mendukung Yok-Joss antara lain Partai Hanura, Partai Garuda, Partai Gelora, Partai Buruh, Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkisan Nusantara dan Perindo.
Masyarakat Kota Semarang, banyak yang belum tahu tentang sosok Joko Santoso. Joko Santoso merupakan politisi Partai Gerindra. Saat ini, jabatannya sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kota Semarang.
Joko Joss juga aktif di ormas Pemuda Pancasila. Bahkan, pernah mendukuki jabatan sebagai Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Semarang.
Joko Santoso atau Joko Joss juga pernah mencicipi jabatan sebagai komisioner KPU Kota Semarang, sebelum akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Kota Semarang hingga saat ini.
Kisah hidup Joko Santoso, pria berkacamata minus ini, penuh liku. Ia pernah menjalani hidup di jalanan.
Bahkan pernah menjadi penjual bakso. Joko Santoso tercatat sudah menyandang status haji. Ia berlatarbelakang sarjana ekonomi dan S2 Magister Managemen.
Lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 18 April 1974 dan berzodiak Aries. Joko Santoso pernah menjadi pimpinan DPRD Kota Semarang selama periode pemilu 2014-2019. Saat ini Joko Santoso juga terpilih sebagai anggota DPRD Kota Semarang periode 2024-2029. Joko sukses mengantarkan Prabowo-Gibran, mendapat perolehan suara terbanyak di Kota Seamrang pada pilpres lalu.
Joko Santoso tinggal bersama keluarga di Jalan Cumi-Cumi, Bandarharjo, Semarang Utara. RADARSEMARANG pernah menulis perjalanan karier Joko Santoso.
Sebelum diamanahi sebagai wakil rakyat, ia pernah menjadi penjual bakso, tukang cat, sampai menjadi marketing untuk menawarkan produk.
Joko mengaku tidak malu merintis karir dari bawah namun memiliki semangat hidup untuk menjadi lebih baik. Dan terbukti ini bisa mengubah perekonomian keluarga sebelum usia 40 tahun.
“Iya saya dulu sempat jadi tukang cat, jual bakso di Mataram, kerja di koperasi. Basic-nya memang orang lapangan. Bahkan sempat juga jadi tukang tadah solar sisa truk tangki yang mengirim bahan bakar minyak,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Dari situ mental Joko terbentuk menjadi pribadi yang Tangguh. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar perekonomiannya membaik.
Akhirnya pada 2005 ia punya usaha, pengiriman solar ke pabrik pemintalan benang di Pekalongan dan Batang.
Namun cobaan menerpanya. Ketika ada kebijakan pemerintah untuk impor barang tekstil, pabrik pemintalan benang tersebut bangkrut. Usaha yang ia rintis ikut tamat.
“Uang saya juga ada yang kecantol di sana, tapi saya ikhlas karena itu juga titipan Tuhan. Lalu muncul prinsip untuk kuliah walaupun sudah berkeluarga, dari sinilah sedikit demi sedikit saya mulai bangkit,” kenang ayah dua anak ini.
Suami dari Nur Aysah Prana Dewi ini, selain orang lapangan juga memiliki segudang pengalaman organisasi.
Misalnya menjadi panitia pemilihan kecamatan (PPK) sejak 1999, Ketua Pemuda Pancasila tiga periode berturut-turut dan lainnya.
Pengalaman itu pula, ia jadikan modal untuk mendaftar menjadi komisioner KPU Kota Semarang dan berhasil mengalahkan 130 pendaftar lainnya.
“Jujur saya tidak menyangka, namun karena pengalaman yang ada saya malah dipilih sampai akhirnya berjuang di jalur politik,” tambah Ketua DPC Partai Gerindra Kota Semarang ini.
Terjun di dunia politik sebenarnya tidak ia perkirakan sebelumnya. Apalagi Joko kecil dahulu sempat menjadi seorang atlet tenis meja. Namun Karena tuntutan ekonomi, akhirnya ia memilih jalan lainnya yakni menjadi wakil rakyat yang berjuang untuk menyuarakan aspirasi warga.
Baca Juga: Jelang Pendaftaran ke KPU, Tujuh Partai Non Parlemen Ungkap Alasan Dukung Yoyok-Joko Santoso
Salah satunya mengubah persepsi masyarakat Kota Semarang terhadap tempat kelahirannya Bandarharjo yang dulu juga dikenal sebagai daerah Barutikung. Daerah yang diidentikkan sebagai daerah penuh kekerasan.
"Ya dulu tidak dipungkiri, Bandarharjo dan sekitarnya memiliki masa kelam. Namun sebenarnya banyak orang yang peduli untuk mengangkat wilayah ini menjadi lebih baik," katanya. (isk)
Editor : Iskandar