RADAR SEMARANG.ID, Semarang — Tirakatan dalam ilmu filsafat memiliki arti proses mencari jalan kebaikan atau kebenaran.
Selain untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI, tirakat juga dilakukan masyarakat untuk momen istimewa lainnya, misalnya hari raya keagamaan.
Tirakatan merupakan salah satu tradisi yang tekenal di Jawa.
Acara yang selalu ada dalam momen peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia kapanpun.
Secara definitif, Tirakat berasal dari kata Thariqat yang berarti suatu proses perjalanan mencari kebenaran atau mencari jalan yang benar.
Maka dapat diartikan Thariqat atau Tirakat adalah pencarian nilai-nilai kebenaran berupa nilai spirit perjuangan.
Sedangkan secara harfiah Tirakat atau Riyadhoh merupakan sebuah tingkah laku spiritual yang biasa ditempuh seseorang, guna mencapai sesuatu yang diinginkan.
Kata “tirakat” merupakan penjawaan dari kata bahasa Arab, yakni thariqat yang bermakna jalan atau jalan yang dilalui.
Tirakat memang kerap digunakan pada suatu tradisi masyarakat tertentu, tapi istilah ini lebih sering ditemukan dan digunakan di kalangan pesantren, khususnya pesantren salaf atau tradisional.
Di kalangan pesantren, tirakat menjadi pusaka andalan para santri (seorang pelajar ilmu agama yang tinggal dan belajar di pondok pesantren) yang digunakan untuk mencapai hajat tertentu.
Misal, untuk dimudahkan dalam menghafal, dicerdaskan akalnya, dimudahkan dalam menghadapi ujian, dan masih banyak contoh lainnya.
Tentu seorang santri memiliki hajat masing-masing dengan berbagai tirakatnya. Semakin besar hajatnya, maka semakin berat pula laku tirakatnya.
Ada berbagai jenis tirakat yang dikenal di kalangan pesantren, diantaranya adalah puasa Daud (Sunnah Nabi Daud), puasa Senin-Kamis, mutih, ngrowot, ngebleng, dan lain-lain.
Tirakat tersebut biasanya juga diiringi dengan pembacaan hizib, doa, ratib, isthigosah dan amalan-amalan tertentu yang diperoleh dengan cara ijazahan dari guru atau kiyai.
Sedang cara mengamalkan atau melakukan tirakat bisa berbeda-beda di antara setiap pelaku, tergantung bagaimana ijazah yang diberikan oleh guru.
Dari tradisi tersebutlah menjadi pembeda antara pesantren dengan lembaga pendidikan pada umumnya (non-pesantren).
Karena, di pesantren seorang santri tidak hanya dididik pada aspek intelektual belaka, melainkan juga pada aspek spiritual dan emosional.
Seorang santri ketika menjalani tirakat tertentu, mereka memiliki keyakinan bahwa bisa menjadikan kualitas spiritual semakin dekat dengan Allah swt.
Juga bisa cepat dikabulkan segala hajatnya, bila dilakukan dengan benar dan diselesaikan secara sempurna.
Bahkan tak sedikit seseorang yang diangkat derajatnya menjadi Wali Allah lantaran tirakat yang dia lakukan.
Dengan perjuangan dan pengorbanan besar dari para pahlawan, rakyat Indonesia berhasil meraih kemerdekaan.
Sebagai bentuk syukur dan kebahagiaan, HUT RI selalu dirayakan setiap tahunnya.
Acara ini biasanya di hadiri oleh Pejabat Desa, Mantan Kepala Desa, Para Sesepuh Desa, Serta seluruh warga setempat.
Susunan acara malam tirakatan 17 Agustus meliputi pembacaan Tahlil bersama, Pengajian, Do'a bersama, lalu dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama.
Malam tirakatan 17 Agustus adalah waktu yang tepat untuk mengenang sejarah panjang perjuangan para Pahlawan Bangsa kita, yang dengan semangat dan rela berkorban membawa kita meraih Kemerdekaan.
Momen ini mengajarkan kita untuk tetap bersyukur atas keberhasilan yang kita capai sebagai bangsa merdeka.
Semangat kemerdekaan bukanlah hanya sekedar kata-kata, akan tetapi merupakan komitmen untuk terus membangun negeri ini dengan tangan-tangan yang kerja keras dan pikiran yang cerdas.
Selain diisi dengan kegiatan do’a bersama malam tirakatan 17 Agustus biasanya mendengarkan cerita sejarah, hingga pentas seni.
Dikutip dari Sejarah 3 SMA Kelas XII, Sardiman (2008:13), pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Baca Juga: Dahsyat! Inilah 6 Amalan di Bulan Safar Jangan Sampai Dilewatkan.
Selain itu acara ini juga diisi dengan sambutan dari tokoh setempat dan makan bersama. Salah satu jenis makanan pada malam tirakatan adalah tumpeng. (fal/bas)
Editor : Baskoro Septiadi