RADARSEMARANG.ID—Aulia Risma Lestari, dokter cantik mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Undip yang diduga bunuh diri di rumah kosnya di Lempongsari, Semarang, telah dimakamkan di kampung halamannya, di TPU Panggung, Kota Tegal.
Dugaan sementara, Aulia bundir (bunuh diri) dengan menyuntikkan obat ke tubuhnya sendiri.
Motif korban bundir diduga karena mengalami perundungan atau bullying dari seniornya.
Namun, hal ini telah dibantah oleh Rektor Undip Semarang, Prof Dr Suharnomo S.E, M.Si melalui keterangan resminya.
Baca Juga: Sederet Fakta Terkait Tewasnya Dokter Muda PPDS Anestesi FK Undip Bunuh Diri di Indekos Semarang
Bagaimana sosok dokter cantik Aulia di mata tetangganya? Abdul Rozak selaku ketua RT 02/IV,Kelurahan Mintarargen, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, mengatakan, korban merupakan anak dari pasutri Muhammad Fahruri dan Rusmiyatin.
Sehari-hari, Aulia bekerja sebagai dokter berstatus ASN di RSUD Kardinah Kota Tegal
Rozak menuturkan, Aulia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. “Adiknya perempuan juga,” kata Rozak. Aulia lahir dan besar di Kota Tegal. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Unissula Semarang.
"Dia asli dari kampung ini, sejak kecil di sini," tutur Rozak.
Naryo, 40, tetangga korban mengatakan, almarhumah sosok yang baik di lingkungan.
"Di sini dikenal baik, anaknya suka bersosialisasi. Saya kaget dengar kabar itu," ungkap Naryo.
Aulia merupakan anak dari pasangan Muhammad Fahruri dan Rusmiyatin. Sehari-hari Aulia bekerja di RSUD Kardinah Kota Tegal.
Terpisah, Plt Direktur RSUD Kardinah Kota Tegal, dr. Lenny Harlina Herdha Santi mengklaim sangat kehilangan dr. Aulia Risma Lestari.
Bagi Lenny, sosok Aulia pribadi yang baik dan menyenangkan. Aulia dikenal sosok yang ulet.
"Yang jelas kami sangat kehilangan. Kami juga menyampaikan bela sungkawa kepada pihak keluarga beliau," kata dr. Lenny kepada wartawan, Kamis 15 Agustus 2024.
Seperti diketahui, dr. Aulia Risma Lestari, merupakan mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah.
Lenny menyampaikan, dr Aulia mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk program PPDS Anestesi di Fakultas Kedokteran Undip Semarang.
Aulia bergabung di RSUD Kardinah Tegal sejak 2019.
“Anaknya santun, rajin, dan baik. Ia mendapatkan penugasan sekolah dokter spesialis anestesi. Sudah dijalani sekitar 2 tahun," beber Lenny.
Lenny mengaku tidak mengetahui penyebab almarhumah meninggal dunia. Namu diketahui pernah menjalani operasi akibat cidera tulang belakang.
Lenny menyampaikan, selama ini, informasi yang ia peroleh dari keluarga dan rekan kerjanya, almarhumah baik baik saja. Hanya saja, tutur Lenny, korban pernah mengalami cidera.
“Pada saat pelaksanaan PPDS ketika di ruang operasi, beliau melakukan aktivitas yang menyebabkan ada luka cidera di tulang belakang," kata Lenny.
Diduga, cidera yang dialami korban, membuat almarhumah merasa terbebani setiap beraktivitas. "Almarhumah sakit sudah cukup lama dan sudah dua kali operasi. Bahasa awamnya, sakit saraf kejepit," ungkap Lenny.
Korban juga dikenal sosok yang pintar. Lulus dari FK Unissula dengan IPK 3.9. Masuk di Unissula pada 2011 dan lulus pada 2014. Setelah itu menempuh pendidikan profesi dokter di kampus yang sama, Unissula, dan dinyatakan lulus pada 2015.
Kapolsek Gajahmungkur Semarang, Kompol Agus Hartono membantah kabar Aulia bundir.
Ia menyebut, Aulia meninggal diduga karena menyuntikkan sendiri obat untuk membantu tidur. Hanya saja, di sisi lain, sebuah buku harian milik Aulia ditemukan di kamar kos Aulia.
Aulia mencurahkan isi hatinya di buku harian itu. Buku harian itu memuat cerita tentang perbuatan seniornya di tempat praktik Aulia.
Kabarnya, Aulia sudah menceritakan kondisi itu kepada orangtuanya. Aulia pun berniat Untuk mengundurkan diri, karena sudah tidak kuat lagi.
Di sisi lain, Aulia tidak bisa mundur, karena terikat beasiswa. Aulia harus membayar ganti rugi berupa uang Rp 500 juta, jika putuskan mundur dari pendidikan PPDS Anestasi FK Undip.
Rektor Undip, Prof Dr Suharnomo membantah bahwa Aulia meninggal akibar perundungan seniornya. Klaim Prof Suharnomo, Aulia memiliki masalah kesehatan yang mempengaruhi proses belajarnya di Undip. (isk)
Editor : Iskandar