Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Bagus Priyana Pegiat Sejarah Magelang Tak Sengaja Dapat Koran Sin Po yang Pertama Memuat Syair dan Partitur Indonesia Raya

Puput Puspitasari • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 14:52 WIB

 

foto dokumentasi tim Film Wage
foto dokumentasi tim Film Wage

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Bagus Priyana tak menyangka, di dalam rumahnya, ia menyimpan sebuah barang bersejarah bagi perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ia mengoleksi Koran Sin Po edisi 10 November 1928. Yang di dalamnya memuat syair dan partitur lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk kali pertama.

Koleksi ini akhirnya diserahkan ke Museum Sumpah Pemuda pada 11 Agustus 2020.

Mengapa koran edisi itu begitu berharga? Sin Po adalah koran pertama yang memuat syair dan partitur lagu Indonesia Raya.

Setelah Sin Po memuatnya, kantor surat kabar tersebut sempat dibredel oleh Belanda.

Tidak berhenti di situ, Belanda memburu koran yang sudah beredar di masyarakat Batavia untuk dihanguskan. Padahal Sin Po  mencetaknya secara terbatas, hanya  5.000 eksemplar.

Bagus Priyana tak sengaja membeli satu ikat koran Sin Po cetakan tahun 1928. Isinya 15 eksemplar. "Saya beli karena tertarik itu koran Tionghoa, tapi pakai bahasa Melayu," jelasnya. 

Sayangnya, ia lupa kapan koran itu dibeli. Yang ia ingat, setiap hari tidur bersebelahan dengan koran itu. Dan berlangsung bertahun-tahun. 

"Ranjang saya bersebelahan dengan koran itu, tapi nggak tahu kalau di dalamnya ada edisi yang berharga," ujarnya. 

Pegiat sejarah asal Kota Magelang itu juga tak sengaja melihat unggahan di medsos Museum Sumpah Pemuda yang menampilkan biola milik Wage Rudolf Soepratman (WR Soepratman), sang pencipta lagu Indonesia Raya. Ia takjub. 

Bak sebuah benang merah, tahun 2018, Bagus Priyana terlibat dalam film Wage yang disutradarai oleh John De Rantau.

Ia berperan sebagai Senduk, pemuda Sulawesi, yang menjadi panitia Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Kongres inilah yang melahirkan Hari Sumpah Pemuda.

Film Wage  ini mengangkat cerita perjuangan WR Soepratman. Salah satu adegan yang membuatnya bergetar adalah ketika memegang secarik kertas, bertuliskan syair dan partitur Indonesia Raya. 

Ia juga berada di samping tokoh WR Soepratman yang sedang memainkan biola. "Ini sangat menegangkan, saya merinding sekali," akunya. 

Film ini seolah membuka cakrawalanya, bagaimana akhirnya perjalanan lagu Indonesia Raya  bisa sampai ke telinga rakyat. 

"Dari kongres itu (film, Red), saya jadi tahu bahwa partitur Indonesia Raya kali pertama dimuat di Koran Sin Po tahun 1928," ujarnya.

Selang setahun, pendiri Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) itu baru menyadari, ia punya Koran Sin Po yang dimaksud. Bagus mulai membongkar dan menemukan partitur lagu Indonesia Raya. 

"Saya langsung mengirim pesan ke medsos Museum Sumpah Pemuda tahun 2019 untuk menceritakan hal ini. Sempat di-respon, tapi setelah itu hilang tidak ada kabar," ungkapnya. 

Ia sudah berprasangka, mungkin pihak museum meragukan informasinya. Dirinya pun mengurungkan niatnya untuk kembali menghubungi museum.

"Waktu itu, saya nggak yakin akan ditindaklanjuti. Nah, tiba-tiba, pihak museum menghubungi dan menyampaikan ingin berkunjung untuk melihat langsung koleksi saya itu,” ujarnya.

“Saya langsung mikir positif, oh mungkin selama ini mereka sedang mengkaji dan memertimbangkan informasi saya," terangnya. 

Benar saja, empat orang perwakilan Museum Sumpah Pemuda benar-benar datang ke rumahnya. Mereka adalah arkeolog, sejarawan, tata usaha.

"Setelah diteliti, koran itu dinyatakan asli. Dan saya serahkan untuk menjadi koleksi museum," ucapnya. 

Ia pun trenyuh, ketika Museum Sumpah Pemuda mengumumkan bahwa Koran Sin Po edisi tersebut menjadi koleksi terbaru museum dan menjadi hadiah terindah pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2020. 

"Perasaan ini campur aduk. Karena ternyata, sejak Museum Sumpah Pemuda didirikan tahun 1973, mereka mencari barang ini, namun sulit mendapatkannya,” ujarnya.

“Koleksi itu baru mereka miliki setelah 47 tahun museum berdiri. Dan ternyata saya memiliki koran yang usianya sudah 92 tahun," ungkapnya dengan penuh bangga. 

Dirinya tak menyesali melepas koleksi itu. Bagus justru akan kecewa, jika koran itu hanya rusak di rumahnya.

"Saya yakin, koran itu lebih terawat di museum, dan akan memberikan manfaat yang lebih banyak untuk bangsa ini dan masyarakat Indonesia," tandasnya. 

Ia pun berharap, generasi muda zaman sekarang untuk kembali menengok sejarah Indonesia masa lalu, agar tak mudah bercerai-berai.

Senantiasa merawat persatuan dan bersemangat menjadi generasi emas Indonesia. (put/zal)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#lagu indonesia raya #kemerdekaan indonesia #Koran Sin Po