Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah dan Tradisi Rebo Wekasan, Rabu Terakhir di bulan Safar

Falakhudin • Minggu, 25 Agustus 2024 | 12:26 WIB
RABU WEKASAN
RABU WEKASAN

 

RADARSEMARANG.ID – Besok hari Rabu 28 Agustus merupakan rabu terakhir di bulan Safar.

Tak pelak kita bergegas untuk memperbanyak amalan di hari rabu wekasan tersebut.

Sedangkan Rabu Wekasan sendiri ada beberapa yang berpendapat.

Kemudian Apem dibagi-bagi kepada tetangga dan handai taulan.

Dari rangkaian kegiatan itu semua mengarah pada satu makna yang berfungsi sebagai lidaf’il bala’ atau tolak bala (menangkal marabahaya).

Bagi sebagian umat Islam Indonesia, ritual keagamaan “rebo wekasan” ini memiliki makna yang sakral.

Paling tidak, pemaknaan dari sisi teologis dijelaskan dalam sumber otoritatif (Al-Qur’an dan Al-Hadis) tentang pentingnya ucap syukur dan permohonan. 

Dalam konteks “Rabu Wekasan” ini termasuk upaya permohonan selamat dari berbagai macam jenis bahaya yang diyakini akan datang. 

Selaras dengan Prof. Habib Quraish Shihab (2006), yang menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an makna bencana memiliki pengertian dan konsep yang berbeda, seperti musibah, bala’, azab, iqob, dan fitnah. 

Misalnya, terma musibah berarti mengenai atau menimpa, secara keseluruhan dari akar katanya disebutkan sebanyak 76 kali.

Baca Juga: Dahsyat! Inilah 6 Amalan di Bulan Safar Jangan Sampai Dilewatkan. 

Al-Qur’an sendiri menggunakan kata musibah yang berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia.

Selain itu, ada terma bala’ yang berarti tampak, tersebut enam kali dalam Al-Qur’an. 

Makna yang terkandung adalah ujian yang dapat menampakkan kualitas iman seseorang.

Kemudian terma Fitnah  atau cobaan dari Allah Subhanallahu Wa Ta’ala dapat berupa kebaikan dan keburukan.

Mengutip penjelasan dari K.H. Maimoen Zubair tentang ritual Rabu Wekasan, bahwa dalam kitab Tarikh Muhammadur Rasulullah dijelaskan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika awal sakit beliau di hari rabu terakhir di bulan Shafar, yang disebut juga Arba’ Mustamir.

Selama 12 hari berturut-turut Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sakit, kemudian beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul awal.

Pada awal sakitnya, yaitu hari Rabu terakhir bulan Shafar, beliau pernah berpesan kepada Sayidina Abu Bakar Siddiq, “Bersegeralah bersedekah, karena bala’ dan musibah tidak bisa mendahului amal sedekah.

Disadari, manusia dalam perspektif antropologis yaitu sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

 

 

 

Makanan yang dibuat untuk upacara biasanya di antaranya Ketupat, Apem, dan Nasi tumpeng.

Asal dari Amalan Rabu Wekasan dijelaskan bahwa terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang amalan di hari Rabu terakhir bulan Shafar atau dikenal Rebo Wekasan, diantaranya sebagai berikut: 

-    Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917).

-    Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M).

-    Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M). 

 Baca Juga: Mengapa Hari Pramuka Diperingati Setiap Tanggal 14 Agustus? Ternyata Begini Sejarahnya

-    Na’t al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w.1910 M).

-    Al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M). 

-    Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin karya murid Hussamuddin (w. 1567 M) yang dikutip dalam kitab Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi ketika menjelaskan hukum shalat-shalat tertentu, karya ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1886), dan kitab lainnya.

Rabu Wekasan merupakan wujud Akulturasi Budaya Jawa (Islam dan Jawa).

Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa.

Editor : Baskoro Septiadi
#Tradisi #Pesisir #teologi #umat islam #Upacara #wali songo #BUDAYA #Balak #akulturasi #Safar #pantura #Agama #Maimoen Zubair #rabu wekasan #apem #Al-Qur'an #jawa #Kepala Desa #Marabahaya #SOSIAL